Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Pasutri di pagi hari


__ADS_3

Tristan membuka mata ketika merasakan sinar matahari yang tiba-tiba menerpa wajah tampannya. Ia melihat Alea baru saja membuka tirai, lalu mendekati dirinya.


Tristan tersenyum lebar, ia membuka kedua tangannya dengan maksud meminta kepada sang istri agar masuk ke dalam pelukannya.


Alea menurut, ia tidak memiliki alasan untuk menolaknya, apalagi ia ingat bagaimana semalam Tristan terlihat begitu hancur.


Tristan mendekap tubuh mungil Alea dengan sangat erat. Ia menyukai aroma tubuh Alea dan juga kehangatan yang hanya Alea miliki menurutnya.


"Mas, aku sudah masak. Kita sarapan yuk," ajak Alea dengan posisi memeluk suaminya.


Tristan memejamkan mata, meresapi rasa hangat dan damai yang selalu ia dapatkan saat memeluk Alea.


"Nanti, Sayang. Aku masih butuh pelukan kamu yang hangat," balas Tristan semakin mengeratkan pelukannya.


Alea tersenyum tipis, ia mengusap-usap dada bidang Tristan yang masih tertutupi oleh kemeja.


Semalam Tristan benar-benar tertidur, bahkan ia tidak sempat untuk mengganti pakaiannya karena terlalu lelah dan sedih.


"Tapi aku udah masak, masa kamu tega nggak menghargai usaha aku." Bisik Alea sambil menggambar abstrak di dada suaminya.


Tristan membuka mata, ia menundukkan kepalanya lalu mencium kening istrinya itu dengan hangat dan penuh kasih sayang.


"Iya iya, aku mandi dulu ya." Balas Tristan mengalah.


Alea memekik senang, ia lantas bangkit dari posisinya, namun Tristan menarik tangannya kembali sehingga ia kembali duduk di pinggir ranjang.


"Sini cium dulu." Kata Tristan lalu mencium bibir Alea.


Alea lagi-lagi tidak menolak, ia membalas setiap kecupan yang Tristan berikan. Ia melingkarkan tangannya di leher Tristan, membuat ciuman keduanya semakin intens.


Tristan mencengkram lembut tengkuk sang istri, ia mencium bahkan sesekali menggigit bibir bawah Alea yang manis.


Alea tidak bisa bernafas, ia lantas mendorong tubuh sang suami pelan, sampai akhirnya ciuman itu terlepas.


"Mas, udah. Aku mau siap-siap ke kantor, kamu juga mau ke rumah sakit 'kan?" Ucap Alea mengingatkan usai dirinya menarik diri dari ciuman sang suami.


Tristan terkekeh, ia mencium kedua pipi Alea dengan penuh rasa gemas.


"Kamu nggak perlu ke kantor, Sayang. Selama aku mengurus mama, Mondy yang akan menghandle semuanya." Tutur Tristan setelah puas menciumi wajah istrinya.


"Tapi aku juga harus disana dong, aku kan juya harus bantu pak Mondy." Sahut Alea.

__ADS_1


Ekspresi wajah Alea yang seperti itu membuat Tristan rasanya ingin sekali menarik dan mengajak Alea untuk olahraga di atas ranjang king size milik mereka.


Namun Tristan sadar akan kondisi, ia harus menjenguk sang mama di rumah sakit sekarang.


"Nggak! Pokoknya kamu nggak boleh ke kantor, mending kamu ke rumah kakak kamu aja." Ujar Tristan.


Alea menggeleng. "Kakak ku bekerja sekarang, dan percuma saja jika aku kesana." Tolak Alea.


Tristan manggut-manggut, ia merapikan rambut Alea dan menyelipkan nya ke belakang telinga istrinya.


"Mau ikut aku jenguk mama?" tawar Tristan.


Alea terdiam, ia menatap Tristan dengan tubuh yang tiba-tiba menegang. Jika ia ikut bersama Tristan, itu saja saja seperti bunuh diri.


Alea tahu diri, ia bukanlah menantu yang diakui. Jika dirinya datang, maka sudah diyakini bahwa ia akan di caci maki oleh kedua orang tua Tristan.


Mau bagaimanapun, disini Alea yang salah. Ia telah membuat seorang suami akan bercerai dengan istrinya, dan memilih untuk bersamanya.


Alea sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Linda, Tristan menolak untuk cerita sekarang dan langsung mengatakan bahwa ia akan menceraikan Linda.


