
Alea dan Tristan baru saja keluar dari kantor setelah mengadakan pertemuan yang sebelumnya sudah di batalkan waktu itu.
Jam menunjukkan pukul 5 sore waktu sekitar, hal itu membuat Alea dan Tristan memutuskan untuk langsung pulang ke hotel dan istirahat.
"Alea, kau yakin tidak mau kemanapun?" tanya Tristan menoleh sesekali pada Alea.
Alea menggeleng. "Tidak, Pak. Saya ingin istirahat," jawab Alea tanpa menatap Tristan.
Tristan manggut-manggut, ia pun meninggikan kecepatan mobilnya agar bisa segera sampai di hotel dan istirahat.
Tristan bisa melihat wajah Alea yang kelelahan, dan itu pasti karena pertemuan hari ini yang benar-benar full.
Tristan menghela nafas, ia terdiam lalu menghitung sesuatu dengan jari-jarinya. Setelah beberapa saat, ia pun menoleh ke arah Alea yang sudah hampir tertidur.
"Alea, bagaimana jika kita makan dulu sebelum sampai di hotel?" tawar Tristan dan hanya dibalas deheman saja.
"Iya atau tidak?" Tanya Tristan.
"Terserah anda, Pak. Saya ikut saja," jawab Alea pelan.
Tristan senang, inilah yang ia sukai dari Alea. Gadis itu bisa menjadi penurut, galak dan juga lembut. Jangan lupa juga Alea terkadang bisa melucu, yang mana hal itu membuat Tristan bisa tertawa dengan begitu lepas.
Tristan pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran makanan khas Bali. Keduanya turun dan langsung memesan makanan disana.
"Mau minum apa?" Tanya Tristan menawarkan.
"Air mineral dan jus strawberry." Jawab Alea memberitahu.
Tristan manggut-manggut, ia pun sudah mengatakannya kepada pelayan disana tentang pesanan mereka.
Tristan memperhatikan Alea yang bermain ponsel, namun bibirnya sesekali mengeluarkan desisan.
"Alea, kau baik-baik?" tanya Tristan.
Alea menatap Tristan. "Ya, Pak. Saya baik-baik saja. Saat tamu bulanan saya selesai, saya memang sering merasa pusing." Jawab Alea dengan jujur.
"Tamu bulananmu sudah selesai?" Tanya Tristan memekik.
Alea menatap Tristan, ia langsung menutup mulutnya sendiri setelah sadar apa yang ia ucapkan tadi akan membuatnya sangat rugi.
"Tunggu, bukankah seorang wanita butuh enam sampai tujuh hari untuk selsai?" Tanya Tristan keheranan.
"Y-ya, Pak. Itu benar, saya tadi salah bicara." Jawab Alea berbohong.
Alea adalah tipe wanita yang tidak terlalu lama mendapatkan tamu bulanan nya. Mungkin sekitar 4 sampai 5 hari ia sudah bersih.
Tristan menyipitkan matanya, namun ia tidak menaruh kecurigaan apapun terhadap wanita di depannya ini.
Melihat Tristan yang sepertinya percaya membuatnya lega, setidaknya ia tidak akan di eksekusi oleh Tristan malam ini.
__ADS_1
Alea benar-benar takut, dirinya sedang halangan saja Tristan masih mengganggunya dengan sentuhan-sentuhan pria itu, apalagi saat ia tidak mendapatkan tamu bulanannya.
Pesanan mereka pun datang, Alea dan Tristan segera menghabiskan makanan yang telah mereka pesan sampai semuanya habis.
"Kau mau pesan sesuatu lagi?" tanya Tristan menawarkan.
"Tidak, Pak." Jawab Alea menggelengkan kepalanya.
Tristan manggut-manggut, ia pun memberikan kartu miliknya untuk membayar makanan yang telah mereka pesan.
"Terima kasih, Tuan dan Nyonya. Saya doakan kalian selalu bersama dan bahagia." Kata pelayan itu seraya melambaikan tangannya.
