
Satu tahun setelahnya Alex duduk di kursi sembari melirik satu tangannya, tidak seperti tangan manusia tangannya telah berubah bentuk sesuai apa yang dimiliki seekor monster. Jarinya-jarinya hanyalah cakar tajam dan ukurannya sepuluh kali lipat dari tangan biasanya.
"Jadi kekuatan monster seperti apa yang kau berikan padaku?"
Lumina yang sibuk dengan penelitiannya menjawab.
"Namanya Wolf Blast, dia monster yang hidup saat era kuno kebetulan aku menemukan puing-puingnya saat membuat dungeon."
"Era kuno kah? Era dimana manusia lebih banyak dibandingkan sekarang."
Alex merubah kembali tangannya saat namanya dipanggil Lumina.
"Ngomong-ngomong kau tidak tertarik dengan yang aku buat, mereka bukannya sangat cantik, aku akan menamainya No.11 dan ini No.12."
Alex mengalihkan pandangannya dan melihat dua wanita yang berada di dalam tabung, masing-masing dari mereka telanjang serta banyak semacam kabel-kabel di sekitarnya.
"Aku tidak ingin mengatakannya tapi kau sudah terlalu berlebihan, bukannya sebelumnya percobaan untuk membuat manusia buatan gagal."
"Sekarang berbeda, aku membuat keduanya dari inti dungeon dan mereka kaya akan kehidupan, bayangkan jika mereka hidup seperti manusia pada umumnya."
"Kau benar-benar."
Alex menggosok rambutnya kasar sembari mendesah pelan.
__ADS_1
"Lalu soal dungeon, apa masih belum selesai?"
"Satu tahun lagi aku pasti akan menyelesaikannya, jika umat manusia tidak bisa mengalahkan iblis maka aku akan mengevaluasi mereka ke dalam dungeon."
Lumina tiba-tiba berteriak membuat Alex sedikit terkejut.
"Ada apa?"
"Energinya tidak cukup, aku harus mengambil beberapa kristal energi di pertambangan."
"Jangan gegabah, kau tahu pertambangan dikuasai Kabold, aku ikut."
"Kau khawatir padaku?" kata Lumina dengan gaya menggoda.
"Itu bukan perkataan yang akan diucapkan anak seusiamu."
"Memangnya salah siapa?"
Alex dan Lumina membeli beberapa makanan sebelum melakukan perjalanan ke luar kota, pertambangan sendiri telah ditutup sejak lama dan orang-orang lebih membeli kristal dari pedagang yang lewat.
Tidak ada yang menjamin kapan pedagang itu muncul, dan jika pun ada, harganya relatif akan mahal.
Seekor goblin melompat dari semak-semak menargetkan keduanya, dengan satu ayunan tangan Alex tubuhnya terpotong-potong seolah ditebas pedang tajam.
__ADS_1
"Mengejutkan, tidak disangka ada goblin di sana."
"Jika ada satu goblin kemungkinan ada yang lain di sekitar, aku akan mengatasi semuanya."
Alex merubah kakinya dan dia bergerak dengan cepat, para goblin tampak kebingungan saat sesuatu yang tidak bisa mereka lihat mencabik mereka seperti hewan buruan.
Salah satu berteriak sembari berlari dengan senjatanya berusaha menyerang Alex, sebelum dia bisa melakukanya sebuah lubang di tanah menelannya hidup-hidup.
Itu merupakan kemampuan Lumina yang jarang dia gunakan.
"Ternyata kau bisa bertarung juga."
"Jika diperlukan aku mampu melakukannya juga loh."
Sesampainya di lokasi pertambangan, keduanya bisa melihat beberapa Kabold telah berjaga di depan mulut gua.
"Mereka terlihat sangat kuat, aku senang membuat sesuatu seperti ini."
Lumina mengeluarkan beberapa botol yang didalamnya merupakan ramuan tidur, dia hanya perlu melemparkan di dekat kaki mereka dan selanjutnya mereka langsung tertidur dengan mudah.
"Mari bergerak."
Alex mengikuti Lumina dari belakang tanpa mengurangi kewaspadaannya, Lumina sendiri kerap teralihkan dengan sesuatu hingga dia lupa tentang musuh. Peran Alex adalah untuk mencegah hal itu.
__ADS_1
Mereka berjalan melewati para Kabold yang tidak sadarkan diri kemudian kembali menyelinap di antara puing-puing bebatuan.