"Sayang." Tristan memegang bahu sang istri yang tiba-tiba terdiam.


"Nggak, Mas. Aku belum berani bertemu orang tua kamu," tolak Alea.


Tristan mengangguk paham, untuk saat ini tidak masalah. Namun setelah ia bercerai dengan Linda, maka ia akan membawa Alea ke hadapan kedua orang tuanya dan mengakui istrinya itu sebagai menantu satu-satunya keluarga Kusuma.


"Aku mandi dulu ya." Tristan turun dari ranjang, lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Alea sendiri memilih untuk merapikan tempat tidur sebelum keluar dan sarapan bersama sang suami.


Alea juga menyiapkan pakaian untuk Tristan, dan meletakkannya di pinggir ranjang. Ia kemudian berjalan ke arah meja rias untuk membenarkan rambutnya.


Tristan sudah melarang ia pergi ke kantor, maka Alea tidak akan pergi. Alea sebenarnya tidak enak pada Mondy dan seluruh karyawan kantor, namun ia bisa apa.


15 menit kemudian, Tristan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Otot tubuhnya tercetak jelas, termasuk bentuk kotak-kotak di perutnya.


Tristan tidak menemukan sang istri di kamar yang sudah rapi, ia yakin bahwa Alea kini sudah menunggunya di meja makan.


Tristan lantas segera bersiap, ia tidak lupa memakai parfum di beberapa titik tubuhnya, sajwki akhirnya keluar untuk menyusul istrinya.

__ADS_1


Saat sampai di meja makan, istrinya itu langsung bangkit dan mengambilkan sarapan untuknya.


"Terima kasih, Sayang." Ucap Tristan dibalas senyuman oleh Alea.


Tristan dan Alea sarapan bersama layaknya suami istri di pagi hari. Hal-hal kecil seperti ini tentu saja tidak pernah Tristan rasakan saat menikah dengan Linda.


Linda adalah wanita sosialita dan gengsi tinggi, ia tidak akan membiarkan kuku cantiknya rusak hanya karena memasak.


Bertahun-tahun menikah dengan Linda, tidak pernah sekalipun Tristan merasakan masakan wanita itu.


Tristan menatap Alea, ia sangat beruntung bisa mendapatkan istri yang supel seperti Alea. Bukan hanya cantik dan pintar merawat diri, melainkan juga pintar memasak, mengurus rumah dan mengurusnya.


Diamnya Tristan membuat Alea bingung, ia lantas menepuk-nepuk punggung tangan sang suami.


"Mas, kok melamun. Ayo di makan," tutur Alea.


Hari ini Alea memasak sayur bayam jagung dan ayam goreng lengkap dengan sambal juga. Entah mengapa Alea sedang ingin memakan sayur itu.


Tristan tampak sangat menikmati makanan yang istrinya buat, hal itu membuat Alea senang dan semakin semangat untuk memasak setiap hari.


Setelah selesai sarapan, Alea membawa piring bekasnya dan Tristan makan ke wastafel untuk ia cuci.


Bukan Tristan Sagara namanya jika tidak menjahili istrinya. Ia memeluk tubuh Alea sambil tangannya mengusap-usap perut rata sang istri.


"Mas, diam ya. Jangan sampai kamu yang aku gosok-gosok pakai sabun cuci piring." Tegur Alea saat Tristan semakin nakal dengan mencium lehernya.


Tristan tergelak, ia senang sekali karena Alea semakin terbuka padanya dan tidak terlalu kaku.


"Lucu banget nyonya Tristan." Bisik Tristan sembari mengusap dan mencium puncak kepala Alea.


Jika boleh jujur, Tristan sangat memimpikan hal ini. Ketika dirinya menikah, ia bisa makan masakan istrinya, dan akan memeluknya seperti ini saat sedang mencuci piring.


Tristan tidak mendapatkannya dari Linda, namun ia mendapatkannya dari Alea. Hal itulah yang semakin membuat Tristan jatuh cinta kepada gadis yang usianya terpaut 7 tahun darinya.


Tristan tidak masalah jika Alea belum mencintainya, ia akan terus berusaha dengan memperlakukan Alea secara hangat dan penuh kasih sayang, sehingga benih-benih cinta akan muncul dengan sendirinya.


Semua butuh waktu, dan biarlah waktu berjalan dan menjawabnya sendiri.


EUMMM .... BAHAGIANYA KALIANNšŸ–¤


Bersambung...............................

__ADS_1


__ADS_2