Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Rasa sakit


__ADS_3

Tristan tersenyum lebar melihat istrinya sedang duduk bersantai di ruang tamu. Alea tampak begitu menikmati tontonan nya, sehingga tidak menyadari bahwa ia sudah kembali dari kantor.


Tristan mendekati sang istri, ia lalu mencium pipi Alea dan barulah wanita itu sadar akan kehadirannya.


"Mas!!" panggil Alea dengan manja.


Tristan terkekeh, ia mencium kening Alea lalu memeluknya dengan erat.


"Hari ini ngapain aja, nggak berbuat sesuatu yang melelahkan kan?" tanya Tristan seraya mengusap bibir Alea.


Alea mengatupkan bibirnya. "Jangankan melakukan hal berat, aku bahkan tidak dibiarkan mengambil minum sendiri." Jawab Alea diakhiri helaan nafas.


Tristan menciumi wajah Alea tanpa ada yang terlewat. Seperti biasa ia tidak pernah peduli pada orang-orang di sekitarnya, ia akan fokus mencium istrinya saja.


"Mas, kamu bawa apa?" tanya Alea mengintip penasaran.


"Kue kesukaan kamu," jawab Tristan seraya memberikannya kepada Alea.


Alea memekik senang, kebetulan sekali karena saat ini pikirannya sangat kacau dan butuh yang manis-manis.


"Ahh terima kasih, Mas Tristan." Ungkap Alea memeluk Tristan lagi.


"Sama-sama, Sayang. Aku mandi dulu ya, kamu makan kue nya duluan aja." Tutur Tristan.


"Kamu udah makan malam belum?" Tristan bertanya lagi.


"Belum, kan mau makan sama kamu." Jawab Alea tersenyum manis.


Tristan manggut-manggut, ia lalu segera pergi ke kamar untuk mandi dan bersih-bersih diri sebelum makan malam bersama sang istri nanti.


Alea hendak pergi ke dapur untuk memindahkan kuenya ke piring, namun ia terhenti saat mendengar suara dari luar rumah.

__ADS_1


Sementara itu diluar rumah, terlihat Mondy yang sudah mau pulang namun dihentikan oleh suara Aira yang memanggilnya dengan keras.


"Ada apa, saya mau pulang." Ucap Mondy dengan dingin.


Aira kala itu sudah tidak memakai baju pelayan, ia memakai sebuah kaos dan rok selutut yang entah darimana ia dapatkan.


Walaupun pakaiannya sederhana, hal itu tidak bisa menutup kecantikan wajah Aira malam itu. Rambutnya yang tergerai, dan wajahnya yang memang putih alami.


"Om udah mau pulang ya, padahal aku mau ajak Om makan seblak di belakang. Aku baru aja masak sama bibi lain." Kata Aira dengan suara lembutnya.


"Saya tidak punya waktu, besok saya harus bekerja." Balas Mondy kemudian langsung pergi meninggalkan Aira begitu saja.


Aira menghela nafas, ia menatap Mondy lalu melambaikan tangannya ddnhb senyuman yang tidak pernah berubah.


"Hati-hati, Om." Ucap Aira, namun tidak dibalas oleh Mondy.


Mobil Mondy pun meninggalkan area rumah utama Tristan, ia harus harus segera sampai di apartemen miliknya, karenanya besok ia harus kembali bekerja.


Tanpa Mondy dan Aira sadari, sejak tadi Alea memperhatikan interaksi keduanya. Ia sadari siang menunggu Aira yang mungkin saja akan masuk ke dalam kamarnya, tetapi ternyata tidak.


Alea penasaran kepada gadis itu, entah mengapa ia tertarik untuk mengobrol dengannya.


"Kira-kira hubungannya sama pak Mondy apa ya, duh … kok jadi kepo gini sih aku." Gerutu Alea memukuli kepalanya.


Alea pergi ke dapur, namun bukan untuk memotong kue dan memindahkan ke piring, melainkan hanya meletakkannya di atas meja makan.


Setelah itu, Alea pun pergi ke kamarnya. Ia akan makan malam dan makan kue bersama suaminya nanti.


Alea masuk ke dalam kamarnya, ia mendengar suara gemericik air yang menandakan bahwa suaminya itu masih ada di dalam sana.


Alea duduk dipinggir ranjang, ia melihat ponselnya miliknya menyala yang mana hal itu membuat Alea tahu bahwa ada pesan masuk.

__ADS_1


Tertulis nama sang kakak disana, dalam pesan itu Firda mengatakan bahwa ia kesal.


"Aku kesal sekali, Fade tidak mau berhenti mengikutiku, bahkan dia ada di rumah kita sekarang." Tulis Firda dalam pesannya.


Alea tertawa, ia membayangkan wajah kesal kakaknya saat ini. Alea tidak akan banyak ikut campur, sebagai adik ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kakaknya.


Walaupun Fade jahat, entah mengapa Alea merasa bahwa cinta pria itu untuk kakaknya memang benar-benar tulus.


Alea pernah melihat bagaimana Fade menatap kakaknya, ia bisa merasakan bahwa ada cinta yang tulus di mata pria itu.


Walaupun Alea punya penilaian baik, tetap saja keputusan final ada di Firda. Alea akan menyerahkan keputusannya pada kakaknya itu.


"Aku nggak bisa berbuat banyak, Kak. Tapi aku akan selalu mendoakanmu agar bahagia dengan pasanganmu nantinya." Gumam Alea.


Alea meletakkan ponselnya, ia lalu terdiam merasakan nyeri di perutnya. Setelah mengalami keguguran, Alea seringkali merasa sakit di area perut dan itu pasti karena proses kuret.


"Mhhh sakit." Lenguh Alea kesakitan.


Bersama dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Tristan keluar dengan pakaiannya, membuat Alea buru-buru merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.


Alea menggigit bibirnya, ia hanya merasa nyeri sedikit dan ia tidak mau jika sakitnya yang kecil ini membuat khawatir apalagi sampai merepotkan suaminya lagi.


"Sayang, kamu kok keringatan?" tanya Tristan lembut.


"Aku lapar." Jawab Alea seadanya.


Tristan terkekeh, ia lantas mengajak istrinya untuk makan malam bersama. Tristan benar-benar tidak tahu bahwa istrinya tengah kesakitan.


UPDATENYA DIKIT-DIKIT YA, ADA URUSAN DI RL SOALNYA 🤗


Bersambung...............................

__ADS_1


__ADS_2