
Beberapa blok dari tempatnya bertarung, Adi bisa melihat pertarungan Mebel yang sedang berlangsung. Sudah sejak lama Adi tidak melihat kemampuan Mebel dan jelas telah berkembang dengan pesat, melalui pedang kembarnya dia menangkis seluruh sihir yang dikirim oleh musuhnya bernama Vorgo, Vorgo sendiri merupakan pria elf dengan kemampuan sihir di atas rata-rata, ia menguasai sihir api serta angin yang mampu dikombinasikan sekaligus menciptakan kekuatan baru.
Mesna keluar dari sistem Adi dengan pandangan bersinar.
"Ini pertama kalinya aku melihat seseorang bisa menghalau sihir bahkan menebasnya, apa pedangnya dibuat dari bahan spesial?" pertanyaan itu diarahkan kepala Adi.
Sama seperti Mesna, Vorgo juga mengalami keterkejutan.
"Aku rasa bukan karena pedangnya melainkan Mebel sendiri, itu kemampuan unik Mebel yang bisa menangkis serangan sihir apapun."
"Maksudmu ada sihir seperti itu?"
"Lebih tepatnya bawaan tubuhnya, dia terlahir dengan mana yang sedikit unik... bisa dibilang, alasan kenapa elf berambut perak harus menjadi pemimpin bukan sesuatu yang dinyatakan dengan sembrono."
Mesna meletakan tangannya di bibir.
"Mungkin saja reinkarnasi Karina benar-benar adalah Mebel."
"Siapa yang tahu, bukannya kau adalah dewinya?"
Mesna meletakan tangannya di kepala selagi menjulurkan lidahnya selagi berkata "Tee-he... Ini salahku karena tidak terlalu peduli dengan siapapun orang yang aku reinkarnasi."
Adi tersenyum masam.
__ADS_1
"Tunggu, kenapa kamu melihatku seperti itu?"
Adi memberikan puding padanya.
"Sudahlah, makan ini dan kembali masuk ke dalam sistem."
"Jangan menatapku dengan mata simpati seperti itu."
Sementara Mesna terlihat frustasi Adi kembali mengarahkan pandangannya ke pertarungan yang terjadi, Vorgo meletakan tongkatnya di tanah dan itu menciptakan jurang dalam. Mebel terjerumus ke dalamnya lalu tanah itu menutup untuk menekannya sekaligus.
Sihir yang cukup ceroboh yang seharusnya tidak digunakan di tengah kota. Kemungkinan merupakan bentuk frustasi Vorgo sendiri yang tidak mampu mengenai Mebel.
"Sekarang akhirnya kau mati haha," Vorgo berteriak senang namun hanya sesaat sebelum dia merasa sesuatu yang dingin menembusnya dari belakang, rasa dingin tersebut perlahan menjadi hangat kemudian menjadi rasa sakit yang tak tertahankan, bagaimanpun pedang Mebel telah menembusnya dari belakang.
Sebelum dia tahu jawabannya kesadarannya telah diambil dan jatuh tersungkur ke tanah, Adi sendiri sudah tahu apa yang dilakukan Mebel, dia menggunakan sihir teleportasi yang dianggap oleh semua orang sebagai sihir yang telah hilang.
"Tuan, Anda di sini juga."
"Pertarungan yang bagus, apa dia sudah mati?"
"Seharusnya tidak, aku sengaja tidak mengenai organ vitalnya."
Adi mengangguk mengiyakan, bukan berarti Adi peduli keselamatan orang-orang di sini. Dia hanya mencoba untuk meminimalisir kerusakan saja. Dia tidak terlalu naif untuk berfikir layaknya kebanyakan pahlawan pikirkan, seperti aku akan melindungi banyak orang meskipun taruhan nyawa dan berakhir semua orang terbunuh.
__ADS_1
Keduanya memastikan bahwa semua ancaman telah dihilangkan dan bergegas ke istana yang merupakan tujuan akhir dari penyerangan ini, di aula singgasana tidak ada siapapun kecuali tahta yang kosong.
"Ini jebakan," bersamaan perkataan Mebel para penjaga muncul termasuk deretan pemimpin elf serta raja itu sendiri, dia adalah ayah dari ratu yang menjabat sebelum Mebel.
"Tidak aku sangka bahwa pemimpin elf yang berusaha aku tangkap muncul sendiri untuk aku bunuh."
"Dorman, kau? Setelah mengambil alih tahtaku kau masih mau mengeksekusi para elf?"
Sorot mata Mebel penuh dengan amarah.
"Semuanya harus dilakukan agar tidak ada ancaman dalam kekuasaanku, saat istriku melahirkan seorang putri dengan rambut perak, aku benar-benar beruntung, saat itulah aku berfikir bahwa akan ada kesempatan aku bisa menguasai kerajaan ini, sayang sekali bahwa tiba-tiba saja kau muncul, kau adalah pengganggu terbesarku."
Mebel diam sejenak untuk mengambil jeda.
"Jangan bilang?"
"Kau menyadarinya, demi mengambil tahta ini aku membunuh anakku sendiri dan istriku yang berusaha mencegahnya, sialan... kenapa harus ada dua anak berambut perak dalam satu dekade. Benar-benar menyusahkan."
"Aku berjanji hanya kaulah yang akan aku bunuh."
"Gadis manja sepertimu memang apa yang bisa kau lakukan?"
Seluruh orang di singgasana mengarahkan senjata mereka, dengan satu aba-aba, mereka menembakan sihir tanpa ragu.
__ADS_1