
Sudut pandang Pengrajin.
Di luar bengkel, tepatnya di bawah pohon yang rimbun kelima pengrajin telah memulai pekerjaannya, pertama mereka akan membuat 10 papan catur, 10 monopoly dan 10 lagi ular tangga, sebelum kemudian kembali ke catur. Mereka hanya diminta untuk membuat permainan ini sebanyak mungkin namun tidak dituntut tergesa-gesa, Adi sendiri lebih suka jika mereka membuatnya dengan kualitas terbaik dibandingkan mementingkan jumlah.
Setelah menyelesaikan papan, mereka selanjutnya membuat pion dari kayu terbaik yang ditemukan di wilayah ini, untuk masing-masing pion bagi mereka bukan hal susah hanya saja untuk pion kuda itu memerlukan waktu sedikit lebih lama.
"Benar-benar mengagumkan, aku tidak mengira kita membuat sesuatu yang terbilang baru."
"Apa menurut kalian pemilik tanah ternyata bukan orang yang dirumorkan banyak orang."
"Seperti yang kamu katakan, rasanya seolah dia sengaja ingin diperlakukan seperti itu."
"Jangan bilang dia masokis."
"Kurasa bukan begitu juga, walau dia dikatakan sering menyentuh wanita aku bahkan tidak dilecehkan atau sebagainya, ini aneh kan."
"Kamu seolah memang suka dilecehkan kan."
"Aku bukan cewek murahan."
Natasya yang melihat kemeriahan tersebut mendekat untuk turut bergabung.
"Apa yang kalian sedang buat?"
Melihat ia masih membawa peti mati di punggungnya, membuat kelimanya menarik diri ke belakang.
"Ayolah, apa kalian baru melihat seseorang yang membawa peti mati."
"Sesungguhnya ini pertama kalinya."
__ADS_1
"Padahal aku harap membawa peti mati akan jadi sebuah tren bagus untuk setiap negara."
Kelima pengrajin tidak ingin membayangkan setiap orang membawa peti mati, selain berat malah terlihat horor.
Natasya memilih menaruh petinya sedikit lebih jauh sementara dirinya membantu untuk pengecatan. Hitam putih adalah warna yang digunakan.
"Heh, jadi Adi meminta kalian membuat sebuah permainan yang bisa kita gunakan saat musim dingin, lalu bagaimana cara memainkannya?"
Mereka berlima menggelengkan kepalanya, Adi belum menjelaskan cara melakukannya yang jelas saat musim dingin ia baru akan memberitahukannya.
"Kurasa kita semua tidak akan terlalu bosan di dalam rumah sepanjang hari."
Setelah menyelesaikan catur dalam waktu singkat mereka mulai kembali dengan Monopoly, untuk uangnya sendiri mereka memutuskan untuk membuatnya dengan plastik yang dicat dengan warna sesuai koin pada umumnya seperti perunggu, perak dan emas. Entah alasan apa kini yang membantu mereka mulai bertambah. Awalnya mereka penasaran namun tiba-tiba ingin membantu juga.
Mereka menangani hal-hal yang mudah jadi tidak akan menimbulkan masalah.
Sepuluh orang telah turut membantu, untuk pembuatan papan ular tangga mereka memutuskan untuk membuat pion dengan tokoh dari desa.
"Aku menyukainya."
Melty, Daria, Brietta dibuat menyerupai aslinya yang terlihat indah, sementara untuk Adi sangatlah jelek, dia dibuat seperti seorang Orc yang tidak mengenakan pakaian.
Kelima pengrajin memucat.
"Kita benar-benar akan dimarahi jika menunjukannya pada pemilik tanah."
"Mau bagaimana lagi, ini keinginan penduduk desa. Apapun itu kita lebih baik memberitahukannya nanti."
Setelah satu hari berlalu para pengrajin menunjukan hasil karyanya pada Adi.
__ADS_1
Adi sendiri memuji bagaimana mereka melakukannya dengan baik.
"Kerja bagus, ini luar biasa."
Melty, Daria juga melihat pion miliknya, sementara Brietta tertawa.
"Haha Adi, kau benar-benar dibuat menyerupai Orc desu, ya ampun.... penduduk desa pasti menyukai Adi yang seperti ini desu."
"Berisik, jika diperhatikan baik-baik bentuknya cukup bagus juga."
Daria dan Melty tersenyum pahit.
"Kamu benar-benar menyukai Orc."
"Aku tidak setujui tuan, ini malah terlihat seperti ejekan."
"Kenapa, ini punya nilai seni yang luar biasa."
Kelima pengrajin membungkukkan badannya.
"Kami akan membuat ulang."
"Tidak usah, ini keinginan penduduk bukan.. mereka mungkin akan lebih tertarik saat itu dimainkan nantinya."
"Jika tuan bilang begitu... ngomong-ngomong bolehkah kami bertanya? Apa rumor yang tersebar di wilayah khusus semuanya bohong."
Adi terdiam sementara pandangan mereka dialihkan ke arah Daria. Melihat bagaimana mereka sangat menunjukkan rasa penasaran Daria akhirnya menjawab dengan anggukan.
Kelima pengrajin menatap dengan senyuman cerah sebelum berjalan keluar pintu.
__ADS_1
"Mereka mungkin takut denganmu Adi?"
"Aku tidak bisa membantahnya, setidaknya desa ini akan aman sementara waktu jika para iblis hanya menganggapnya sebagai desa biasa yang dikelola pria tidak bermoral."