Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Pengorbanan Aira


__ADS_3

Aira sudah memutuskan bahwa ia akan pergi dari apartemen Mondy ataupun rumah utama. Sepertinya apa yang Mondy katakan benar, bahwa ia adalah gadis ceroboh.


Aira tidak mau terus merepotkan Mondy, ia sudah sangat beruntung karena Mondy menyelematkan dirinya yang waktu itu mau dibunuh.


Aira sepertinya tidak cocok bekerja untuk Mondy ataupun rumah utama, makanya ia terus saja melakukan kesalahan.


Dulu di kampung, Aira terbiasa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah, namun ia tidak pernah membuat masalah sama sekali, entah kenapa disini ia seperti gadis yang tidak pernah mengerjakan itu semua.


Aira akan pergi, namun ia tidak akan kembali ke rumahnya di kampung. Aira tidak mau jika sampai dipaksa untuk menikah lagi dengan kakek tua itu, ia juga tidak akan sanggup menerima cambukan serta siksaan lainnya dari sang kakak.


Aira mungkin akan bisa bekerja di tempat lain, asal ia tidak terus merepotkan Mondy.


"Kamu bisa, Ai. Sudah cukup merepotkan om Mondy, sekarang waktunya pergi." Ucap Aira seraya merapikan beberapa pakaian yang ia bawa dari rumah utama.


Aira memang memiliki beberapa baju, itu pun di berikan oleh pelayan lain di rumah utama, jika tidak maka ia tidak akan memiliki pakaian selain baju yang ia pakai dulu.


"Sebelum pergi, aku akan ke rumah utama dan menemui nona Alea." Ucap Aira lagi.


Ya, Aira memutuskan untuk ke rumah utama sebelum benar-benar pergi, bagaimanapun ia harus tetap berpamitan dengan orang-orang yang sudah mau mempekerjakan nya. Ia juga akan menitip pesan kepada Alea untuk Mondy.


Sebelum benar-benar pergi, Aira menyempatkan diri untuk memasak makan malam agar Mondy tidak sampai memesan makanan diluar atau bahkan kelaparan.


Anggaplah itu sebagai ucapan terima kasih darinya setelah apa yang pria itu lakukan untuknya.


"Semoga om bahagia selalu ya, aku tahu kok sebenarnya om itu sangat baik." Ucap Aira dengan wajah penuh senyuman.


Aira menata semua makanan yang telah ia masak di meja makan, lalu barulah ia benar-benar pergi meninggalkan apartemen pria itu.


Aira pergi dengan membawa tas kecil berisi pakaiannya, ia tidak memiliki ponsel. Uang yang ia miliki pun pas-pasan, uang yang ia dapatkan setelah menjual anting miliknya kepada pelayan di rumah utama.


Aira naik kendaraan umum untuk sampai ke rumah utama, syukurlah karena ia tidak nyasar sama sekali.


"Jalan nya lumayan jauh." Gumam Aira saat dirinya sampai di depan gerbang komplek dimana rumah utama berada.


Angkutan umum hanya mengantar sampai sana, sisanya Aira harus jalan kaki atau naik ojek.


"Uangku pas-pasan, nggak mungkin naik ojek ke sana." Ucap Aira diakhiri helaan nafas pelan.


Akhirnya setelah 25 menit jalan kaki, ia pun sampai di rumah utama. Ia langsung masuk saja tanpa menekan bel lebih dulu.


Saat sampai di area rumah utama, ia tampak kebingungan melihat rumah yang sepi, bahkan penjaga pun tidak ada.


Aira hendak pergi ke rumah pelayan yang ada di belakang, namun ia dikejutkan dengan suara teriakan Alea di dalam rumah.


"Nona Alea." Gumam Aira kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah.


Saat ia masuk, teriakan Alea semakin jelas. Bahkan ia bisa mendengar teriakan itu dibarengi dengan suara tangisan.

__ADS_1


Aira pun berlari ke arah dapur, ia sedikit mengendap-endap ketika hampir sampai disana.


"Astaga." Aira membulatkan matanya melihat Alea di cekik oleh salah satu pelayan yang beberapa ia lihat dan ia ketahui sebagai asisten koki.


"Hiks … lepaskan aku, apa maumu." Ucap Alea sedikit terbatas karena lehernya di cekik.


"Mau ku? Aku mau membunuhmu." Jawab pria itu dengan lantang.


Aira dibuat menutup mulut saat mendengar jawaban pelayan itu, ia benar-benar syok mengetahui ada salah satu pelayan yang berniat jahat pada nyonya di rumah itu.


Alea semakin menangis, nafasnya sudah tercekat karena cekikan pria itu.


Aira yang melihat lantas mendekat pelan-pelan, ia lalu memegang tangan pria yang sedang memegang pisau dapur.


"Siapa kau hah!" bentak pria itu dengan marah.


