
Fade masih harus di rawat di rumah sakit sampai beberapa hari ke depan, dan Firda tentu saja akan selalu ada disana dengan perannya sebagai istri bohongan.
Firda juga tidak lagi bekerja, ia mengajukan cuti selama Fade belum sembuh total, dan ia berharap tempatnya bekerja akan menerima dirinya kembali nanti.
Saat ini waktunya sarapan, Firda berusaha untuk membujuk Fade makan, namun pria itu terus saja menolaknya. Bahkan sejak sadar, Fade terus saja bicara ketus kepada Firda.
"Fad, makan dulu ya. Kamu mau pulang kan, maka dari itu harus semangat makan supaya cepat sembuh." Tutur Firda dengan penuh kesabaran.
Fade menoleh, tatapannya terlihat sangat horor sekali, bahkan Firda sampai bergidik melihatnya.
"Kau kira aku anak kecil hah, celotehan mu yang tidak jelas itu sama sekali tidak berpengaruh padaku." Balas Fade ketus.
Firda menghela nafas, ia lalu memberanikan diri untuk menggenggam tangan Fade, akan tetap pria itu langsung menepisnya kasar.
Keheningan pun menyerang, Firda dan Fade saling menatap dengan suasana hati yang berbeda.
Fade yang mengenal Firda sebagai wanita bayaran yang suka bergonta-ganti pasangan, sementara Firda yang menatap Fade penuh akan penyesalan dan rasa bersalah.
Alasan Firda mau menjadi istri bohongan Fade tentu saja karena dirinya harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi.
"Aku tidak sudi disentuh tangan kotormu, tanganmu itu pasti sudah sering digunakan untuk memuaskan orang lain kan." Sarkas Fade dengan penuh penekanan.
Firda mengulum bibirnya, entah kenapa rasanya masih sama. Sangat menyakitkan setiap kali Fade bicara hal yang tidak pernah ia lakukan.
Firda hanya bisa memejamkan mata dengan kepala tertunduk, ia juga dalam kebimbangan. Kalau ia bicara yang sebenarnya dan mencoba mengembalikan ingatan pria itu, maka sama saja Firda mengantar nyawa Fade untuk bertemu Tuhan.
"Fad, aku nggak tahu kamu bicara soal apa. Tapi kata-kata kamu menyakitiku, kau jangan lupa bahwa aku istri kamu." Ucap Firda dengan suara yang sangat lembut.
Fade tersenyum culas, ia mendelik dengan tatapan yang sangat menjatuhkan Firda.
"Aku? Ya, mungkin saja kau menjebakku makanya kita sampai bisa menikah. Tapi yang harus kau ingat adalah, aku tidak akan pernah mencintaimu. Kau adalah wanita kotor yang tidak pantas untuk bersanding denganku!" ucap Fade dengan penuh penekanan dan hinaan yang tidak ada habisnya.
Firda hanya bisa diam, ia bukan membalas kata-kata Fade, justru malah menyodorkan sesendok bubur ke mulut Fade.
"Kamu bisa hina aku, Fad. Sepuas kamu, sebanyak dan sesering yang kamu mau. Tapi kamu juga harus tetap makan," tutur Firda.
Masih tercetak senyuman di wajah gadis cantik itu, ia seakan tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Fade, meski dihatinya ia teramat menderita.
"Aku akan makan, tapi kau pergi dari sini. Aku tidak sudi makan didepan wanita kotor. Aku bisa memuntahkan semua makanan ini!" usir Fade dengan kejam.
Firda menggelengkan kepalanya. "Nggak bisa, Fad. Mama menitipkan kamu sama aku, aku nggak bisa ninggalin kamu sendiri." Balas Firda menolak.
"Oh, jadi kau menolak? Kalau begitu, aku tidak akan makan!" seru Fade enggan untuk dibantah.
Firda mengusap dadanya. Sebisa mungkin ia harus sabar menghadapi pria seperti Fade yang sedang kehilangan ingatannya.
"Baiklah, tapi kamu janji akan makan kan?" tanya Firda.
Fade menatap Firda. "Aku bukan dirimu yang suka berdusta." Jawab Fade menyindir Firda yang tidak bisa memegang janji untuk setia kepadanya.
__ADS_1
Firda bangkit dari duduknya, sebelum pergi ia menuangkan air ke dalam gelas untuk Fade minum. Jangan sampai pria itu kesulitan nanti.
"Makanlah pelan-pelan, panggil aku jika membutuhkan sesuatu." Tutur Firda lalu segera keluar.
Fade menatap kepergian Firda dengan tatapan yang malas, ia benar-benar muak melihat wajah wanita itu yang mengingatkan nya kepada pengkhianatan yang dilakukan Firda kepadanya disaat ia siap melamar wanita itu.
"Kau benar-benar wanita menjijikan, Firda. Kau adalah wanita liar yang tidak pantas untuk dicintai." Gumam Fade dengan tangan terkepal.
Sementara itu Firda, ia memilih untuk duduk di kursi tunggu yang berada tepat di depan ruang rawat Fade.
Gadis itu duduk dengan menyandarkan kepalanya di kursi, ia memejamkan mata, namun tidak tidur.
Firda rasanya lelah, selama Fade di rumah sakit ia selalu menemani pria itu. Apalagi setelah Fade sadar, kedua orang tua pria itu jadi jarang ke rumah sakit dan melimpahkan semua kepadanya.
