
Setelah seharian tertidur di kamar, Mesna mulai menuruni tangga ke lantai satu namun di sana dia tidak menemukan siapapun berada. Baginya ini bukan hal aneh, semenjak salju turun semua orang memang berada di rumah akan tetapi saat salju berhenti mereka akan pergi ke wahana bowling ataupun wahana tenis meja dan lainnya.
Yang jelas ini keseharian yang biasanya.
Mesna menguap selagi memeriksa area luar rumah dari jendela dan rasanya dia sedikit senang saat melihat tumpukan salju putih tersebut.
"Kau benar-benar bersantai," suara yang kekanak-kanakan dan dingin itu menusuknya dari belakang.
"Ya ampun, dewi Iris kamu datang mengunjungiku.. aku senang loh."
Mesna berbalik untuk memperhatikan seorang gadis kecil dengan gaun berenda sedang duduk di sofa sembari memeluk boneka kucing, dia memiliki rambut emas panjang yang diikat sedemikian rupa membentuk pola twintail.
Dia terlihat seperti gadis kecil begitu juga pesonanya, walau begitu dia tetap saja seorang dewi bahkan itu cukup membuat siapapun merasa tidak ingin membuat masalah dengannya.
Mesna berjalan mendekat, pakaian tidurnya menghilang menampilkan seluruh tubuhnya yang telanjang sebelum akhirnya tertutup kembali dengan gaun saat dia duduk berhadapan dengan gadis kecil tersebut.
"Bukannya pengikutmu terlalu melebihkan dirimu soal penampilan."
"Aku tidak bisa menyangkalnya tapi itu juga bagus, aku tidak ingin sampai akhirnya pengikutku dikatakan lolicon."
Mesna menanggapinya dengan tertawa kecil.
Jika melihat patung Iris di ibukota demi-human, penampilannya benar-benar berbeda.
"Aku hanya datang menyapa dan juga mengeluh, kenapa kamu memanggil pahlawan ke dunia ini? Bukannya kamu bilang tidak akan memanggil siapapun dan menyerahkan semuanya padaku?"
"Ini demi pengikutku."
__ADS_1
"Pengikut?" Iris memiringkan kepalanya dengan wajah polos yang menggemaskan.
Jika di sekitar mereka ada seorang lolicon ia akan terlihat seperti harta karun untuknya.
"Di suatu tempat seorang gadis memintaku untuk mengirimkan satu pahlawan demi merubah dunia ini, aku memilih untuk melakukannya, kamu mungkin tahu siapa gadis tersebut?"
"Dia gadis yang selalu ensentrik, pemimpin dari kota suci kan."
Mesna tersenyum kecil lalu mengambil teh yang entah sejak kapan muncul diantara keduanya.
"Meski dunia ini terus mendapatkan pahlawan namun tidak ada yang berubah, aku harap dengan satu pahlawan dariku bisa sedikit merubah keadaan."
Iris mendesah pelan kemudian saat Mesna menatapnya lagi dia sudah menghilang.
"Benar-benar dingin."
Setelah berpamitan dengan Okami, kelompok Rinko telah sampai di wilayah timur, dia mengibaskan salju yang menumpuk di bahunya sebelum berjalan memasuki kota bersama yang lainnya dengan mantel tebal menutupi tubuh mereka.
Apa yang digambarkan dari kota ini adalah bangunan tradisional adat cina, karena jalanan tertutup salju tidak banyak orang yang mau keluar kecuali para penjaga kota yang dituntut oleh pekerjaannya.
Rinko membawa mereka masuk ke sebuah tempat hiburan di mana di sekelilingnya di penuhi orang-orang mabuk, beberapa penari turut menghibur mereka.
Berfield tersenyum masam.
"Walau dingin tempat ini terasa panas."
Seorang manajer toko berpenampilan rapih menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Kami sedang mencari gadis ini, apa kamu bisa memberitahu dimana kami bisa menemuinya?"
Foto yang diberikan oleh Rinko adalah foto yang menampilkan seorang gadis dengan rambut merah muda berpakaian sederhana.
"Jika tidak salah namanya Yue Ling?"
"Aku tidak pernah melihatnya, kemungkinan ia bukan warga kota."
Rinko memegangi topinya.
"Lucu, beberapa orang pernah melihatnya ada di sini."
Saat dia mengatakannya beberapa orang telah mengerumuni mereka, hanya dalam hitungan detik mereka dikalahkan oleh kelompok Rinko.
Manajer mundur sampai punggungnya menyentuh dinding.
"Kau tidak bisa kabur lagi, sekarang katakan yang sebenarnya?"
Dituntut oleh perkataan Rinko, manajer tersebut menyeringai. Dari tubuhnya aura gelap menyelimutinya.
"Aku pikir kau tidak akan tahu apapun, pahlawan Rinko."
Bersamaan itu tempat hiburan itu meledak yang membuat seluruh kelompok Rinko terlempar, dari atas langit sebuah bayangan muncul kemudian menjatuhkan iblis raksasa dengan tinggi 30 meter.
Markes tersenyum masam.
__ADS_1
"Oi, Oi, kau pasti bercanda... kita harus mengalahkan makhluk setinggi itu, di udara dingin seperti ini, sangat tidak lucu."