"Lepaskan nona Alea, apa anda gila ingin membunuhnya." Ucap Aira dengan tidak kalah berteriak.


Pelayan yang diketahui namanya Romi itu lantas menghempaskan tubuh Aira sampai gadis itu terjerembab ke meja dapur.


"Aira!" panggil Alea begitu khawatir.


Pelayan Romi mendekati Aira, ia lalu menjambak rambut belakang gadis itu dengan penuh tenaga.


"Akhhh, sakit!!!" teriak Aira kesakitan.


Aira menggeleng tegas, ia tidak akan mungkin meninggalkan Alea seorang diri. Bagaimanapun ia harus menyelamatkan nona nya.


"TIDAK AKAN!" balas Aira menolak.


Pelayan Romi mengerem marah, ia menarik kepala Aira lalu membenturkannya ke kulkas.


Aira terjatuh dengan kening yang berdarah, hal itu membuat Alea histeris dan hendak menolong Aira, namun di cegah.


"Lepaskan tanganku, kau akan mati saat suamiku pulang dan mengetahui semua ini, Brengsekk!" ucap Alea penuh emosi.


Pelayan Romi tertawa. "Benarkah? Aku bahkan sudah merusak kamera cctvnya, dan aku juga sudah mengurung semua pelayan di rumah ini. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu." Balas pelayan Romi.


"Apa maumu, kau siapa?" Tanya Alea sedikit terbata.


"Aku? Aku adalah tangan kanan nyonya Linda, dan tugasku disini adalah menghabisi wanita penghancur rumah tangga orang lain sepertimu." Jawab pelayan Romi diakhiri tawa.


Alea sangat terkejut, ia tidak menyangka jika orang-orang suruhan Linda ada di rumah utama.


"Bersiaplah menerima tusukan ini, wahai nona Alea." Ucap pelayan Romi lalu melayangkan pisau dan hendak menusuk Alea.


Sayangnya bukan Alea yang tertusuk, melainkan Aira yang buru-buru menyelamatkan Alea sehingga pisau tertusuk perutnya sendiri.

__ADS_1


"Akhhhh!" Ringis Aira penuh rasa sakit.


"AIRA!!" Alea berteriak kencang saat melihat tubuh Aira perlahan merosot ke lantai.


Alea mengerem kesal, ia buru-buru mengambil apapun yang ada di dapur, seperti centong sayur berbahan stainless steel.


Alea langsung memukul kepala pelayan Romi sampai pria itu kesaktian.


Kesempatan itu Alea manfaatkan untuk mengambil pisau buah dan menodongnya ke arah pelayan Romi.


"Kau, aku akan membalas perbuatanmu." Ucap Alea membuat pelayan Romi tersenyum.


Pelayan laki-laki itu tidak berkata apa-apa dan langsung berlari meninggalkan rumah utama.


"N-nona Alea." Panggil Aira terbata.


Alea menangis dalam pelukan suaminya. Saat ini ia, Tristan dan Mondy ada di rumah sakit setelah mengantar Aira ke sana.


Gadis itu sudah tidak sadarkan diri sejak Mondy menggendong dan membawanya ke mobil tadi.


"Hiks … Aira menyelamatkan aku, Mas. Jika tidak ada dia, mungkin aku sudah mati." Ucap Alea sambil menangis.


Alea merasa sangat bersalah, ia telah membuat seorang gadis dalam bahaya, dan sekarang ia tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan keselamatan gadis itu.


"Tenang, Sayang. Aku yakin Aira akan baik-baik saja," bisik Tristan menenangkan, tangannya mengusap punggung istrinya.


Sementara itu Mondy, pria itu tampak menatap ruang periksa Aira dengan nanar. Ia jadi mengingat perbuatan gadis itu tadi pagi saat mengobati lukanya.


"Kenapa kau sangat ceroboh, Aira. Apa kau kira dirimu pahlawan," ucap Mondy sangat pelan.


"Pak Mondy." Panggil Alea yang seketika membuat Mondy langsung mendekati istri tuannya.


"Iya, Nona?" sahut Mondy sopan.


"Aira menitipkan pesan untukmu." Ucap Alea dengan suara bergetar.


"Maafkan saya, Nona. Tapi pesan apa?" Tanya Mondy mengerutkan keningnya.


"Tolong maafkan dia, dia juga mengucapkan terima kasih atas pertolongan mu. Dia bilang sangat menyesal telah membuat anda kerepotan, tolong jangan marah." Jawab Alea sedikit terbata-bata.


"Dia takut tidak selamat, makanya dia menitip pesan ini." Tambah Alea lalu kembali menangis dalam pelukan Tristan.


Mondy mengepalkan tangannya.


"Dasar gadis merepotkan, kau harus selamat jika ingin aku maafkan, Ai." Batin Mondy dengan perasaan berkecamuk antara kesal dan sedih.


Bersambung.......................

__ADS_1


Note. Tulisan bercetak miring adalah Flashback.


__ADS_2