
Tristan kembali ke rumah sakit dengan membawa rujak yang istrinya inginkan. Namun saat ia sampai disana, ternyata Alea tertidur.
Aira masih ada di sana, gadis itu juga tampak hampir tertidur jika tidak mendengar suara pintu yang terbuka.
"Tuan sudah kembali, nona menunggu anda sejak tadi." Kata Aira seraya bangkit dari duduknya.
Tristan mengangguk singkat. "Terima kasih sudah menjaga Alea, kau dan Mondy boleh pergi." Balas Tristan tanpa menatap Aira, dan terus menatap istrinya.
Aira tampak bingung melihat raut wajah majikannya itu yang seperti banyak pikiran, namun rasa penasarannya itu tidak di acc oleh Mondy.
"Tuan, kami permisi." Pamit Mondy.
Mondy menatap Aira yang masih menatap Tristan, ia berdecak pelan lalu menarik kerah belakangan Aira sampai keluar ruangan.
"Aaahh om ngapain, kenapa aku di seret kaya kambing!!" rengek Aira berusaha melepaskan tangan Mondy.
Karena tinggi Mondy lebih dari Aira, ia dengan mudahnya menarik kerah belakang gadis itu sampai kedua tangan Aira sedikit terangkat.
"Kau memang bukan kambing, tapi kau kucing liar." Balas Mondy masih terus menyeret Aira.
"Aaaa … Om, lepasin aku. Malu dilihatin banyak orang!!" rengek Aira lagi.
Sungguh! Saat ini Aira sangat malu pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Mereka semua pasti berpikir bahwa ia adalah anak kecil yang sedang dimarahi kakeknya.
"Tidak perlu merengek, dasar anak kecil." Cibir Mondy dengan wajah datarnya.
Aira tidak menyahut, ia membalik badan lalu memukul lengan bahu Mondy cukup kencang.
Aira cukup terkejut saat sadar pukulannya terlalu kencang, maka tanpa pikir panjang gadis itu langsung berlari meski sedikit tertatih.
"Gadis itu." Geram Mondy penuh penekanan.
Mondy pun segera mengejar Aira, berani sekali bocah kecil itu memukulnya dengan tenaga.
Saat keduanya sudah ada di luar rumah sakit, dan Mondy berhasil menemukan Aira yang masih berusaha untuk lari. Mondy diam di tempat, ia membiarkan gadis itu lari dan akan ia kejar.
Saat Aira menoleh ke belakang dan mendapati Mondy, ia berniat untuk mempercepat larinya, namun ia malah tersandung batu sehingga membuatnya tersungkur.
"Awww …" ringis Aira pelan.
Mondy yang melihat itu cukup terkejut, namun sesaat kemudian ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku gadis kecil itu.
Mondy berlari kecil mendekati Aira, ia tidak langsung menolong gadis itu dan malah mentertawakan nya.
"Hahaha, kualat kamu." Ucap Mondy sambil menunjuk Aira beberapa kali.
Demi Tuhan, jika ada karyawan Tristan yang melihat, mereka semua pasti akan tercengang. Bagaimana tidak, Mondy terkenal dingin dan datar. Jangankan tertawa, untuk tersenyum saja rasanya mahal sekali.
Aira berdecak. "Om nyebelin banget, bukan bantuin malah ketawa." Cibir Aira berusaha untuk bangkit.
Mondy belum menghentikan tawanya, namun ia sigap membantu gadis itu untuk berdiri, bahkan membersihkan kotoran di lutut Aira.
"Puas ya, Om?" tanya Aira ketus dan tatapan yang sinis.
__ADS_1
Mondy menghentikan tawanya, ia mendatarkan wajahnya lalu berdehem singkat.
"Lukamu tidak kenapa-napa kan, apa ada yang sakit?" tanya Mondy mengalihkan pembicaraan.
"Iya, nggak apa-apa." Jawab Aira manggut-manggut.
"Ayo kita pulang." Ajak Mondy melangkah duluan meninggalkan Aira.
Aira segera mengejar dengan berlari, namun saat sudah dekat si Mondy malah berhenti sehingga kening Aira menabrak punggung lebar pria itu.
"Kamu jalan jangan gunain kaki aja, di pakai juga indera penglihatan nya." Ketus Mondy.
Aira lagi-lagi hanya bisa mendengus, bisa-bisanya pria itu marah padahal jelas-jelas salah. Mondy yang berhenti tiba-tiba, malah menyalahkan Aira.
"Ishh, iya-iya maaf." Balas Aira pasrah.
Mondy tersenyum tipis, ia pun kembali melanjutkan langkah menuju mobilnya yang ada di parkiran paling pojok.
Aira mengekor, kali ini ia menggunakan kaki dan juga matanya agar tidak menabrak pria itu lagi.
"Hais, Aira! Bagaimana bisa kau tertarik pada pria galak dan dingin ini." Gerutu Aira memukuli kepalanya yang terdapat bekas luka.
