Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Malam terakhir?


__ADS_3

Alea terbangun dari tidurnya dan langsung memilih untuk membersihkan diri. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam setelah melayani napsu atasannya itu.


Alea berendam untuk menenangkan pikiran. Ia bahkan hampir tertidur jika tidak mendengar suara ketukan pintu kamar mandi.


Alea membuka matanya, ia buru-buru memakai bathrobe dan segera membuka pintu. Tentu saja, Alea tahu siapa sosok pria yang sedang mengetuk pintu kamar mandi.


"Alea, lama sekali kamu–" Ucapan Tristan terhenti saat mencium aroma wangi di tubuh Alea.


Tristan memejamkan matanya sesaat, ia juga menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuh Alea yang body goals.


"Pak, jika anda mau mandi silahkan saja. Saya mau pakai baju," tutur Alea tanpa menatap Tristan.


Tanpa mendengar jawaban dari Tristan, Alea pun melangkah menjauhi pria itu. Namun baru beberapa langkah saja, Alea harus berhenti karena merasakan sebuah pelukan di belakangnya.


"Pak." Tegur Alea.


"Kenapa tidak membangunkanku, Alea." Bisik Tristan seraya menciumi leher jenjang Alea.


Alea memejamkan matanya, ia memegang erat tali bathrobe yang ia kenakan. Alea tidak mau jika harus melayani napsu Tristan lagi saat ini.


"Pak, saya lelah." Cicit Alea dengan kepala yang sedikit menempel dengan bahu tatkala dirinya merasa kegelian.


Tristan tidak menyahut, ia terus menciumi bahu dan leher Alea sembari tangannya merayap menuju perut Alea dan mencari pengikat bathrobe nya.


"Emhhhh, Pak. Jangan lagi, tolong. Saya benar-benar lelah," pinta Alea memohon.


Mata Alea terpejam, ia berusaha melepaskan pelukan pria itu, namun terasa sangat sulit. Tenaganya tidak akan sebanding dengan tenaga pria itu.


"Diamlah, Alea sayang." Bisik Tristan seraya terus memaksa untuk membuka bathrobe Alea.


Alea menggigit bibirnya, ia masih mempertahankan posisi bathrobe nya agar Tristan tidak lagi bisa menjamah tubuhnya.


Tristan kesal, ia hendak melampiaskan kekesalannya pada Alea. Namun niatnya itu terhenti saat mendengar suara telepon di atas ranjangnya.


Tristan melepaskan pelukannya, hal itu membuat Alea lega dan buru-buru berlari ke kamarnya.


Alea menutup pintu connecting dan tidak lupa menguncinya. Alea benar-benar sangat lelah, ia masih butuh istirahat.


Pinggang Alea saja masih terasa pegal dan sedikit panas, bagaimana bisa pria itu ingin meminta lagi.


Sementara itu Tristan, pria itu mendapatkan telepon dari orang tuanya yang meminta dirinya untuk segera pulang karena masalah perusahaan.


Tristan menolak, ia tidak mungkin pulang secepat ini, ia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Alea.

__ADS_1


"Pa, nggak bisa gitu dong. Cabang disini juga butuh aku!" seru Tristan tidak mau mengalah.


"Tapi pusat juga butuh kamu, Tristan. Papa nggak mau tahu, kamu pulang besok!"


Setelah mengatakan itu, telepon pun terputus. Tristan melempar ponselnya ke ranjang dengan asal, lalu dirinya duduk sambil memegangi kepalanya.


Tristan mengedarkan pandangannya, berusaha mencari Alea namun ternyata tidak ada.


Tristan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati pintu connecting.


Tristan mengetuknya beberapa kali. "Alea." Panggil Tristan.


Alea yang sedang memakai baju buru-buru memakainya, ia harus siap sebelum Tristan menerjang tubuhnya lagi.


"Oke, tenanglah!" ucap Alea seorang diri.


Alea pun segera membuka pintu kamar, ia melihat Tristan berdiri dengan wajah yang tidak baik-baik saja.


