Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 67 : Serangan Akhir


__ADS_3

Sudut pandang Adi.


Adi merapalkan sihir penguat yang hampir membuat tubuhnya kesulitan untuk menahan bebannya, kekuatannya diperkuat 10 kali lipat termasuk kecepatan serta keakuratan serangannya. Memang benar perkembangan Adi terbilang pesat berkat kemampuan rahasia yang diberikan oleh Mesna, kendati demikian ia belum berada ditahap dimana ia bisa mengendalikannya dengan baik.


Darah mengalir di hidungnya saat dia menghentakkan kaki dengan gelombang sonic. Ia hanya memikirkan bagaimana cara melawan musuh di depannya serta menanggulangi pedang yang tidak terlihat milik Kaisar.


"Percuma."


Trang... trang, trang.


Kilatan muncul dari benturan tersebut.


"Aku akui kau sangat kuat sebagai seorang pahlawan baru hanya saja pengalamanmu bahkan belum sampai ke tahap bisa sejajar denganku."


Lingkaran sihir muncul di atas kepala Adi, itu bukan miliknya melainkan milik Kaisar yang masing-masing menembakan sihir tanah yang dibentuk menyerupai sebuah bebatuan mengerucut.


Adi menanggulanginya dengan drone miliknya dalam posisi bertahan sebelum akhirnya keduanya melompat mundur.


Adi mengarahkan tangannya menciptakan lingkaran sihir 10 lapis.


"Fire Bolt."


Bola api ditembakan dari lingkaran pertama ke lingkaran ke dua dan seterusnya, setiap melewati satu lingkaran, bola api tersebut bertambah besar hingga mencapai seukuran satu rumah.


"Kau menanggulangi kelemahanmu dengan cara seperti itu, sungguh menarik... sayangnya apapun sihir yang diarahkan padaku, semuanya tidak berguna saat berhadapan dengan pedang milikku."


Seperti apa yang dikatakan Kaisar, hanya satu ayunan bola api yang dibuat Adi terbelah dua, tidak hanya sihir tersebut, tubuh Adi sendiri menyemburkan darah ke udara.


Topeng yang digunakannya terbelah dua dan jatuh ke tanah begitu saja. Rinko yang diam-diam sudah bergerak dari belakang Kaisar melompat untuk memberikan tusukan menembus tubuh Kaisar.

__ADS_1


Kaisar sendiri tidak terpengaruh dengan hal itu dan ia malah menusukan pedangnya sendiri padanya hingga menembus tubuh Rinko juga.


"Sudah aku katakan aku tidak akan bisa mati."


"Kalau begitu aku hanya perlu membunuhmu dengan cara berbeda."


"Apa yang?"


Perlahan tangan Rinko mulai membeku dan secara perlahan juga menyebar ke tubuh Kaisar.


"Meski tidak akan mati paling tidak kau tidak akan bisa bergerak lagi saat seluruh tubuhmu membeku."


"Kau sudah gila, kau ingin mengurung dirimu juga."


"Itu lebih baik, dari awal pahlawan dituntut untuk siap menerima kematiannya, kurasa ini waktu yang tepat."


"Jika kita mati, dunia ini benar-benar akan hancur oleh para iblis."


Orang yang dimaksud hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang akan dilakukan Rinko. Mesna menyela.


"Dia merubah energi kehidupannya menjadi es, apa kita akan membiarkannya saja?"


"Tentu saja tidak, aku harus mencegahnya," ucap Adi menerjang maju. Namun, beberapa langkah berikutnya dia diterbangkan oleh sebuah bongkahan es.


"Jangan ikut campur Adi, ini jalan satu-satunya untuk merubah dunia ini."


"Dengan mengorbankan dirimu, jangan bercanda! Apanya merubah dunia jika kau sendiri harus mati."


"Pengorbanan harus dilakukan untuk mencapai sesuatu."

__ADS_1


"Aku membenci pikiran seperti itu, aku akan mencapainya tanpa mengorbankan siapapun."


"Kau terlalu naif dan serakah Adi."


Darah menyembur dari mulut Rinko, ketika dia pasrah dengan keadaannya. Berfield, Markes dan juga Liza muncul untuk menyelamatkannya, masing-masing berusaha memisahkan tubuh Rinko dari Kaisar.


"Kalian semua?"


"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau mati, paling tidak kau harus kembali bersama kami."


"Yang dikatakan Markes benar, kita harus pulang bersama."


"Liza."


"Aku tidak suka ini, mari selesaikan semuanya dengan cepat," tuntut Berfield.


Melihat bagaimana tangan ketiganya turut membeku, Rinko memilih membatalkan sihirnya dan dalam waktu yang sama Kaisar menghempaskan mereka menjauh darinya.


"Sial...yang barusan benar-benar tidak terduga, lebih baik aku bunuh kalian semua dengan cepat."


Dari atas langit meteor yang lebih besar bersiap jatuh ke bawah, tidak seperti sebelumnya serangan ini pasti akan membunuh siapapun di radius 5 km. Kaisar sendiri yakin bahwa sarang phoenix akan baik-baik saja jika tidak terkena langsung, sayangnya hal itu berubah saat Elsa datang dengan benda yang tidak terduga.


"Tuan! Hancurkan sarang ini!" teriak Elsa melemparkan sebuah sangkar yang di dalamnya terdapat sebuah jantung yang terlilit sebuah rantai.


Kaisar segera berlari untuk menghentikannya, namun jelas hal itu sudah terlambat, Adi mengayunkan pedangnya di udara yang mampu membelahnya menjadi dua bagian.


Kaisar berteriak saat tubuhnya mulai hancur lalu berubah secara perlahan menjadi debu.


"Mustahil, aku seorang penguasa, seharusnya aku tidak terkalahkan... tidak!!!"

__ADS_1


Bersama teriakannya tubuhnya lenyap tersapu angin.


__ADS_2