Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 26 : Pelarian


__ADS_3

Natasya duduk selagi menaikkan kakinya di meja, dia seutuhnya terlihat liar dan sulit diatur walau demikian beginilah gambaran petualang yang diingat Adi di game ataupun di novel-novel tertentu.


Riho yang menatap dari sudut matanya menggelengkan kepalanya.


"Dia memang seperti ini."


"Tidak masalah, aku tidak keberatan... kalau begitu aku akan menjelaskannya."


Adi secara singkat mengatakan keinginannya tentang membawa elf dan Dwarf ke wilayahnya.


"Kau sepertinya bukan bangsawan yang bodoh, apa kau berpura-pura?"


"Kesampingkan hal itu, bagaimana menurutmu?"


Natasya diam memikirkannya sesaat sebelum membuka mulutnya.


"Sepertinya kamu beruntung, dari yang aku dengar beberapa elf telah meninggalkan wilayah barat, kamu bisa meminta mereka tinggal di sini."


"Elf di luar wilayahnya?" Riho menunjukan keterkejutannya.


"Kau tahu ada sedikit masalah tentang wilayah elf saat ini, aku diusir dari sana karena mempelajari sihir Necromancer. Dan selanjutnya yang mereka usir adalah pewaris kerajaan... orang-orang yang mendukungnya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tanah mereka."


Riho tampak kebingungan dengan penjelasan yang sedikit ambigu namun bagi Adi dia bisa menerkanya dengan baik.


"Maksudmu para petinggi mengusir elf dengan rambut perak."


"Ya ampun, bagaimana kau tahu? Kau memiliki pengetahuan lebih di sana, Elf dipilih atas garis reinkarnasi... petinggi elf sepertinya bekerja sama dengan keluarga pemimpin sebelumya untuk menggulingkannya, mereka bahkan memfitnahnya terlibat kejahatan."


"Adi apa itu garis reinkarnasi?" bisik Riho.


"Tidak seperti manusia, pemimpin elf diputuskan dari warna rambut, jika seseorang memiliki rambut perak mereka akan dianggap sebagai reinkarnasi dari Karina Erkana, dia merupakan pendiri wilayah elf pertama."


"Jadi begitu."


"Aku bisa mengantarmu ke sana sebagai misi guild kebetulan aku mengetahuinya."


"Walau kamu diusir kau masih bisa berhubungan dengan mereka?"


"Di sana ada keluargaku jelas aku tidak mungkin mengabaikannya."


Di samping kasar, Natasya jelas orang yang baik.


Adi meminta untuk Riho mengurus dokumen persiapan misinya dan keesokan paginya ia telah meninggalkan wilayah khusus dengan sebuah kereta yang dibawanya sendiri. Tak hanya bersama Natasya, Adi juga membawa Mebel ikut bersamanya, ia seorang elf dan juga pemimpin mereka sebelumnya, setidaknya Adi berharap ia bisa sedikit mengetahui kejadian setelah ia meninggalkan rumahnya.


Natasya berkata seolah dia menemukan pencerahan.


"Sekarang aku mengerti kenapa Adi bisa tahu soal elf, ternyata kamu memiliki budak elf."


Mebel segera menyembunyikan tanda budaknya.


"Aku tidak mempermasalahkan elf yang diperbudak, lebih dari itu berapa umurmu?"


Mebel menatap sinis terhadap Natasya yang seenaknya mencoba dekat dengannya.

__ADS_1


"Kenapa aku harus mengatakannya padamu?"


"Terkadang manusia salah mengira kita abadi, kita hanya memiliki masa hidup yang lebih panjang saja, aku hanya ingin tahu siapa yang lebih tua dari kita."


Jelas sekali Mebel tidak tertarik dengan perkataan konyol seperti itu, di lihat dari luar entah Natasya atau Mebel hanya terlihat seperti gadis dipertengahan belasan tahun.


"Dasar tidak ramah, ah... di depan belok kiri."


"Bukannya petunjuknya belok kanan."


"Di sana ada lumpur hisap beberapa orang langsung terjebak sebelum mereka mengetahuinya."


Adi menuruti instruksi yang diberikan Natasya. Ketika mereka berhasil melewati hutan sebuah raungan terdengar. Mebel buru-buru mengikuti pandangan Adi dan melihat puluhan ikan paus terbang di langit.


"Itu?"


"Paus Biru, paus yang hidup di atas langit... mereka sangat sulit dilihat, terakhir kali aku melihatnya saat kecil... begitu nostalgia," balas Mebel demikian.


"Kemana mereka pergi?"


Natasya yang menjawabnya.


"Ke suatu tempat yang misterius, jauh di atas langit konon ada sebuah pulau luas yang dihuni orang-orang, namun sejauh itu tidak ada yang bisa membuktikannya."


