Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 54 : Pahlawan Dengan Enam Pedang


__ADS_3

Di dalam hutan kami tidak sengaja berpapasan dengan pasukan raja iblis, mereka terlihat sedang berkemah dengan empat orang bertugas sebagai pengawal.


"Jadi apa sebaiknya kita mengambil jalan lain?" tanya Berfield.


"Tidak, jika kita bertemu dengan mereka lebih baik kita habisi... anggap saja kita mengurangi jumlah musuh di masa depan nanti," kataku demikian.


Ketiganya mengangguk mengiyakan sebelum bergerak bersamaku yang lebih dulu maju ke depan.


Para iblis penjaga tersentak namun sudah terlambat untuk mengantisipasi serangan kami, aku melompat ke udara menikam salah satunya hingga cipratan darah menyembur ke wajahku. Tanpa sadar aku menyeringai senang.


"Habisi semuanya tanpa ampun."


Begitulah kami membantai dua puluh iblis tanpa ampun, Markes berteriak dalam tenda.


"Di sini ada anak kecil?"


Aku memeriksanya dan melihat bahwa ketiga orang yang aku bawa sedikit simpati padanya.

__ADS_1


"Mereka membawa anak-anak dalam peperangan," sebelum mereka lengah aku telah memenggal anak tersebut hingga kepalanya jatuh ke samping dengan darah menyembur ke atas.


Semua orang menjerit tapi aku tidak peduli.


"Ini mungkin pertama kalinya kalian melihat iblis seperti ini, mereka hanya mengambil bentuk seperti itu untuk mengelabui kita."


"Bagaimana kamu tahu itu Rinko?" giliran Markes yang bertanya.


"Di masa lalu beberapa pahlawan melakukan hal seperti yang kalian lakukan, mereka memindahkan beberapa anak ke dalam kota dan yang terjadi seluruh manusia di kota itu dihabisi."


"Mustahil?"


Ketiganya menelan ludah saat aku mengatakan sebuah kebenaran, suatu hari aku diajak oleh pahlawan lain tanpa sepengetahuan kaisar, tadinya aku ingin mencoba membuktikan bahwa aku tetap berguna sebagai pahlawan meskipun seorang wanita, namun ketika misi dilakukan aku menemukan mayat-mayat manusia yang digantung layaknya di dalam toko daging, rekanku juga dihabisi karena rasa simpati.


Begitulah pemandangan peperangan ini, siapapun yang ragu walaupun sedetik kematian adalah balasannya.


Aku menambahkan dengan kedua mataku yang bersinar biru cerah sementara pijakanku mulai membeku.

__ADS_1


"Di perang ini simpati maupun rasa kasihan tidak dibutuhkan, satu hal yang harus kalian pikirkan hanyalah membantai semuanya tanpa sisa."


Semenjak mereka mengambil pekerjaan ini, tidak ada jalan lagi untuk kembali. Dalam hati kemungkinan ketiganya berharap bahwa orang-orang yang kami temui sebelumnya mau bergabung.


Mengalahkan kekaisaran dengan empat orang, rasanya seperti kami bermimpi di siang bolong namun aku memiliki rencana setelah Elsa memberikanku peta yang aku butuhkan.


Dua hari berlalu dan kami sampai di sebuah pondok yang berada di sisi tebing, pondok ini telah diberitahukan pada Elsa, jika mereka memutuskan ikut seharusnya dalam tiga hari berikutnya mereka akan tiba. Sementara kami menunggu kami akan beristirahat di sini.


Kami meletakan barang-barang kami lalu makan bersama dengan hidangan sup yang dibuat oleh Liza.


"Silahkan."


"Terima kasih."


"Ngomong-ngomong Rinko, apa kau yakin mereka akan bergabung dengan kita?" tanya Liza.


"Entahlah, kita masih belum tahu tujuan mereka.. bisa saja mereka lebih buruk dari iblis."

__ADS_1


"Bagiku mereka tidak memiliki niat jahat," balasnya kembali.


Aku juga ingin mempercayainya namun selalu ada celah untuk sebuah keraguan, aku harus memastikan siapa sebenarnya pemimpin Elsa dan Misa sebelum aku benar-benar yakin akan hal itu.


__ADS_2