Firda yang terus dituntut pertanggungjawaban hanya bisa menganggukkan kepalanya, menerima semua ini dengan sabar dan lapang dada.
"Aku percaya padamu, Tuhan. Aku yakin bahwa setelah badai ini, akan ada pelangi dalam hidupku." Batin Firda dengan mata yang masih terpejam.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen. Tampak seorang pria sedang berkutat di dapur untuk membuat sarapan.
Pria itu melakukannya demi gadis yang kini sedang duduk manis sambil memperhatikan nya memasak.
Bukan tanpa alasan pria itu mau memasak, dirinya hanya tidak mau gadis itu mati sebelum membuat tulang punggungnya kembali baik.
"Om, ngapain sih masak buat aku? Kan bisa beli online, Om." Celetuk Aira tiba-tiba.
Mondy membalik badan, ia menatap wajah Aira tanpa ekspresi sama sekali.
Aira langsung tertunduk, ia jadi malu mendengar ucapan Mondy yang meniru kata-katanya waktu itu.
"Om nggak kreatif ih, masa niru kata-kata aku." Ucap Aira dengan wajah meledek.
Mondy hanya diam, ia kembali fokus memasak daripada meladeni ocehan gadis itu.
"Om, ini apartemen siapa sih? Kok kita pindah kesini?" tanya Aira menatap ke sekitar.
Ya, Mondy dan Aira tinggal di apartemen tempat Alea dan Tristan tinggal dulu. Bukan tanpa alasan mereka pindah, melainkan karena disana kamarnya ada dua, walaupun yang satu tidak terlalu besar.
"Saya malas menjelaskan ke kamu. Kamu ia itu masuk kuping kanan, keluar kuping kiri." Jawab Mondy tanpa menatap Aira.
"Saya juga nggak mau terlalu tahu sih, Om. Saya cuma mau cepat-cepat sembuh dan pulang." Kata Aira seraya memainkan botol kecap di atas meja.
Mondy yang sedang mengiris bawang langsung terhenti, ia meletakkan pisau itu lalu kembali membalikkan badannya.
"Dan bertanggung jawab pada saya, jangan lupa poin paling penting ini." Ujar Mondy mengingatkan.
Aira mendengus. "Iya-iya, saya akan bertanggung jawab meskipun anda itu baik-baik saja." Balas Aira pasrah.
"Baik-baik saja bagaimana, kamu tidak tahu hasil pemeriksaan saya kan. Makanya jadi gadis itu jangan ceroboh!" cerocos Mondy cepat.
__ADS_1
Aira terdiam, ia langsung menundukkan kepalanya mendengar ucapan Mondy yang tepat sasaran.
Mondy pun seketika menutup mulutnya, ia menyadari bahwa ia telah salah bicara.
"Tidak ada gunanya murung." Ketus Mondy lalu kembali melanjutkan masakan nya.
Aira menganggukkan kepalanya. "Iya sih, Om. Aku ini emang– uhukk …" Ucapan Aira terhenti saat dirinya tiba-tiba saja terbatuk-batuk.
Aira menuangkan air ke dalam gelas, lalu meminumnya. Ia menepuk-nepuk dadanya setelah menghabiskan setengah gelas air mineral.
"Makanya jangan ngoceh terus." Ketus Mondy tanpa menatap Aira.
"Om juga! Om pasti ngomongin aku kan, makanya aku keselek." Sahut Aira tidak terima.
"Rugi saya ngomongin kamu." Timpal Mondy.
Aira mendengus, ia menepuk-nepuk meja dan membuat luka di perutnya terasa perih.
"Awww …" Ringis Aira pelan.
Mondy membalik badan ketika sayup-sayup mendengar suara Aira. Ia melihat gadis itu menunduk sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa, Ai?" tanya Mondy mengangkat kedua alisnya.
Aira menggelengkan kepalanya, ia tidak menatap Mondy sama sekali dan terus menunduk.
"Nggak apa-apa, Om. Cuma perih dikit, kayaknya karena ngomong terus." Jawab Aira pelan.
Mondy menghela nafas, ia mendekati Aira dengan pisau di tangannya. Mondy membanting pisau itu diatas meja, membuat Aira terkejut.
"Astaga." Gumam Aira memegangi dadanya.
Aira mendongak, ia hendak bertanya namun terhenti saat tiba-tiba Mondy menggendongnya.
"Om!!! Bisa nggak sih jangan tiba-tiba." Teriak Aira seperti biasa.
"Diam." Bentak Mondy dengan mata melotot.
Aira langsung diam.
"Saya suruh istirahat di kamar tapi ngeyel, saya lempar baru tahu rasa." Ucap Mondy sangar.
Aira menekuk wajahnya. "Om, kok tiba-tiba jadi perhatian sih sama aku?" tanya Aira.
Mondy berdecak, ia terkekeh jenaka mendengar pertanyaan dari gadis dalam gendongannya.
"Jangan terlalu percaya diri, Bocah. Saya hanya tidak mau kamu tiada sebelum bertanggung jawab pada punggung saya." Jawab Mondy menjelaskan.
Aira melototkan matanya, salah memang ia telah berpikir bahwa pria itu menyukainya. Aira mendengus dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
NENG AI, JANGAN KHAWATIR!! KAMU LUPA AKU BISA MEMBOLAK-BALIK TAKDIR KAMU?😭
Bersambung............................