Adi merasa bahwa dunia ini benar-benar luas, setelah kepergian hewan tersebut Adi bisa melihat sebuah menara putih yang menjulang tinggi, bagi Adi yang menyukai petualangan ia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.


Natasya hendak menjawabnya namun mulutnya lebih dulu ditutupi oleh tangan Mebel.


"Itu disebut sebagai menara surga, Karina adalah salah satu tujuh Sage legendaris, selain membuat wilayah elf ia juga membuat menara itu, siapapun yang bisa menaikinya dikatakan satu keinginannya bisa tercapai."


"Di atas menara itu hanya diisi oleh buku, keinginan yang dimaksud Karina hanyalah pengetahuan, dengan pengetahuan apapun kamu bisa mengabulkan keinginanmu sendiri."


Keduanya saling menatap satu sama lain dengan permusuhan. Adi berfikir mungkin mereka berdua hanya mencoba saling bersaing siapa yang mempunyai pengetahuan lebih jauh.


"Sayangnya sekarang menara itu diambil alih oleh para iblis, siapapun akan sulit mendekatinya."


Pengaruh Iblis memang sudah semakin besar, Adi meninggalkan pembahasan tersebut untuk fokus dalam misinya yang lain.


Ketika mereka memiliki waktu untuk beristirahat Adi akan selalu bertugas untuk membuat makanan, saat ini yang dia buat adalah menu sederhana yang disebut sebagai sayur asem.


Dia mengeluarkan kompor portabel untuk pertama kalinya beserta mejanya sekaligus. Jika dia ingin setiap wilayah khusus ia bisa memberikan semua barang apapun hanya saja itu akan terlihat mencolok jika ia melakukannya.


Tetap terlihat lemah telah menjadi moto hidupnya.


Ketika dia selesai akan ada satu tambahan mulut di sana yang merupakan dewi pengangguran sejati.


"Tolong tambah."


Natasya memucat, dan berfikir darimana orang ini muncul?


Hantu kah? Dan memilih mengabaikannya.


"Aku juga, rasanya seperti makanan ibuku."

__ADS_1


"Kalian bisa tambah sebanyak apa yang kalian inginkan."


Mebel terlihat frustasi.


"Apa kalian tidak merasa bahkan kita gadis tidak bisa memasak seperti ini."


"Siapa peduli, keahlian kita hanya akan terlihat bagus di atas ranjang."


"Benar sekali."


Adi merasa bahwa moral di dunia ini sudah jatuh terlebih saat mendengarnya dari dewinya sendiri, setelah menyelesaikan makanannya mereka kembali melanjutkan perjalanan, perlu beberapa hari untuk mencapai lokasi dimana para elf pengungsian tinggal ketika mereka sampai suasana jauh dari kata layak.


Semua orang terlihat memiliki wajah suram di wajah mereka, beberapa orang duduk dengan pandangan kosong.


Natasya mendecapkan lidahnya.


"Sudah aku duga akan seperti ini, mereka elf rumahan jika mendadak keluar mereka akan mudah cemas."


Mebel menatap jauh seolah dia melihat dirinya sendiri, ia juga merasa ketakutan saat harus memilih menjadi budak.


Mereka turun dari kereta untuk menemui seorang elf yang sudah tua, usia tua elf sekitar 10.000 tahunan, ketika mereka seperti itu jarang untuk melihatnya berkeliaran di kota.


"Baba lama tidak bertemu, kau semakin cantik."


"Seperti biasa perkataanmu tidak ada sopan-sopannya."


"Maaf soal itu, biar aku perkenalkan mereka, yang ini Adi, Mebel dan juga yang ini hantu."


"Hantu jidatmu, namaku Mesna."


"Mesna? Bukannya namanya mirip dengan dewi dari kota suci."


"Benarkah, aku pengikut dewi Iris aku tidak tahu dewi selainnya."


Adi menahan tawanya dan Mesna segera menyikut perutnya.


"Mereka ingin berbicara denganmu."


Tatapan Baba melirik ke arah Mebel, ia merasa sedikit mengenal gadis tersebut sayangnya dia tidak bisa mengingatnya.


"Silahkan ikuti aku."


"Baba, kapan kau mati? Boleh aku mengambil tubuhmu untuk aku kendalikan."


"Jika itu terjadi aku akan lebih dulu membunuhmu."


"Menakutkan sekali."


"Elf dilarang menggunakan sihir necromancer tapi kau malah menggunakannya, kau ini waras kah."


"Aku seorang pemberontak."


"Jangan malah bangga."

__ADS_1


Adi berfikir mungkin orang yang dimaksud keluarga Natasya ialah Baba ini.


__ADS_2