
Sudut pandang Natasya.
Setelah kami meninggalkan wilayah khusus aku dan Vensil beristirahat di dalam pondok untuk memulai perjalanan kami. Tujuan kami adalah benua iblis barat yang menjadi tempat dikurungnya para ras iblis putih.
Di dunia ini ada 4 benua yang dinamakan benua barat, selatan, timur dan utara, di masa lalu semua benua merupakan tempat tinggal ras manusia namun saat ini telah berubah total dengan hampir seluruh wilayahnya dihuni iblis dan monster.
Manusia sendiri hanya tinggal di benua selatan dan hanya 12 kerajaan di dalamnya termasuk kekaisaran. Tidak aneh jika semua orang menebak bahwa ras manusia dalam ujung kepunahan.
Setelah aku menata perbekalan di ruang tamu, Vensil yang selama ini di dalam kamar muncul dengan wajahnya sesungguhnya, aku tidak ingin mengatakannya tapi dia terlalu cantik untuk hanya sekedar berasal dari ras iblis. Matanya berwarna putih bulan dengan hidung mancung serta bibir tipis, tanduk melingkar di kepalanya terlihat lebih besar dan hampir menyamai seekor kambing.
Melihat bagaimana aku menatapnya, dia bertanya ragu.
"Apa ada yang salah Natasya?"
"Aku selalu berfikir kau terlalu membanggakan dirimu tapi aku rasa aku harus meminta maaf, kau benar-benar cantik."
"Sudah lama aku tidak mendengar pujian seperti itu, terima kasih."
"Pokoknya kita harus segera kembali bergerak."
"Aku bisa menggunakan sihir teleportasi jadi kita tidak perlu repot-repot pergi awal."
__ADS_1
"Bilang dari tadi kek!"
Vensil tertawa kecil sebelum dia memilih duduk di kursi, dia akan mengatakan rencana kami lebih detail jadi aku siap untuk mendengarkannya.
Hal yang diucapkannya di luar perkiraanku.
"Kelompok pahlawan Rinko hendak bergerak ke sana juga, kita bisa melakukan negosiasi dengan mereka."
"Kau serius ingin melakukan itu, Rinko adalah orang yang membantu Yuela dalam menghabisi seluruh kelompok Demonic, dia pasti akan langsung menyerang kita."
"Karena itulah aku meminta ini pada Adi."
Vensil menunjukan sebuah perkamen dengan tanda tangan kepemilikan wilayah khusus.
"Saat kami tidak melihat tentunya, di dalamnya Adi telah menjelaskan kepentingan kita, Rinko akan mengerti."
"Kuharap begitu."
Setelah menghabiskan sedikit lebih lama waktu, Vensil menggunakan sihir teleportasinya untuk memindahkan aku dan dirinya tepat di depan wajah pahlawan Rinko yang sedang bersantai dengan kelompoknya menikmati rebusan.
Menyadari bahwa Vensil seorang iblis mereka mundur dengan posisi bersiaga. Aku mendesah pelan bagaimana negosiasi ini tidak melakukan pendekatan apapun.
__ADS_1
Rinko hendak menarik pedangnya sebelum dia berhenti saat aku memberikan sebuah tanda bendera putih di tanganku.
"Kami hanya ingin melakukan negosiasi, tolong dengarkan dulu."
Aku bisa saja mengalahkan rekannya akan tetapi jika melawan Rinko aku tidak begitu yakin. Aku melemparkan bukti yang kami bawa padanya, Rinko mulai membacanya bersama teman-temannya sebelum menghela nafas panjang.
"Kenapa Adi begitu percaya pada kalian berdua, bagaimana pun dia iblis?"
"Bukan hanya iblis, aku iblis yang menguasai kemalasan," balas Vensil bangga selagi membusungkan dadanya.
Markes dan Berfield jika aku tidak salah mengingatnya terus memandang ke arah Vensil yang membuat Liza memukul kepala keduanya.
"Melihat wanita dengan tatapan cabul seperti itu benar-benar menjijikkan kalian berdua."
"Bukannya dia terlalu cantik sebagai iblis."
"Benar sekali."
"Karena iblis mungkin mereka terlihat seperti itu untuk menggoda manusia."
Aku mungkin akan setuju dengan apa yang dikatakannya. Aku beralih ke arah Rinko yang masih menimbang-nimbang.
__ADS_1
"Jika Adi bilang begitu, apa boleh buat.. kita bisa bekerja sama."
Syukurlah bahwa Rinko bukan orang yang berkepala panas.