Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Momen paling ditunggu


__ADS_3

Tristan memeluk sang mama dengan erat. Sesuatu yang sudah lama tidak terjadi antara ibu dan anak itu.


Hari ini Alea memberitahu bahwa mama Saras telah menerima dirinya sebagai seorang menantu di keluarga Kusuma.


Mendengar itu sontak Tristan bahagia, ia tidak bisa menahan kerinduannya lagi pada sang mama sehingga langsung berlari dan memeluknya.


Mama Saras tampak menangis haru, ia sangat merindukan pelukan dari putranya dan hari ini ia mendapatkan nya kembali setelah perselisihan diantara mereka.


"Maafin mama ya, Tristan. Maaf karena mama baru bisa menerima istri kamu, dan mama benar-benar menyesal telah buta selama ini." Ucap mama Saras sambil mengusap punggung putranya.


Tristan melepaskan pelukannya, ia menggelengkan kepalanya lalu mencium tangan sang mama. Tubuh Tristan semakin merosot dan berlutut di hadapan mama Saras.


"Aku yang minta maaf, Ma. Maat atas keegoisan ku. Tapi aku senang, sekarang mama sudah bisa menerima istriku, terima kasih." Sahut Tristan lalu mencium punggung tangan sang mama.


Mereka semua yang melihat itu tentu saja bahagia, terutama Alea. Wanita itu tidak bisa menahan air matanya ketika akhirnya bisa melihat suami dan mertuanya akur.


Papa Jaya mendekati menantunya, ia mengusap kepala Alea dengan penuh kelembutan dan kasih sayang seorang ayah.


"Terima kasih ya, Nak. Hari ini kamu membuat ibu dan anak kembali berhubungan baik, kamu memang wanita yang baik." Ucap papa Jaya.


Alea tersenyum. "Nggak perlu makasih, Pa. Sebagai istri dan menantu, aku juga mengharapkan ini." Balas Alea lembut.


"Alea." Panggil mama Saras, membuat Alea menoleh ke arahnya.


"Kemarilah." Pinta mama Saras seraya mengayunkan tangannya.


Alea segera mendekat, ia ikut berlutut seperti suaminya sehingga mereka harus sama-sama mendongak untuk menatap mama Saras.

__ADS_1


Mama Saras memegang tangan keduanya, ia tersenyum hangat lalu mencium kening Alea dan Tristan bergantian.


"Kalian berbahagialah selamanya ya, Nak. Maaf telah membuat kalian kesulitan." Ucap mama Saras penuh kehangatan.


"Mama nggak perlu minta maaf, sekarang waktunya kita bahagia bersama." Sahut Alea seraya memberanikan diri untuk menyeka air mata di wajah ibu mertuanya.


Mama Saras tersenyum, ia memeluk Alea dan Tristan dengan erat. Akhirnya ia bisa sadar dari keegoisannya. Apa yang suaminya katakan selama ini adalah benar, kebahagiaan Tristan adalah yang utama.


Jika Tristan bahagia dengan pilihannya, maka dapat dipastikan mereka juga akan ikut merasakan kebahagiaan.


"Sekali lagi terima kasih, Ma. Mama memang ibu yang hebat, aku sangat menyayangi mama." Ungkap Tristan seraya menghadiahi pipi mama Saras dengan kecupan singkat.


"Sama-sama, ingat untuk selalu menjaga dan membahagiakan Alea ya." Sahut mama Saras dan dibalas anggukan kepala oleh Tristan.


Aira dan Mondy yang menjadi penonton pun ikut senang. Terutama Aira yang sampai basah wajahnya karena menangis haru. Bahkan Alkano yang ada dalam gendongannya mungkin terkena air matanya.


"Terlalu haru lihat mereka, hiks …" sahut Aira semakin sesegukan.


Tangisan Aira di dengar oleh mereka semua yang malah tertawa melihatnya. Ekspresi wajah Aira yang lucu membuat siapapun gemas melihatnya.


"Malu, sudah mau punya anak." Cibir Tristan pada adiknya.


Aira menekuk wajahnya. "Sayang, Kak Tristan meledekku …" rengek Aira dengan manja.


Mondy tersenyum, ia mengusap-usap puncak kepala sang istri lalu manggut-manggut.


"Nggak perlu kita balas, Sayang. Cukup culik Alkano dan bawa dia pulang ke rumah kita, maka kakak kamu akan kalah." Ucap Mondy lalu terkekeh.

__ADS_1


Tristan melototkan matanya. "Kau mau aku pecat ya!!" Ancam Tristan malah membuat tawa semakin terdengar.


***


Aira dan Mondy pulang usai menyaksikan momen yang paling mereka tunggu. Baik Mondy maupun Aira tentu sama-sama menantikan hal ini, mereka menunggu restu mama Saras untuk pernikahan Alea dan Tristan.


Sampai di apartemen, Aira langsung mandi dan bersih-bersih. Sementara Mondy sedang memasak makanan yang sedang istrinya inginkan.


"Demi istri tercinta, nggak apa-apa deh capek sedikit." Gumam Mondy lalu mengaduk bumbu yang sedang ia masak.


Beberapa menit lalu Aira mengatakan ingin makan tongseng kambing, namun karena sedang hamil Mondy menggantinya dengan daging sapi.


15 menit kemudian Aira datang dengan gaun tidur yang biasa ia gunakan, sementara masakan Mondy masih belum selesai.


Aira mendekat, ia melingkarkan tangannya di perut rata suaminya dan mencium punggungnya lembut.


"Sayang, aku udah lapar." Ucap Aira dengan manja.


"Sebentar lagi, Sayang. Sabar ya, cintaku." Sahut Mondy tetap fokus memasak.


Sejujurnya bisa saja Mondy membeli dari luar, namun bumilnya ingin ia masak sendiri. Jika Aira sudah merengek minta begini, mana mungkin Mondy menolaknya.


"Aku mau makan kamu aja deh." Ucap Aira lalu menggigit gemas lengan suaminya.


"Sayangg …" protes Ario dengan suara yang manja.


Aira hanya tertawa setelah berhasil memancing suaminya. Aira pun lekas menjauh daripada berakhir sesi keringat di dapur yang mengundang kenikmatan.

__ADS_1


Bersambung..............................


__ADS_2