Melihat itu, seketika membuat Alea merasa bingung dan aneh.


"Pak, anda kenapa?" tanya Alea mengerutkan keningnya.


"Alea, peluk aku." Pinta Tristan membuka tangannya.


"Alea." Panggil Tristan lagi.


Alea akhirnya tidak menolak, ia memeluk Tristan dengan cukup erat karena reflek saat Tristan menarik pinggangnya tidak kalah erat.


"Mari habiskan malam ini dengan indah, besok kita harus kembali." Ajak Tristan berbisik tepat di telinga Alea.


Mendengarnya ucapan Tristan tentu saja membuat Alea bingung, pasalnya mereka berencana untuk ada di sana selama 10 hari.


"Kenapa, Pak?" tanya Alea memberanikan diri.


Tristan melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah cantik Alea menyatukan kening mereka berdua.


Tristan memejamkan mata, membuat Alea mengikutinya.


"Ada masalah di Jakarta, jadi kita harus pulang." Jawab Tristan.


Tristan yakin jika masalahnya bukan hanya tentang perusahaan, tapi ada hal lain. Mondy, asistennya itu tidak mungkin mengecewakan dirinya dengan pekerjaan yang tidak becus.


Tristan yakin bahwa masalahnya ada pada Linda, ia akan menghabisi wanita itu dengan bukti video yang ia punya jika wanita itu berani berkata macam-macam.

__ADS_1


"Kamu mau ke love anchor kan?" tanya Tristan dan Alea hanya mengangguk.


"Aku akan mandi, kita pergi setelah makan malam dibawah ya." Bisik Tristan seraya mengecup bibir Alea.


Alea terkejut, namun ia tidak bereaksi apapun selain melongo. Ekspresi wajah itu seketika membuat Tristan gemas.


"Menggemaskan." Kata Tristan seraya mengacak-acak rambut Alea yang sebelumnya sudah rapi.


"Pak, rambut saya!!" tegur Alea kesal.


Tristan hanya tertawa, ia pun pergi untuk membersihkan tubuhnya sebelum Alea murka dan melempar dirinya dengan sesuatu.


***


Tristan dan Alea pergi ke restoran untuk makan malam bersama. Malam ini mereka akan menghabiskan waktu bersama, sebelum besok harus pulang mendadak.


Alea sebenarnya masih ingin disana, suasananya adalah suasana yang Alea impikan.


Pantai cantik, dengan pasir yang halus di kaki.


"Alea, aku mau bilang sesuatu sama kamu." Ucap Tristan pelan.


Meskipun pelan, Alea masih bisa mendengar karena mereka berada di private room yang sengaja Tristan pesan untuknya.


"Aku minta maaf ya," bisik Tristan seraya menggenggam kedua tangan Alea.


"Maaf untuk apa, Pak?" tanya Alea bingung.


"Untuk kejadian dimana aku membuat kamu terluka. Aku benar-benar menyesal dan tidak sadar melakukannya." Jawab Tristan menjelaskan.


"Malam itu aku bertengkar dengan Linda, aku marah dan kesal sampai-sampai aku malah melampiaskan amarahku padamu. Aku benar-benar sangat menyesal." Tambah Tristan semakin pelan.


Alea menatap Tristan, ia bisa lihat banyak kesedihan di mata pria tampan itu.


"Iya, Pak. Saya tidak marah lagi, lupakan saja." Balas Alea dengan jujur.


Tristan menatap Alea, ia menarik tengkuk wanita itu dan mencium bibirnya. Alea tidak menolak, malah memejamkan mata dan membuka mulutnya.


"Alea, ada sesuatu lagi yang ingin saya katakan, tapi nanti." Ucap Tristan dan Alea hanya mengangguk.


Alea tersenyum, ia membiarkan tangannya digenggam oleh Tristan. Alea bisa merasakan bahwa saat ini perasaan Tristan sedang tidak baik-baik saja.


MAU NGOMONG APA YAAA???

__ADS_1


Bersambung...............................


__ADS_2