
Adi berdiri bersama Daria sementara wanita tersebut duduk di kursi ditemani suaminya yang berdiri dengan darah merebas dari wajahnya.
Tidak perlu ditanyakan jelas Adi bisa menyimpulkan kepala keluarga di tempat ini adalah ibu Daria.
"Namaku Margaret Vermalion dan ini suamiku Fredic, dan aku yakin kau tahu bahwa kami hanya punya satu putri di kediaman ini, jika ada sesuatu yang terjadi pada putri kami, aku pastikan kamu tidak akan melihat cahaya matahari lagi."
Adi tiba-tiba bisa merasakan keringat di wajahnya, ia memilih untuk membongkar rencana yang disiapkannya dengan Daria begitu saja.
"Aku dan Daria bukan sepasang kekasih atau apapun itu, kami hanya sama-sama mengembangkan wilayah khusus atas perintah raja."
Daria cemberut sedangkan ayahnya tampak menarik nafas lega.
"Jika begitu maka."
"Walau begitu Daria tidak kembali ke rumah ini karena ia ingin menikah."
"Apa maksudnya?" Margaret menatap dengan tajam.
"Seperti yang barusan aku katakan Daria tidak akan menikah dengan siapapun kecuali atas pilihannya sendiri."
"Adi? Kamu?"
"Kami perlu anggur yang disediakan oleh bangsawan Viscount dan karena itu kami akan senang jika Anda menjualnya pada kami."
Margaret tertawa.
"Sungguh berani, apa kau pikir bangsawan rendah sepertimu bisa memintaku begitu saja."
__ADS_1
Adi tidak gentar saat diberikan interogasi seperti itu, di sisi lain Fredic dan Daria merasa takut. Ibunya sangatlah menakutkan dan terkadang Daria berfikir kemungkinan ayahnya juga dipaksa untuk menikahi ibunya.
Adapun sisi baik yang dimiliki ibunya hanyalah wajahnya yang cantik serta penampilannya yang mempesona.
Setelah keheningan yang terasa lama tersebut Margaret berkata.
"Begini saja, aku akan menyepakati kerja sama yang barusan katakan hanya saja kau harus meninggalkan Daria di sini."
Ibunya licik juga.
"Sayang sekali aku tidak akan melakukannya."
"Kenapa kau begitu keras kepala untuk mempertahankan Daria, dia bukan kekasihmu atau lainnya? Kau juga tidak tidur dengannya."
"Ia rekan kerjaku, dan keberadaannya dibutuhkan di wilayah khusus."
"Jangan konyol, apa kau berniat untuk melawanku dan jika kau menang akan aku kabulkan semua permintaanmu, begitu sebaliknya."
"Benar sekali."
Adi maupun Margaret saling menatap satu sama lain. Adi merasa harus bertanggung jawab tentang ini semua.
Rencana Daria sudah gagal karena dirinya, setidaknya dia tidak mau begitu saja menyerah. Daria berbisik di telinga Adi.
"Ibuku sebelumnya seorang pejuang ia bahkan diberikan gelar demon slayer, aku ragu kamu bisa mengalahkannya."
"Seharusnya kamu menyemangatiku atau apapun itu?"
__ADS_1
"Jika kamu menang aku akan memberikan hadiah."
Adi tidak benar-benar mengharapkan apapun darinya, yang ia inginkan hanya mencoba merekrut Dwarf untuk menempati wilayah khusus.
Adi dibawa ke luar perkarangan rumah untuk berhadapan satu sama lain dengan Margaret, Fredic muncul sembari menyerahkan sebuah kipas besi pada istrinya.
"Tolong untuk sedikit menahan diri sayang."
"Akan aku usahakan."
Adi memunculkan pedang di tangannya dalam posisi bersiaga.
"Aku peringatkan istriku adalah murid pertama dari nona Casandra, kamu memilih lawan yang salah."
"Maksudmu elf gothic itu?" Adi membayangkan bagaimana wanita itu menyeringai sembari menjilat bibirnya.
"Sepertinya kamu mengenal guruku?"
"Ia memaksaku untuk menjadi muridnya, aku harap pelatihannya tidak keras."
"Jadi begitu, ini pertama kalinya guru Casandra mengangkat murid laki-laki, pasti ia melihat sesuatu yang menarik darimu, aku lebih penasaran sekarang."
Fredic mengangkat tangannya sebagai aba-aba bahwa pertarungan di mulai.
Margaret berlari normal ke depan, dia melompat di atas kepala Adi sembari mengayunkan kipasnya ke bawah, kipasnya mengeluarkan semacam pisau tebasan angin yang segera dihindari Adi ke belakang.
"Aku masih belum selesai."
__ADS_1
Margaret memburu seperti hewan buas dan Adi melayaninya dengan sebuah tebasan miliknya.