
Alea berdiri diambang pintu, menanti suaminya yang sedang menjemput orang tuanya di rumah sakit. Sesuai ucapan Tristan, mulai sekarang mama Saras dan papa Jaya akan tinggal bersamanya dan Tristan.
"Nona, ini susu nya dihabiskan dulu." Tutur seorang pelayan memberikan susu hamil Alea.
Alea menerimanya, ia menghabiskan susu hamil itu dengan sekali tenggak, lalu memberikan kembali gelas itu pada pelayan.
"Makasih ya, Bik." Ucap Alea tersenyum ramah.
"Sama-sama, Nona. Permisi," pamit pelayan itu lalu pergi meninggalkan Alea.
Alea memilih untuk duduk sembari mengusap-usap perut besarnya. Kepala Alea menoleh kanan dan kiri, berharap suaminya lekas datang.
"Sabar ya, Baby. Nanti kita akan tinggal sama-sama dengan oma dan opa kamu juga. Doain ya, semoga mami bisa diterima sama oma kamu." Ucap Alea pelan.
Tidak lama kemudian mobil Tristan pun datang. Alea lantas bangkit dari duduknya, ia memasang wajah penuh senyuman untuk menyambut suami dan mertuanya.
Tristan keluar duluan, ia menyempatkan diri untuk melempar senyuman pada istrinya lalu membuka bagasi mobil untuk mengambil kursi roda.
Tristan tampak mengeluarkan kursi roda itu, kemudian membantu papa Jaya untuk duduk di sana.
Disusul mama Saras, seperti biasa wajah mama Saras tampak jutek dan sinis, apalagi saat menatap Alea.
"Selamat datang, Ma, Pa." Sapa Alea dengan penuh senyuman.
Mama Saras menatap sinis. "Selamat datang, Saya bukan tamu sampai-sampai kau harus mengucapkan itu. Ini rumah putra saya." Ketus mama Saras.
Alea tersenyum lembut, ia hanya bisa diam. Kali ini Alea tidak sakit hati, ia akan berusaha untuk bisa terbiasa dengan ucapan ketus mama Saras.
Sekarang bukan waktunya untuk sakit hati, sekarang waktunya ia bersikap baik sehingga bisa untuk diterima oleh orang tua suaminya.
"Silahkan masuk." Tutur Alea tanpa memperdulikan ucapan ibu mertuanya tadi.
__ADS_1
Tristan mendorong kursi roda papanya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk merangkul pinggang istrinya.
Alea tersenyum, ia mengusap dada Tristan yang selalu mengerti dirinya. Tristan selalu bisa membuat dia merasa bahwa masih ada yang menyayanginya.
Mama Saras kesal, ia muak melihat putranya yang begitu mencintai Alea. Ia heran mengapa Tristan bisa mencintai wanita sepertinya.
Tristan dan Alea mengantar orang tua mereka ke kamarnya yang ada di lantai satu, tujuannya agar tidak sulit jika papa Jaya mau keluar.
Papa Jaya masih harus memakai kursi roda, sebab kondisi tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih.
"Papa istirahat ya, nanti akan ada pelayan yang membawakan papa makan. Papa tadi belum makan," tutur Tristan usai membantu ayahnya berbaring.
Papa Jaya menatap Alea. "Nak, apa kabar?" Tanya papa Jaya lembut.
Alea menatap suaminya yang tersenyum lalu mengangguk, tanda bahwa Alea harus menjawab pertanyaan papanya.
"Aku baik, Pa." Jawab Alea sopan.
Papa Jaya mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Alea, hal itu membuat menantunya buru-buru mendekat.
Bahagia, itulah yang Alea rasakan saat ini. Ia benar-benar senang mendengar ucapan papa Jaya secara langsung yang mengatakan telah merestui hubungannya dengan Tristan.
"Mas, papa menerima aku sebagai menantunya." Ucap Alea penuh senyuman.
Mata Alea berkaca-kaca, ia memeluk Tristan saking bahagianya dengan situasi saat ini.
"Iya, Sayang." Balas Tristan mengusap punggung istrinya.
Mama Saras semakin muak, kini bukan hanya Tristan yang menerima Alea tapi juga suaminya. Ia tidak sudi menerima Alea, ia tidak mau memiliki menantu dari keluarga yang tidak jelas.
"Jangan senang dulu kamu, saya bahkan belum memberikan restu, jadi kamu belum benar-benar menjadi menantu keluarga Kusuma." Ucap mama Saras tiba-tiba.
__ADS_1
"Dan mungkin sampai kapanpun saya tidak akan menerima kamu sebagai menantu." Tambah mama Saras dengan begitu menusuk.
Tristan mengepalkan tangannya, ia hendak bicara namun buru-buru di cegah oleh istrinya.
Alea menggeleng sambil melempar senyuman. Tatapan Alea lalu beralih kepada ibu mertuanya.
"Mungkin kan, Ma? Jadi masih ada kesempatan untuk aku diterima sebagai menantu. Aku janji, aku akan berusaha membuat mama bisa menerimaku." Ucap Alea dengan lembut.
Mama Saras mendengus, ia membuang muka karena malas menatap wajah Alea yang sok cantik itu.
"Ma, Pa. Kalian istirahat lah, aku dan Alea keluar dulu." Tutur Tristan dengan wajah tanpa ekspresi.
Tristan lalu mengajak Alea keluar dari kamar orang tuanya, ia merangkul bahu sang istri lalu mengusap-usap perut besar istrinya.
"Sudah minum susu?" Tanya Tristan.
Tristan merubah suasana di sana, ia tidak mau Alea terus terpaku pada ucapan ketus sang mama.
"Sudah, Papi. Sekarang aku mau makan, tapi papa yang suapi." Jawab Alea terkekeh.
Tristan menunduk, ia berlutut di depan perut istrinya lalu memberikan kecupan di sana.
"Mau disuapi papi? Eumm … baiklah, ayo kita makan." Ajak Tristan lalu mendongakkan kepalanya.
Tristan bangkit dari posisinya, ia melingkarkan tangannya di leher sang istri lalu menyatukan keningnya dengan kening istrinya.
"Mulai besok aku akan kembali ke kantor, bagaimana menurut kamu?" tanya Tristan.
"Tidak bagaimana, Mas. Aku senang jika kamu ke kantor lagi, sebab aku tahu suami aku ini sangat suka bekerja." Jawab Alea mencubit gemas bibir suaminya.
Tristan manggut-manggut, ia mengecup bibir istrinya lalu mengajak Alea untuk makan.
__ADS_1
MAMA SARAS ENAKNYA DI SOP ATAU DI SEMUR YA??
Bersambung.........................