Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 06 : Perjalanan


__ADS_3

Adi membaringkan Elsa di tempat tidur sebelum dia menutupi dirinya dengan selimut.


"Kalau tidak kuat minum, sebaiknya kurangi minum bir."


"Tidak mungkin, minumannya sangat enak, aku akan terus meminumnya."


Adi hanya menghela nafas panjang sebelum dia meluruskan pinggangnya untuk keluar dari kamar, perkataan Elsa menghentikannya.


"Maaf soal Mebel, ia sebelumnya pernah dikhianati oleh orang yang sangat dia percayai, karena itulah ia."


"Aku tidak keberatan, lagipula aku mungkin orang yang buruk yang mempekerjakan kalian sebagai alat untuk mencapai keinginanku."


Elsa menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lagi, untuk dirinya yang lebih dulu hidup sebagai budak ia sudah melihat bagaimana teman-temannya berakhir.


Sebelum ia bergabung ke tempat penjual budak yang dibeli Adi, ia telah berada di rumah bangsawan tertentu, setiap hari wanita itu memberikan ia cambukan.


Tidak ada alasan berarti yang membuatnya melakukan itu, dia hanya ingin menyiksanya tanpa ampun.


Elsa memaksakan diri untuk duduk dari ranjangnya, ia melepaskan bagian atas tubuhnya dan menunjukkan bahwa di sana terdapat banyak luka yang memprihatinkan.


"Elsa, kau?"


"Hal ini aku sembunyikan dari yang lainnya, aku menjamin bahwa tuan Adi, bukanlah orang yang buruk."


Dilihat dari lukanya Adi bisa memastikan itu benar-benar terlihat sakit, meski wanita penyiksa tersebut telah dihukum mati bagi Elsa hal-hal di masa lalu tidak bisa dia lupakan.


Tidak ada yang bisa dilakukan olehnya untuk membantu Elsa, jika pun ada Adi ingin melakukannya.


Dia meninggalkan kamar Elsa untuk pergi ke kamarnya sendiri.


"Itu bekas luka yang buruk, kuharap ada yang bisa kita lakukan untuknya."


Adi mengangguk atas perkataan Mesna, sistem belanja onlinenya tidak memberikan barang sihir yang bisa melakukannya, hal yang mungkin adalah mencarinya sendiri di dunia ini.


Pagi berikutnya di luar kota, beberapa kereta barang telah dipersiapkan dengan para petualang yang bertugas sebagai pengawal, Adi datang tepat waktu dan melihat Riho yang tengah mengecek barang sebelum berangkat.


"Terima kasih atas kerja kerasnya."


"Adi, kamu sudah datang."


Melihat Adi yang muncul Riho tersenyum lebar, itu mungkin terlihat seolah diskriminasi yang membuat Adi diperlakukan lebih dibandingkan petualang lainnya.


Tak lama kemudian empat petualang muncul.


Petualang satu yang merupakan pemimpinnya mendesah pelan.

__ADS_1


"Apa, aku kira petualang yang akan membantu kita petualang yang lebih tinggi dari kami, dia hanya tingkat 8."


"Walau begitu Adi sangatlah kuat."


Adi hanya tersenyum masam sementara para petualang di depannya mencoba menilainya, dia sudah tidak mengenakan Jersey walau demikian itu tidak memberikan perubahan berarti, bahkan ia memilih mantel hitam untuk membuat dirinya lebih keren dan itu jelas tidak efektif.


"Yah apapun itu, usahakan tidak mengganggu kami."


Para petualang pergi setelah memberikan rasa tidak enak pada mulut Riho yang cemberut.


"Tidak usah dipikirkan, para petualang memang terkadang seperti itu."


Adi hanya membalas dengan senyuman masam, ia naik di kereta paling belakang bersama Riho yang dengan senang menjelaskan hal-hal yang kerap terjadi saat pengiriman barang seperti ini.


Untuk bandit hal biasa namun sesungguhnya terkadang pasukan iblis juga sering menyerang suplai yang dilakukan, jika mereka beruntung mereka bisa melewati hal tersebut tanpa terluka.


Adi hanya berfikir jika demikian seharusnya pengawalnya lebih dari empat orang, itu akan jauh lebih aman untuk berpergian.


