
Mondy membuka matanya dan sudah tidak menemukan istrinya di sebelahnya. Mondy memutuskan untuk mandi dan bersiap ke rumah Tristan hari ini, tentu dengan mengajak Aira juga.
Selesai mandi, Mondy melihat sudah ada pakaian yang tergantung di pintu lemari. Tentu saja yang menyiapkan itu adalah Aira, istri kecilnya.
Mondy lekas memakai baju yang sudah Aira siapkan. Tidak lupa ia juga memakai jam tangan, merapikan rambut dan memakai parfum.
"Dimana istri cantikku." Gumam Mondy seraya melangkah keluar dari kamar.
Mondy pun pergi ke dapur, saat sampai di sana ia melihat seorang gadis cantik memakai dress putih diatas lutut sedang asik berkutat dengan peralatan dapur.
Rambut gadis itu terlihat masih digulung oleh handuk, yang menandakan bahwa ia tadi keramas.
Jangan berpikir macam-macam, Mondy belum menyentuh Aira sama sekali. Ia tidak mau terburu-buru apalagi terkesan memaksa Aira, sehingga ia akan menunggu dengan sabar.
Mondy tersenyum tipis, ia berjalan mendekati gadis cantik yang berstatus sebagai istri sahnya.
"Ai." Panggil Mondy saat ia sudah berdiri tepat di belakang Aira.
Aira terkejut, ia membalik badan dan semakin syok dengan posisi tubuh Mondy yang terlalu dekat dengannya.
"Om sudah bangun, selamat pagi." Sapa Aira dengan senyuman manis.
Sebuah senyuman yang bisa dibilang Aira paksakan agar ia terlihat baik-baik saja di depan Mondy.
"Pagi." Balas Mondy dengan wajah yang sedikit datar.
Seperti biasa, Mondy akan mengedepankan gengsinya daripada perasaannya sendiri.
"Aku udah buat sarapan, Om duduk aja." Tutur Aira dengan lembut.
Mondy nurut, ia pun duduk di meja makan yang hanya tersedia 4 kursi. Mondy pun duduk dengan posisi menghadap Aira yang masih asik memasak.
Aira istrinya, Aira miliknya, Aira adalah gadisnya, dan Aira adalah masa depannya. Semua yang ada di diri Aira, adalah milik Mondy.
__ADS_1
Aira membalik badan, membuat Mondy buru-buru mengalihkan pandangannya dari istri kecilnya itu.
"Silahkan, Om. Hari ini aku masak ayam bumbu mentega sama telur goreng doang. Bahan makanan di kulkas habis, sepertinya kita harus belanja." Ucap Aira seraya menata masakannya.
Mondy mengangguk. "Baiklah, kita belanja sepulang dari rumah tuan Tristan." Balas Mondy setuju.
Aira tersenyum lagi, ia pun mengambilkannya Mondy makanan selayaknya istri melayani suaminya di meja makan.
"Makan, Om." Tutur Aira lalu dirinya duduk di sebelah Mondy.
Mondy mengangguk, ia pun segera menyantap makanan yang istrinya buat. Rasanya benar-benar enak, dan Mondy merindukan ini.
"Kamu tahu, Ai. Saya rindu makan masakan kamu," ucap Mondy dengan jujur.
Aira tersenyum senang. "Om nggak usah khawatir, mulai hari ini aku akan selalu masak makanan enak buat Om." Balas Aira.
Mondy mengangguk, ia lalu mengusap kepala istrinya tanpa sadar.
"Ayo habiskan makanan nya dan kita pergi." Kata Mondy.
Mondy mencegah Aira pergi dengan memegang tangan gadis itu.
"Nanti saja, makan dulu." Tutur Mondy.
Aira menganggukkan kepalanya, ia akan menurut. Aira pun kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.
"Ai, setelah berbelanja nanti mungkin saya harus pergi dan akan pulang malam. Ada sesuatu yang tuan Tristan perintahkan." Ucap Mondy memberitahu.
"Kenapa Om harus bilang? selama ini Om nggak begini." Tanya Aira mengerutkan keningnya.
Mondy geleng-geleng kepala, ia menyetil pelan kening istri kecilnya.
"Karena sekarang kamu istri saya, Ai. Sudah sewajarnya saya mengatakan ini kepada istri saya." Jawab Mondy gemas sendiri.
__ADS_1
Aira tersenyum, kepalanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Mondy barusan.
Selesai sarapan, Mondy dan Aira pun langsung bergegas pergi ke rumah utama untuk menemui Alea yang sangat ingin bertemu Aira.
Tidak lupa sebelumnya Aira sudah mengurus rambutnya yang sekarang tergerai dengan cantik.
Selama perjalanan, Mondy tidak henti melirik istri kecilnya. Ia merasa terpesona melihat penampilan Aira yang sebenarnya sudah biasa di perlihatkan, namun entah mengapa kali ini terasa spesial.
Apa karena Aira sudah menjadi seorang istri sehingga kecantikannya bertambah menurut Mondy.
"Ai." Panggil Mondy.
Aira menoleh. "hmm?" sahut Aira berdehem dengan suara yang lembut.
"Tidak, hanya ingin memanggil. Saya kira kamu melamun," jawab Mondy menggeleng pelan.
"Oh, baiklah." Balas Aira singkat.
Sejak kemarin, Mondy merasakan sesuatu yang berbeda dari Aira. Bukan hanya wajahnya yang bertambah cantik, tapi sikapnya berubah menjadi lebih cuek.
Aira yang biasa bawel, dan banyak bicara kini berubah menjadi bicara seadanya saja. Seperti ada yang membuat gadis itu berubah.
"Ai, apa kamu baik-baik saja? Maksud saya, apa keluargamu mengubungi?" tanya Mondy penasaran.
"Aku bahkan nggak pegang ponsel, Om. Bagaimana mereka akan menghubungiku," kata Aira mengangkat kedua tangannya.
"Ponsel kamu masih saya simpan, nanti di pakai ya." Ucap Mondy.
"Baik." Balas Aira singkat.
Lagi, jawaban singkat itu membuat Mondy semakin yakin bahwa sesuatu telah terjadi. Gadis yang biasanya bawel, kini irit bicara.
"Apa yang terjadi, Ai?" batin Mondy bertanya-tanya.
__ADS_1
OM MONDY NGGAK PEKA ðŸ˜
Bersambung................................