
Seberapa banyak mereka berdua melawan maka sebanyak itu serangan balasan yang mereka terima, tidak seperti iblis biasa pada umumnya yang mereka lawan adalah seorang petinggi yang merupakan bawahan iblis nafsu, keduanya tidak boleh lupa akan hal itu.
Berfield menerima beberapa tendangan saat dia menahan tombak yang melesat padanya. Di sisi lain Markes telah mengumpulkan energi di tangannya sebelum melesat maju. Lan sendiri bersiap untuk menahan serangan tersebut namun dia telah membuat kecerobohan.
Markes tidak berusaha menyerangnya secara langsung melainkan mengambil serangan ke bawah tanah untuk menciptakan ketidak seimbangan di bawah kakinya.
Tepat saat dia melompat Berfield telah bersiap dengan sihirnya, tidak banyak yang bisa dia lakukan dengan sihir meski begitu Berfield bisa menciptakan bola angin yang dengan tepat mengenai Lan di udara hingga dia terdorong ke atas. Tepat di momen saat dia jatuh sudah ada Markes yang membuat gerakan tinju, wajah Lan dipukul hingga ia terbang menggerus tanah beberapa meter jauhnya.
"Apa kita bisa membunuhnya?"
"Seharusnya begitu jika itu iblis biasanya, sayangnya iblis yang kita lawan sangatlah kuat."
Lan bangkit sembari tertawa terbahak-bahak.
"Aku lupa walau manusia lemah, saat mereka bekerja sama mereka akan jadi lebih kuat hahaha menarik, menarik.." tepat dimana area yang dipukul Markes terdapat sebuah plat besi yang melindunginya.
Berfield bertanya.
"Apa itu?"
"Ini? Ini adalah baju zirah... tombak sering dikatakan sebagai senjata petempuran terkuat yang tidak memiliki kekuatan bertahan cukup karena itu aku harus membuat pertahanan seperti ini agar entah serangan dan pertahananku jadi sempurna."
__ADS_1
Keduanya saling berbisik saat zirah yang seharusnya tidak ada kini muncul menyelimuti Lan seutuhnya.
"Benar-benar buruk."
"Ahh... kita harus menghindari serangannya sekaligus menghancurkan zirahnya, jika kau punya kekuatan untuk melakukannya. Sebaiknya, sekarang waktunya digunakan."
Markes mengerenyitkan alisnya sebelum dia melepaskan pakaiannya menampilkan seluruh tubuhnya yang berotot.
"Harus ada yang menahan tombaknya saat aku menyerang, kesempatannya hanya satu kali."
"Maka akan lakukan."
"Tutup mulutmu, aaaaa."
Sembari berteriak, Markes mengirim Berfield terbang jauh untuk langsung berada di depan Lan dengan belati di kedua tangannya yang segera berbenturan dengan tombak.
Ketika kaki Berfield menginjak tanah tombak diayunkan dari atas ke bawah, Berfield menghindar setipis kertas sembari mengayunkan kembali belati untuk menyayat leher Lan dan kedua belatinya patah begitu saja.
Ketika dia menyiapkan belati lain Lan tidak tinggal diam untuk menyerang, Markes muncul untuk menangkap belati tersebut namun dirinya malah terangkat ke udara lalu terhempas menabrak tubuh Berfield ke belakang.
Lan mengisi tombaknya dengan cahaya merah sebelum dia mendorongnya untuk menciptakan sebuah sinar mengerikan, Markes menahan sinar tersebut dengan tangan kosong, Berfield di belakangnya membantunya tetap berdiri. Hanya sekian detik mereka melompat ke samping hingga sinar tersebut menembak lurus di belakangnya menghancurkan satu gunung sampai tidak tersisa lagi.
__ADS_1
Menyadari itu merupakan kesempatan terbaik yang mereka miliki, Berfield telah melangkah maju lebih cepat, sebelum dia mengarahkan belatinya, tombak Lan telah lebih dulu menembus perutnya.
"Sudah berakhir, kurasa hanya ini yang bisa kalian lakukan."
"Masih belum, ini masih dimulai," protes Berfield menyeringai.
"Apa?"
Berfield menahan tombak Lan agar dia tidak bisa menariknya lagi, di saat yang sama Markes muncul dari samping, dia mengerahkan seluruh kekuatannya pada satu serangan ini, saat tangannya menghantam tubuh Lan, seluruh armornya hancur termasuk dirinya yang terdorong ratusan meter tanpa henti lalu tertelan sebuah ledakan besar yang mampu menciptakan kawah raksasa seluas 50 meter.
Mana dikumpulkan di tangan lalu ditembakan seperti sebuah peluru, tidak hanya kuat serangan tersebut juga sama seperti sihir tingkat atas.
Markes jatuh ke tanah begitu juga Berfield yang menarik tombak dari tubuhnya.
"Kau tidak apa?"
"Tidak masalah, tombaknya tidak mengenai organ vital.. kau sendiri?"
"Pukulan barusan memakan seluruh tenagaku, bahkan aku ragu bisa mengayunkan tanganku lagi beberapa Minggu ke depan."
Markes membetulkan bahunya sebelum akhirnya hanya diam menatap langit.
__ADS_1