"Awww …" Aira tiba-tiba meringis dan itu berhasil membuat Mondy langsung menghampirinya.
Mondy menangkup wajah Aira, ia lalu memperhatikan kepala Aira baik-baik, takut jika luka gadis itu terbuka.
"Dimana yang sakit, Ai?" tanya Mondy begitu khawatir.
Keduanya seakan terhipnotis oleh tatapan masing-masing, sehingga tidak ada pergerakan apapun.
Suara klakson sebuah kendaraan menyadarkan keduanya. Baik Mondy dan Aira langsung salah tingkah dan menjauhkan diri.
"Eumm, Om. Ayo pulang!" ajak Aira tanpa menatap Mondy.
Mondy tidak menjawab dan langsung berjalan mendekati mobilnya kembali.
Aira menghela nafas, ia menatap tubuh bagian belakang Mondy sambil mengusap-usap dadanya.
"Hampir jantung aku keluar dari tempatnya." Gumam Aira geleng-geleng kepala.
Aira pun segera menyusul Mondy, ia tidak mau jika sampai ditinggal oleh pria itu dan harus naik taksi. Aira tidak memiliki uang saat ini.
Sementara itu di rumah sakit, bukan Tristan dan Alea, melainkan Firda dan Fade. Hari ini pria itu sudah diperbolehkan pulang, sehingga Firda harus membantunya.
Masalah barang-barang diurus oleh orang suruhan kedua orang tua Fade, dan Firda hanya perlu membantu Fade duduk di kursi rodanya.
"Ayo, aku bantu." Firda menarik tangan Fade lalu melingkarkan nya ke leher.
Setelah itu, Firda memapah Fade dengan hati-hati, sebelum akhirnya pria itu duduk di kursi rodanya.
"Sudah nyaman?" tanya Firda penuh perhatian.
Fade menatap Firda, gadis itu adalah mantan kekasihnya yang sangat ia cintai sebelum sebuah kebenaran terbongkar.
__ADS_1
Andai saja Firda tidak berkhianat malam itu, mungkin sekarang Fade akan berbuat baik padanya. Fade sendiri tidak ingat apapun, ia bahkan tidak tahu kapan dirinya menikahi Firda.
"Fad, aku tanya sama kamu." Ucap Firda menyadarkan Fade dari lamunannya.
Fade berdehem, ia tidak menjawab apapun dan langsung menjalankan kursi rodanya sendiri.
"Fad, tunggu sebentar lagi ya." Tutur Firda dengan tangan yang tanpa sadar memegang bahu Fade.
Fade menatap tangan Firda, ia hendak marah namun baru sadar jika jari istrinya itu tidak ada cincin.
"Dimana cincin kawin nya?" tanya Fade.
Kening Firda mengkerut mendengar pertanyaan Fade, ia belum konek sama sekali dengan kata-kata pria itu.
"Jika aku menikahimu, lantas dimana cincin pernikahan kita?" tanya Fade memperjelas.
Firda langsung terdiam, ia menarik tangannya dari bahu Fade lalu menyembunyikan tangannya itu di belakang.
Firda bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Fade ini.
"Kau berbohong kan, kita tidak menikah kan?" tanya Fade dengan sorot mata yang tajam.
Fade tidak percaya jika dirinya sudah menikahi mantan kekasihnya yang murahan ini, yang ia percaya hanya dirinya mau menikah dengan Linda.
"JAWAB! kau berbohong kan?" tanya Fade dengan bentakan.
"Fade!!!" suara seorang wanita terdengar dari arah pintu.
Firda dan Fade langsung menoleh, ternyata itu adalah mamanya Fade.
"Kamu tanya cincin kawin, ini cincin nya." Ucap mamanya Fade seraya meletakkan sebuah cincin di telapak tangan putranya.
Firda dan Fade sama-sama menatap cincin itu. Firda tampak bingung, ia tidak tahu kali ini kebohongan apalagi yang harus ia katakan.
"Sekarang pasang di jari manis istri kamu. Mungkin Firda lupa jika kemarin dia menitipkan ini sama mama." Tutur mamanya Fade.
Fade mendengus, ia menarik tangan Firda lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Firda dengan cepat.
"Sudah! Sekarang aku mau pulang." Ucap Fade dengan kesal.
Firda membiarkan ibunya Fade mendorong kursi roda, sementara dirinya mematung sambil menatap jarinya yang tersemat cincin.
Dulu, inilah impian Firda. Ia bisa memakai sebuah cincin yang Fade pasangkan, tapi mimpi itu hancur karena tuduhan Linda.
Kini mimpi itu terkabul, namun dengan cara yang salah. Cincin itu tersemat di jarinya bukan atas dasar cinta, melainkan kebohongan.
Firda memejamkan matanya, ia hanya bisa mengusap dadanya dengan sabar.
"Tenanglah, kamu kuat Fir." Gumam Firda pelan.
KOMEN dan LIKE KAMU DITUNGGU AKU YAA♥️
Bersambung..........................
__ADS_1