
Mondy pergi dari markas karena ia masih memiliki pekerjaan lain dari Tristan. Masalah Linda biarlah urusan anak buah Tristan sementara ini, dan ia akan mengurus perintah Tristan lainnya.
Mondy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sudah menghubungi beberapa orang kenalannya untuk mencari seorang wanita yang siap untuk jadi pengawal pribadi Alea.
Benar, Tristan meminta Mondy untuk mencarikan Alea pengawal pribadi sebab pria itu tidak mau jika istrinya kembali terancam.
Meski Linda sudah ada dalam penyekapan mereka, tapi mereka tidak bisa menganggap bahwa semua telah selesai, ditambah lagi dengan kedua orang tua Tristan yang menentang Alea.
Saat sedang menelpon, tanpa sengaja Mondy menjatuhkan ponselnya ke bawah. Ia berdecak sebal, adegan ini persis seperti di film.
"Jangan sampai aku menabrak orang." Gumam Mondy seraya berusaha mengambil ponselnya.
Definisi ucapan adalah doa.
Mondy membelalakkan matanya ketika mobil yang ia kendarai hampir menabrak seseorang. Beruntung ia menginjak rem tepat waktu, namun tetap membuat orang itu terjatuh.
"Astaga!!" gumam Mondy buru-buru keluar dari mobilnya.
Mondy melihat seorang gadis berbaju putih tengah terduduk sambil memegangi sikunya yang berdarah, ia lantas berlutut di depan gadis itu.
"Nona, kau tidak apa-apa?" tanya Mondy pelan.
Gadis itu mendongak membuat Mondy bisa melihat wajah gadis itu yang penuh air mata. Sudut bibirnya berdarah dan jangan lupa mata sembab nya.
"O-om, tolong aku. Bawa aku pergi dari sini, aku mau di bunuh om." Ucap gadis itu dengan bibir yang gematar.
"Apa, maksudmu apa?" Tanya Mondy bingung, apalagi gadis di depannya ini asal panggil dirinya om saja.
Gadis itu berusaha mengatur nafasnya, ia menoleh ke arah tempat yang tidak memiliki pencahayaan.
"Jika om tidak mau menolongku, yaudah aku pergi sendiri." Ucap gadis itu bangkit dari duduknya lalu hendak berlari.
Mondy buru-buru menarik kerah baju yang gadis itu pakai. "Kau mau berlari terus? Ayo masuk ke mobil saya!" Ucap Mondy.
Gadis itu buru-buru masuk ke dalam mobil, dan Mondy pun sama. Setelah keduanya masuk, barulah Mondy mengendarai mobilnya dan pergi.
Mondy melirik gadis di sebelahnya dengan aneh. Gadis itu memakai baju seperti blouse berwana putih dan rok diatas lutut.
Penampilannya sedikit berantakan. Mata sembab, sudut bibir berdarah dan rambut yang acak-acakan.
"Kau mau kemana sebenarnya?" Tanya Mondy tanpa menatap gadis itu.
Gadis itu menoleh, ia menyeka air matanya dengan cepat.
"Aku nggak tahu, tapi om bisa turunkan aku di jembatan ujung situ." Jawab gadis itu menunjuk ke arah depan.
Mondy mengerem secara tiba-tiba, bahkan sampai membuat kening gadis itu terhantuk ke dashboard mobil.
Mondy menoleh, menatap gadis di sebelahnya dengan ngeri. "Kau manusia kan?" tanya Mondy.
Gadis itu tersenyum lebar, bukan senyuman melainkan sebuah seringai.
__ADS_1
"Kau penunggu jembatan itu?" Tanya Mondy lagi.
Sungguh! Baru kemarin Mondy menonton film horor seperti ini. Menolong seorang gadis yang terluka, namun ternyata gadis itu adalah hantu.
Jangan sampai hari ini ia mengalaminya.
Gadis itu tiba-tiba tertawa dengan lepas, bahkan sampai memegangi perutnya.
Melihat gadis di sebelahnya ini tertawa tentu saja membuat Mondy kebingungan, entah apa yang terjadi.
"Om, ganteng-ganteng tapi penakut ya." Ucap gadis itu meledek.
"Makanya jangan kebanyakan nonton horor, Om. Aku ini manusia tulen, tapi pastinya calon hantu." Tambah gadis itu masih tergelak.
"Lalu mau apa kau turun di jembatan?" tanya Mondy kembali melanjutkan mobilnya.
"Om jangan bilang-bilang ya, aku mau bunuh diri, Om." Jawab gadis itu dengan senyuman lebar.
Mondy menoleh, walaupun bibirnya mengulas senyum, namun ia bisa melihat banyak sekali kesedihan dan rasa sakit di matanya.
"Sudah merasa sangat baik sampai mau menemui Tuhan secepat ini?" tanya Mondy tanpa menatap gadis di sebelahnya.
"Nggak sih, Om. Aku juga masih banyak dosa, tapi mending mati kan daripada nikah sama kakek-kakek." Jawab gadis itu tertawa.
