
Aira mengantar suaminya sampai depan apartemen seperti biasa. Ia akan di peluk dan dicium oleh Mondy selayaknya pasangan suami istri yang saling cinta.
Terkadang Aira ingin Mondy bersamanya terus, ia ingin suaminya ada di sampingnya dan memeluknya sepanjangan hari, namun ia sadar akan suaminya yang harus bekerja.
"Hari ini aku nggak lembur kok, kamu di rumah baik-baik ya." Tutur Mondy seraya mengusap wajah cantik istrinya.
Aira menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Kamu juga hati-hati ya," balas Aira lembut.
Mondy mencium kening istrinya, lalu segera pergi meninggalkan rumahnya bersama istrinya.
Setelah suaminya pergi, Aira pun segera menutup pintu apartemen yang langsung otomatis terkunci.
Aira pergi ke kamarnya, ia harus merapikan kasur dan baju-baju yang berserak di lantai akibat perbuatan ia dan suaminya semalam.
Aira tersenyum malu-malu setiap kali membayangkan kegiatan panas di atas ranjang bersama suaminya.
Bagaimana ganasnya Mondy saat bersamanya diatas ranjang, sangat jauh berbeda dengan Mondy yang dingin dan datar sehari-hari.
Andai kata Aira gila dan bercerita pada orang lain, mungkin tidak akan ada yang percaya karena semua orang mengenal suaminya sebagai sosok yang dingin, padahal panas di dalam.
Aira memunguti baju dan memasukkan nya ke dalam keranjang cucian kotor. Setelah selesai dengan baju, Aira pun membereskan tempat tidur.
"Aku hari ini masak apa ya, biar mas Mondy semangat makan." Gumam Aira bertanya-tanya.
Aira selesai merapikan kasur dan membersihkan debu-debu nya dengan vacum cleaner. Kini kamar yang awalnya semrawut, berubah menjadi kamar yang bersih dan rapi.
Aira lekas keluar dari kamar, ia akan memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci otomatis di rumahnya.
Sejujurnya Mondy sudah seringkali meminta pada Aira agar menyewa seseorang untuk bersih-bersih dan mengerjakan tugas rumah lain, namun Aira menokak dan ingin melakukannya sendiri.
Mondy sampai lelah meminta istrinya yang tetap saja melakukan pekerjaan, padahal sudah diminta tidak perlu. Mondy tidak tega melihat istrinya bekerja sendirian di rumah.
Aira menghela nafas, sambil menunggu cuciannya selesai, Aira pergi ke dapur dan meminum segelas jus.
"Huft … segarnya …" gumam Aira bernafas dengan lega.
Aira pergi ke ruang tamu, membawa segelas jus dan camilan promil yang sengaja ia beli agar bisa cepat hamil.
__ADS_1
"Kapan ya ada dedek bayinya ini." Gumam Aira mengusap perutnya sendiri.
Aira sudah mengatakan ingin anak, maka ia akan berusaha untuk mendapatkannya, tentu dengan dibantu oleh Mondy selalu pemegang kendali saat bermain.
Aira meluruskan kakinya, seraya terus memakan camilan. Namun ditengah keasikan nya bersantai, ia mendengar suara bel apartemen.
Aira mengerutkan keningnya, selama ini ia tidak pernah menerima tamu sama sekali dan hari ini untuk pertama kalinya ada yang datang.
Biasanya yang menekan bel hanyalah petugas pembuangan sampah yang mengambil dari unit ke unit, namun itu sudah dilakukan kemarin.
Aira berjalan mendekati pintu, ia lalu membukanya dan terkejut melihat siapa yang datang ke sana.
"Tuan dan Nyonya." Ucap Aira kaget bukan main.
Tentu saja, bagaimana mungkin ia tidak kaget saat melihat tuan dan nyonya besar datang ke apartemennya tanpa berkata apapun sebelumnya.
"Pagi, Aira." Sapa papa Jaya dengan senyuman hangat.
"Selamat pagi, kalian kesini?" Tanya Aira reflek karena masih terkejut.
Aira tersadar, ia lekas mempersilahkan mama Saras dan papa Jaya untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Silahkan duduk, saya akan buat minum sebentar ya, Tuan dan Nyonya." Pamit Aira lalu segera pergi ke dapur.
Sampai di dapur, Aira bertanya-tanya apa yang membawa kedua orang tua tuan Tristan ke rumahnya, padahal sepertinya tidak ada yang penting.
Kalaupun ada urusan dengan suaminya, pasti mereka akan bicara saat Mondy sampai di rumah utama untuk menjemput Tristan kan.
Aira memegangi dadanya yang jantungnya masih berdetak kencang. Masih ada sisa-sisa keterkejutan.
"Apa aku melakukan kesalahan pada kak Alea?" Gumam Aira bertanya-tanya.
Aira mengangkat bahunya. Daripada dia bertanya-tanya, maka akan lebih baik jika dia pergi saja dan membawa minuman itu ke ruang tamu.
Aira meletakkan dua gelas minuman berupa teh ke atas meja, lalu ia berdiri di depan mama Saras dan papa Jaya yang kini tengah menikmati teh buatan Aira.
"Kenapa hanya berdiri, ayo duduklah ini kan rumahmu." Tutur mama Saras.
__ADS_1
Aira tersenyum canggung, ia pun akhirnya duduk di depan papa Jaya dan mama Saras.
"Tuan dan Nyonya, maaf. Sebenarnya ada tujuan apa kalian kemari, apa saya telah melakukan kesalahan?" Tanya Aira ragu-ragu.
Mama Saras dan papa Jaya tampak saling pandang, lalu kompak menggeleng bersama.
"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Kami datang ingin main saja, kami ingin tahu soal Mondy yang sekarang sudah menikah." Jawab papa Jaya menjelaskan.
Aira menghela nafas lega, ia mengusap dadanya pelan karena apa yang ia takutkan nyatanya tidak terjadi.
"Oh begitu, saya pikir ada masalah." Timpal Aira tersenyum.
Mama Saras bangkit dari duduknya, ia berpindah duduk ke sebelah Aira untuk melakukan sesuatu.
"Jika Mondy bekerja, kau akan sendiri saja di rumah?" Tanya papa Jaya.
"Benar, Tuan." Jawab Aira.
Mama Saras mengambil sehelai rambut Aira, lalu menariknya sampai putus.
Aira menoleh. "Ada apa, Nyonya?" Tanya Aira bingung.
"Ah tidak, tadi ada kotoran di rambutmu." Jawab mama Saras berbohong.
Aira manggut-manggut saja, tidak ada pikiran yang negatif. Lagipula untuk apa kedua orang tua Tristan ini mau macam-macam.
Sementara mama Saras dan papa Jaya saling pandang. Mama Saras menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Awalnya mereka ingin bicara kepada Aira soal dugaan anak kandung mereka, namun setelah dipikir lebih baik jangan karena takut Aira akan syok dan ketakutan.
Hal itulah yang membuat mereka memilih mengambil rambut Aira diam-diam dan akan dilakukan tes DNA untuk membuktikan apakah Aira benar-benar anak mereka yang hilang atau bukan.
"Mama yakin kamu Thalia nya mama." Batin mama Saras tersenyum, antara sedih dan bahagia.
YAKIN YA MAA??
Bersambung................................
__ADS_1