
Aira tidak bisa berhenti tersenyum sambil mengusap-usap perutnya. Lagipula wanita mana yang tidak akan bahagia setelah mendengar kabar kehamilannya.
Mondy selaku suami tentu tidak kalah bahagia. Ia mendekati sang istri, memeluknya dari belakang di balkon apartemen mereka.
"Sedang apa disini, terus tersenyum sambil mengusap-usap perut?" Tanya Mondy lalu mencium bahu dan pipi istri kecilnya.
Aira menoleh sedikit, ia mengangkat tangannya dan membiarkan tangan Mondy yang menggantikannya dirinya untuk mengusap-usap perutnya.
"Aku bahagia, bahkan sangat bahagia. Hari ini aku bukan hanya mendapatkan orang tuaku kembali, tapi juga mendapatkan mimpiku, mimpi untuk bisa kasih kamu anak." Jawab Aira dengan sungguh-sungguh.
"Aku sempat berpikir bahwa aku tidak bisa hamil, mungkin saja karena usiaku baru akan 20 tahun. Tapi ternyata Tuhan membalas semua keraguanku dengan rasa bahagia." Tambah Aira tersenyum begitu lebar.
Mondy mengusap-usap perut rata istrinya, memberikan sentuhan lembut seakan ia sedang benar-benar menyentuh bayi mungil.
"Kenapa berpikir begitu, aku tidak pernah memaksa kamu punya anak dalam waktu dekat, Sayang." Sahut Mondy lembut.
Aira membalik badan, menatap wajah tampan suaminya lalu menganggukkan kepalanya. Aira tahu soal itu, tapi ia tetap ingin menjadi istri yang baik.
Aira ingin bisa memiliki keturunan neraka suaminya, di pria tampan dan cuek ini.
Aira melingkarkan tangannya di leher sang suami, sedikit berjinjit karena postur tubuh suaminya yang tinggi.
Mondy tersenyum tipis, ia lekas menggendong tubuh mungil istrinya seperti koala, dan membuat pinggangnya dilingkari oleh kaki mulus istri kecilnya.
"Lupakan saja, sebentar lagi kita akan punya anak dan hidup kita akan benar-benar bahagia setelah ini. Aku nggak sabar banget." Ungkap Aira, lalu menyatukan keningnya dengan kening Mondy.
Mondy mengecup bibir istrinya. "Aku juga." Balas Mondy.
Masih dengan menggendong istrinya, Mondy mengajak Aira masuk ke dalam kamar karena hari semakin malam.
"Menurut kamu gimana reaksi tuan Tristan setelah tahu aku adiknya?" Tanya Aira dengan posisi duduk di pangkuan suaminya.
Paha Aira yang terekspos tidak Mondy biarkan begitu saja. Pria itu memanfaatkannya untuk ia berikan usapan lembut.
"Mau tahu satu cerita?" Tawar Mondy dan Aira langsung mengangguk mantap.
__ADS_1
"Ketika kamu hilang dulu, usia tuan masih 10 tahun. Dia tinggal bersama kakeknya di Australia. Saat dia tahu adiknya menghilang, dia mencari bagai orang gila, namun usahanya tidak kunjung membuahkan hasil." Ucap Mondy mulai bercerita.
"Sampai bertahun-tahun berlalu, tuan akhirnya memutuskan untuk mengikhlaskan kepergian adiknya, ia enggan mengingat adiknya lagi karena itu akan membuatnya sangat terpukul. Tuan sangat menyayangi kamu." Tambah Mondy jujur.
"Lalu apa sekarang dia juga akan bahagia setelah tahu aku adiknya?" Tanya Aira tampak ragu.
"Tentu saja, selama ini dia sudah sabar. Bahkan demi kesehatan mentalnya dan keluarganya, ia bersikap seakan semua baik-baik saja, padahal dalam hatinya banyak kegelisahan dan kekhwatiran tentang adiknya." Jawab Mondy.
Mondy menangkup wajah cantik istrinya. "Dan sekarang, disaat adiknya sudah kembali rasanya tidak mungkin jika dia tidak bahagia. Aku yakin, nanti dia akan berlari dan memeluk kamu." Tambah Mondy dengan begitu yakin.
Aira terkekeh, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang mana mendapatkan balasan berupa usapan di bahu dan kecupan di kening.