Mondy mengerutkan keningnya, namun ia akan bertanya nanti. Mondy membelokkan mobilnya ke sebuah klinik untuk mengobati gadis di sebelahnya yang terluka.
"Kita ke sini ngapain, Om?" tanya gadis itu dengan wajah polosnya.
"Banyak hal yang bisa dilakukan di sebuah klinik, bisa mengobati atau juga menjenguk orang sakit, atau om mau bunuh diri juga dengan menyuntikkan diri dengan obat." Jawab gadis itu panjang lebar.
"Saya tidak bodoh." Balas Mondy lalu menutup pintu dengan kasar.
Gadis itu buru-buru menyusul, ia hendak berlari namun kakinya terasa sangat sakit. Selain karena lututnya terluka, telapak kaki nya juga tergores sebuah batu saat dirinya lari tadi.
Mondy menggeleng pelan, entah bagaimana ia bisa bertemu dengan gadis seperti ini.
"Ayo, cepatlah!" ucap Mondy dengan sedikit kesal.
"Sabar, Om. Mau kemana sih, emang lagi ujian apa buru-buru." Sahut gadis itu pelan.
Akhirnya gadis itu pun diobati oleh dokter. Mondy menunggu di luar, ia beberapa kali melihat jam yang melingkar di tangannya.
Karena menolong gadis aneh ini, ia sampai membuang-buang waktu begini.
"Om, aku udah selesai. Makasih ya udah ajak aku kesini," ucap gadis itu dengan senyuman lebar.
"Kemarilah!" pinta Mondy menjentikkan jarinya.
Gadis itu nurut, ia mendekati Mondy dan duduk di sebelahnya.
"Sekarang ceritakan pada saya, apa yang terjadi sampai membuatmu mau bunuh diri?" tanya Mondy serius.
__ADS_1
"Aku dijodohin keluargaku karena mereka punya hutang, dan pria nya itu lebih tua dari ayahku." Jawab gadis itu sedih.
"Coba Om bayangkan, masa gadis cantik dan lucu seperti aku nikah sama kakek-kakek. Kalo kakek-kakek nya kaya Om sih nggak apa-apa." Tambah gadis itu dengan percaya diri.
Mondy berdecak, ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut mendengar penuturan gadis di sebelahnya ini barusan.
"Berapa usiamu memangnya sampai-sampai mau dinikahkan?" tanya Mondy.
"19 tahun, Om." Jawab gadis itu.
"Oh, saya kira 19 bulan." Gumam Mondy sangat pelan sampai-sampai gadis itu tidak mendengarnya.
"Lalu kau tadi lari dari kejaran siapa?" tanya Mondy.
"Suruhan kakek tua itu, dia mau bunuh aku kalo aku nggak mau nikah dengannya." Jawab gadis itu kesal.
Gadis itu menatap Mondy dengan binar mata yang tajam, hal itu tentu saja membuat Mondy mengerutkan keningnya.
"Om, aku boleh nggak kerja di tempat Om?" tanya gadis itu dengan wajah memelas.
"Kenapa? Bukannya kau mau bunuh diri?" tanya Mondy balik.
"Iya sih, tapi setelah aku pikir rasanya itu dosa. Nanti kalo aku mati terus arwahnya penasaran, Om mau aku gentayangin." Jawab gadis itu menjelaskan.
Mondy bergidik, melihat gadis itu sekarang saja sudah menyeramkan apalagi jika gadis di sebelahnya ini benar-benar menjadi hantu.
"Memang kau bisa apa?" tanya Mondy tersenyum mengejek.
"Aku bisa patahin tulang-tulang Om kalo mau, gini-gini aku pemegang sabuk Pramuka." Jawab gadis itu diakhiri tawa.
Mondy benar-benar merasa pusing, ia baru tahu jika gadis 19 tahun ada yang seperti anak kecil begini, bahkan ia sampai pusing dibuatnya.
"Oh iya, Om. Nama aku Aira, Om bisa panggil aku Aira atau sayang." Ucap gadis yang ternyata bernama Aira itu.
Tangan gadis itu terulur untuk menjabat tangan Mondy, tapi ia tidak dibalas oleh pria itu sama sekali.
"Jika menjadi asisten rumah tangga, apa kau mau?" Tanya Mondy ragu-ragu.
Bagaimanapun gadis muda seperti Aira ini pasti sangat gengsi bekerja di rumah orang, namun ia salah.
"Mau, Om. Apa aja deh, tukang gali sumur aku juga mau." Jawab Aira dengan semangat.
Mondy menghela nafas, mungkin ia akan membawa Aira ke rumah utama dan menjadikannya pelayan disana. Mondy yakin Tristan tidak akan menolak.
"Om udah nikah?"
DUHH SIAPA NIHHH????
Btw, ingetin aku buat update sebab lagi yaaa🤣
Bersambung..............................
__ADS_1