
Dungeon ini memiliki jebakan di dalamnya,. terkadang mereka mengaktifkan lubang yang dipenuhi tombak, terkadang panah dari dinding atau sesuatu seperti tali sihir yang mengikat mereka lalu menariknya ke atas dinding.
Adi mendesah pelan bagaimana Yue Ling dan Sonya berusaha menutupi rok mereka, sementara satu lagi pria tua bertingkah menjijikan.
"Jangan melihatnya kyaaa."
Walaupun dia sebenarnya memakai celana.
"Apa pengawalmu seperti ini?" tanya Adi.
"Dia orang yang suka bercanda, aku akan menyelidiki lantai ini, aku serahkan untuk menurunkan mereka."
"Baiklah."
Sebagai seorang dari garis keturunan kerajaan Yuno tidak ingin merusak citranya dengan melihat pakaian dalam kedua gadis tersebut. Adi mengarahkan revolvernya dan ia menembak tepat di tali yang menjerat mereka hingga terbebas.
"Aku benar-benar tertolong, terima kasih," kata Aizen tersenyum lebar.
"Bukan masalah."
Mereka lalu kembali mengikuti lorong dan menemukan bahwa Yuno berdiri sembari melihat-lihat tulisan di dinding.
"Dapat sesuatu?"
__ADS_1
"Masih belum, tulisan ini hanya sekedar puisi."
"Puisi?"
Yue Ling dan Sonya turut memeriksa tulisan yang lain.
"Memang benar ini puisi."
Saya tidak terlalu mengerti tentang hal seperti ini," balas Sonya.
"Menurut dokumen istana, dungeon ini diciptakan oleh salah satu sage yang suka sekali dengan puisi, tidak aneh jika ia menuliskan beberapa di tempat ini," jelas Aizen.
Dibandingkan Adi, Aizen dan Yuno memiliki informasi lebih banyak soal dungeon. Adi merasa beruntung bahwa mereka bertemu dengannya.
"Aku serahkan pada kalian," ucap Yuno seolah tidak ingin diganggu dengan penyelidikannya.
Kelompok Adi dan Aizen tidak keberatan jadi mereka bergerak setelahnya, Adi meledakan kepala para zombie dengan senjatanya, dia mengisi revolvernya sebelum menembak kembali.
Di sisi lain Aizen menebas dengan pedangnya, ketika ada para zombie yang menyelinap padanya Yue Ling akan dengan sigap menembaknya dengan sebuah busur.
Untuk Sonya dia menebas mereka tanpa kesulitan, ada sekitar 100 zombie yang mereka kalahkan dan jumlahnya akan bertambah banyak. Sudah seharian mereka bergerak namun masih belum menemukan jalan keluar.
"Aku menemukannya."
__ADS_1
Yuno mendorong sebuah batu di dinding dan itu membuat lubang di bawah kaki semua orang hingga mereka jatuh ke bawah lalu masuk ke sebuah kolam di bawahnya.
Berbeda dari tempat sebelumnya selanjutnya adalah area luas yang dipenuhi batu-batu bercahaya sebagai penerangan.
"Benar-benar trik kotor," decap kesal Yue Ling memeras pakaiannya yang basah bersama Sonya.
"Kita mendapatkan banyak jembakan namun sebenarnya koridor sebelumnya malah merupakan jebakan itu sendiri," ucap Adi menyimpulkan dan Yuno mengangguk kecil.
"Jika kita terus berjalan kita tidak akan menemukan pintu keluar dari sana."
"Lalu bagaimana pangeran bisa menemukannya?"
"Mudah saja, puisi itu disisipkan beberapa petunjuk untuk ke luar dari sana, aku mengambil beberapa huruf dan menemukan kalimat 'Tekan untuk keluar,' dan seperti itulah yang terjadi, ini masih awalan, di depan akan jauh lebih sulit jadi jangan sampai ceroboh."
"Baik pangeran."
Mereka memutuskan menghangatkan diri dengan beberapa kayu yang dijadikan perapian sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Adi bertanya soal berapa banyak lantai di tempat ini dan Aizen menjawab dengan gelengan kepala.
"Tidak ada yang tahu pastinya, yang jelas kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di sini."
Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1