"Darimana kamu tahu cerita tentang tuan Tristan?" Tanya Aira.
"Aku asisten sekaligus tempatnya untuk berkeluh kesah sebelum nona Alea datang, Sayang. Jadi aku tahu tentang masa kecil dan kesedihan nya." Jawab Mondy menjelaskan.
"Lalu orang tuanku di kampung?" Tanya Aira, ia memikirkan tentang orang-orang yang sudah merawatnya meski tanpa kasih sayang.
"Mereka? Mereka sudah diurus oleh papa kamu, dan kamu tidak perlu terlalu memikirkannya." Jawab Mondy lembut.
Aira mendongak, menatap suaminya dengan kedua tangan yang bertengger di rahang tegas sang suami.
Mondy menghela nafas, ia buru-buru mencegah air mata istrinya dengan mengusap sudut matanya.
"Ini bukan kapasita ku, Sayang. Papa kamu sendiri yang mengambil keputusan atas mereka, aku bahkan tuan Tristan tidak bisa ikut campur." Jelas Mondy.
Aira tidak tahu bagaimana nasib keluarga angkatnya, namun yang jelas ia sangat khawatir. Bagaimanapun, mereka sudah membesarkan dirinya sampai ia bisa tumbuh sehat seperti sekarang.
"Aku tahu kamu mengingat jasa mereka, tapi kamu juga harus ingat bahwa mereka yang sudah sengaja memisahkan kamu dari keluargamu." Ucap Mondy menasehati.
Aira hanya diam, ia memilih untuk kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah ruangan yang gelap, kotor dan becek. Terlihat tiga orang manusia duduk dengan tangan yang terikat.
Orang-orang itu adalah keluarga angkat Aira. Keluarga yang tidak bisa disebut kekasihnya, bukan karena tidak ada hubungan sedarah, melainkan karena sikap mereka terhadap Aira benar-benar jahat.
__ADS_1
"Masih ingat denganku?" Tanya papa Jaya yang duduk di kursi putar.
Ibu dan bapak angkat Aira seketika melototkan matanya melihat siapa sosok yang ada di hadapan mereka.
"T-tuan Jaya." Ucap bapak Aira terbata-bata.
"Ya, aku Jaya Kusuma. Ayah dari seorang putri yang telah kalian culik dan siksa." Sahut papa Jaya.
"Tuan, kami hanya menjalankan perintah. Tolong ampuni kami!" Pinta ibu Aira menyatukan kedua tangannya.
"Maaf? Setelah memisahkan ku dengan putriku, kalian seenaknya minta maaf?" Tanya papa Jaya jijik mendengarnya.
"Tuan, tapi kami mengurus putri anda dengan baik, kami membesarkannya. Dia masih hidup," ucap ibu Aira.
"Aku tahu, aku tahu siapa putriku dan dimana dia." Timpal papa Jaya.
"Tidak ada maaf bagi kalian. Kalian akan mati ditempat ini, atau mengabdikan diri seumur hidup untuk menjadi pelayan bagi anak buahku." Ucap papa Jaya.
Papa Jaya berjalan, melingkari ketiga orang tersebut.
"Saat kalian melakukan sedikit kesalahan saja, maka ajak buahku bebes membunuh. Bagaimana?" Tanya papa Jaya.
"Hiks … anda siapa?" Ayu yang sejak tadi diam seketika membuka suaranya penuh rasa takut.
Papa Jaya menatap Ayu. "Aku siapa?" Beo papa Jaya.
"Aku Jaya Kusuma, ayah kandung dari gadis yang selalu kau perbudak selama ini, Aira." Tambah papa Jaya.
Ayu syok, ia tidak menyangka jika orang tua kandung Aira adalah pria kaya dan tidak sembarangan.
"Kini sudah cukup kau memperbudak putriku, dan sekarang giliran kalian yang merasakannya." Ucap papa Jaya penuh penekanan.
Papa Jaya menatap anak buahnya. "Kalian aku beri kebebasan untuk melakukan apa saja terhadap tiga orang ini, termasuk melenyapkannya." Ucap papa Jaya lalu segera pergi dari sana.
Ayu dan kedua orang tuanya berteriak histeris meminta pengampunan, namun semua itu percuma saja karena papa Jaya tidak mendengarkannya sama sekali.
__ADS_1
MAU LIHAT REAKSI OM TRISTAN?
Bersambung....................................