Kereta mereka mulai memasuki area hutan, kota sebelah hanya mengambil waktu perjalanan seharian saja karenanya tidak ada waktu istirahat.


Adi bertanya.


"Para petualang tadi aku tidak pernah melihatnya, apa mereka benar-benar ada di guild kita?"


"Mereka memang ada guild kita, namun lebih sering berpergian di luar kota... aku tidak tahu pekerjaan seperti apa yang mereka ambil tapi mereka masih secara rutin untuk mengambilnya"


"Riho siapa orang-orang yang dipekerjakan sebagai kusir kuda?"


"Orang-orang biasa yang sering dipekerjakan oleh guild."


Adi semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, dia menarik revolver lalu menodongkan ujungnya pada kepala kusir di depannya.


"Apa yang kalian coba lakukan?" perkataan Adi terkesan dingin.


Sudut pandang petualang.


Di dalam kereta paling depan empat petualang tersebut tertawa lebar.


"Tadinya aku pikir guild akan menyewa petualang tingkat atas, ternyata hanya bocah saja... kita benar-benar beruntung."


"Tapi bukannya beresiko untuk mencoba merampok persediaan seperti ini."


"Tentu saja tidak, jikapun kereta ini menghilang mereka akan menyalahkan bandit atau pasukan raja iblis, kita akan baik-baik saja."


"Itu benar, beruntung bahwa kita bergabung dengan tuan Oscar... semenjak kita melakukannya kita bisa hidup dengan kemewahan, kita juga bisa menyuap orang-orang ini untuk bergabung."

__ADS_1


"Tepat sekali, ngomong-ngomong resepsionis yang ikut dengan kita sangat manis, mari kita tiduri beramai-ramai."


"Aku menyukai ide itu."


Mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah menunggu mereka di depan.


Sudut pandang Adi.


Adi mendengar seluruh penjelasan yang dilontarkan dari orang di depannya, singkatnya mereka tidak akan pergi ke kota terdekat melainkan pergi ke markas orang bernama Oscar. Dia dikenal sebagai ketua bandit yang selama ini menjadi burunon kerajaan.


Riho menunjukan wajah kegelisahan.


"Apa sebaiknya kita pergi saja dari sini?"


Adi ingin mengatasi hal ini sendirian, namun berhubung bahwa dia bersama Riho ia perlu tetap memastikan bahwa keselamatannya tetap terjaga. Semua barang di sini diperlukan oleh kota sebelah maka dari itu ia tidak bisa begitu saja pergi.


Adi meletupkan senjata api di tangannya yang membuat akhir untuk kusir di depannya.


"Riho bersembunyilah sementara waktu."


"Kamu akan melawan mereka."


Adi hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sudut pandang petualang.


Mendengar sebuah ledakan aneh membuat para petualang bertanya-tanya.


"Apa itu?"


Petualang dua, tiga dan empat serempak melirik ke arah belakang, mereka tidak cukup buta untuk tidak mengetahui arah dari suara tersebut.


"Datangnya dari arah belakang."


Mereka menghentikan kereta tersebut, seharusnya tidak lama lagi mereka sampai di markas, cukup menyulitkan bahwa mereka terhenti di sini. Ketika mereka turun orang-orang yang bertugas sebagai kusir berlarian ke arah mereka.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat bawa lagi keretanya."


Satu persatu dari mereka tiba-tiba tumbang dengan mudahnya, bahkan untuk tahu senjata seperti apa yang telah mengenai mereka tidak ada seorangpun yang bisa. Yang mereka lihat bahwa petualang bernama Adi berjalan selagi mengisi butiran peluru ke dalam senjata apinya.


"Apa-apaan itu, apa yang dia?" Sebelum petualang dua menyelesaikan perkataannya kepalanya sudah lebih dulu meledak, disusul tiga dan empat.


Pemimpin mereka jatuh ke tanah dengan pucat selagi menyeret dirinya dengan putus asa.


Mereka petualang kuat namun hanya dengan sebuah benda aneh mereka dikalahkan terlalu mudah.

__ADS_1


"Hentikan, aku."


Peluru panas telah menembus jantungnya.


__ADS_2