
Harpy dengan rambut pirang sebahu bernama Claudia sedangkan Lamia dengan rambut coklat dikepang ke depan bernama Mery. Keduanya mengucapkan terima kasih pada Adi dengan membungkukan badan mereka sesaat sebelum melihat bahwa Brietta telah duduk di meja menghalangi Adi.
Naga loli ini terkadang bisa kurang ajar.
Adi tidak mempermasalahkannya walaupun Melty yang menyeretnya agar menjauh.
"Aku memanggil kalian untuk mendiskusikan berbagai hal tentang rumah kalian, jika ada permintaan atau sesuatu jangan ragu untuk mengatakannya?"
"Tidak, diberikan tempat tinggal dan pekerjaan sudah lebih dari cukup untuk kami," kata Claudia disusul Mery.
"Yang dikatakannya benar, kami berdua ras yang bahkan tidak dipandang berharga kami benar-benar tidak perlu meminta sesuatu yang mewah."
Adi membantahnya.
"Setiap kehidupan berharga, itu juga termasuk kalian berdua... hilangkan pemikiran itu mulai sekarang."
Keduanya tampak heran dan memilih mengarahkan perhatian ke arah Melty yang memiringkan kepalanya sembari tersenyum lembut.
"Maafkan aku, apa aku sudah bilang bahwa tuan Adi tidak seperti apa yang dia tunjukkan di luar sana."
Mereka menjatuhkan bahunya dengan perasaan lega.
"Aku pikir kami akan dimainkan di tempat ini dulu."
"Aku juga merasa begitu."
Adi jelas sudah kehilangan wibawanya di dunia ini, pencitraan buruk tentangnya telah menyebar sementara di sisi lain pencitraan untuk Daria di wilayah ini semakin tinggi hingga mereka tidak terlalu memikirkan tentang reputasi Adi.
Kabar yang beredar Daria dipekerjakan siang dan malam oleh Adi, di atas ranjang maupun kerja serabutan. Untuk membuat wilayah ini tetap stabil Daria memutuskan untuk berkerja sama dengan para ras naga dan membuat wilayah ini tidak jatuh. Untuk pemilik wilayah hanya bermalas-malasan sebagai orang bodoh yang tidak berguna.
__ADS_1
Adi sudah tahu akan hal itu, ketika memikirkannya, ia bisa merasakan sakit di ujung lambungnya.
"Tolong abaikan hal apapun yang terdengar di luar," katanya ragu.
Keduanya mengangguk mengiyakan tanpa tahu bahwa Adi adalah seorang pahlawan.
Setelah diyakinkan mereka berdua membuat permintaan.
Untuk Ras Harpy mereka ingin dibuatkan rumah di atas pohon sedangkan ras Lamia lebih suka tinggal di dalam gua secara berkelompok.
"Serahkan padaku, bagi naga semuanya hal kecil desu."
Claudia dan Harpy bertepuk tangan saat mereka bertiga meninggalkan ruangan, Adi meminta Melty untuk mengurus soal pakaian kedua ras tersebut termasuk pekerjaan untuk para elf, sementara ini mereka hanya akan menjadi pembimbing.
Melty meninggalkan ruangan saat Daria menerobos maju dengan seringai di wajahnya.
"Kamu membuatku terkejut, kamu sudah kembali?"
Daria meletakkan berkas yang dibawanya dengan semangat.
"Apa itu?" tanya Adi heran.
"Ini persyaratan para Dwarf, mereka akan tinggal di sini asal ada anggur."
"Hah?"
Daria mundur selagi berdeham sekali untuk menjelaskan, Adi berfikir dia terlalu memaksakan diri hingga penampilannya terlihat sedikit berantakan.
"Para Dwarf terkenal sangat menyukai minuman alkohol, mereka mengatakan jika di sana ada anggur yang mampu memuaskan mereka, mereka akan tinggal selamanya."
__ADS_1
"Bukannya mereka terlalu banyak meminta, anggur sesuatu yang mahal kau tahu? Terkadang hanya para bangsawan yang dapat meminum anggur berkualitas."
Daria tersenyum bangga saat Adi mengutarakan keberatannya.
"Semua orang tidak tahu namun sebenarnya ada anggur yang menghasilkan minuman berkualitas tinggi tanpa harus menunggu puluhan tahun."
"Bangsawan benar-benar licik telah menyembunyikannya kalau begitu."
"Jangan mengatakan itu jika kau sendiri juga seorang bangsawan."
"Jadi dimana kita akan mendapatkannya?"
"Di perkebunanku, tepatnya wilayah bangsawan Viscount, namun ada syaratnya jika kita harus ke sana."
"Dan apa itu?"
"Kamu harus menghamiliku."
Adi memucat dan segera mundur untuk menjaga kesuciannya.
"Menjauhlah dariku."
"Bukannya kau harusnya senang, ada alasan untuk menyetuhku? Kau juga selalu memperhatikan tubuhku sesekali."
"Aku minta maaf untuk itu, lalu bisa kau katakan kenapa kau harus datang dengan kondisi seperti itu?"
Selagi membuang muka Daria membuka mulutnya.
"Aku tidak ingin dijodohkan."
__ADS_1