Tristan dan Alea hanya membalasnya dengan senyuman saja, lalu keduanya keluar dari restoran dan pergi dengan mengendarai mobil.
"Alea, beritahu aku jika dirimu sudah tidak datang tamu bulanan." Celetuk Tristan yang seketika membuat Alea merinding.
"Kenapa, Pak?" tanya Alea ragu-ragu.
"Kamu lebih tahu jawabannya." Jawab Tristan singkat.
Alea menghela nafas panjang, ia sudah tahu apa tujuan Tristan mengatakan hal itu kepadanya.
"Alea, 10 hari itu sangat lama." Batin Alea menangis dalam hati.
Mereka pun akhirnya sampai di hotel. Keduanya masuk ke dalam kamar mandi masing-masing untuk membersihkan diri sebelum beristirahat.
Alea dan Tristan tidak memesan makan malam, sebab mereka sudah makan tadi.
Alea memakai pakaian dalamnya dahulu, kemudian di susul oleh baju tidur model terusan.
"Kau berbohong." Sarkas seseorang di belakang Alea.
Alea membalik badan, ia terkejut melihat Tristan sedang berdiri di connecting door sambil menyandarkan diri di sana.
"Pak, sejak kapan anda disana?" tanya Alea kaget.
"Sejak tadi." Jawab Tristan seadanya.
Alea terdiam lagi, ia berubah ketakutan karena mengira bahwa Tristan sudah tahu jika dirinya berbohong. Ia sudah selesai mendapatkan tamu bulanan nya.
"Pak, saya baru saja selesai hari ini. Saya tidak membohongi anda!" ucap Alea menjelaskan dengan sedikit ketakutan.
Tristan tersenyum simpul, ia pun mendekati Alea, kemudian merengkuh pinggang ramping itu dengan tangannya.
"Benarkah? Haruskah aku mempercayaimu?" tanya Tristan menatap Alea dengan tajam.
Alea mengangguk dengan wajah penuh ketakutan, ia bahkan sampai menggigit bibirnya mendengar suara Tristan yang penuh ancaman.
"Harus! Anda harus percaya pada saya." Jawab Alea dengan cepat.
__ADS_1
Tristan tertawa, ia melepaskan rangkuhan di pinggang ramping Alea kemudian berjalan mundur beberapa langkah.
"Buka bajumu." Perintah Tristan tiba-tiba.
Alea memejamkan matanya, ia meremat bahu yang ia gunakan tanpa berani untuk menatap Tristan.
"Alea, buka bajumu." Ucap Tristan lagi.
Alea menggigit bibirnya, karena takut akhirnya Alea menanggalkan pakaian yang baru beberapa menit ia kenakan.
Alea benar-benar ragu, sehingga membuat Tristan kesal dan langsung mendekati wanita itu.
"Buka, Sayang." Bisik Tristan seraya menarik baju itu hingga lolos dari tubuh ramping Alea.
Alea gemetaran, hawa dingin AC langsung menusuk seluruh pori-pori tubuhnya. Ia masih menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Tristan.
"Jangan pakai bajumu, tunggu disini!" tutur Tristan kemudian pergi ke kamarnya.
Alea merasa lega karena berpikir bahwa Tristan sudah pergi untuk menyelesaikan urusannya yang lain, namun nyatanya ia salah besar.
Tristan kembali dengan membawa sebuah paper bag di tangannya. Tristan kembali mendekati Alea lalu memberikan paper bag itu kepada wanita simpanannya.
"Aku ingin berenang, temani aku." Ucap Tristan.
Alea menerima paper bag itu, ia segera membukanya, dan ia melihat isi dari paper bag itu adalah sebuah baju pantai untuk perempuan.
Bukan bikini, bahkan pakaiannya terbilang sopan.
"Malam-malam begini, Pak?" tanya Alea memberanikan diri.
"Tentu saja tidak. Temani aku besok," jawab Tristan.
Alea manggut-manggut, ia yang hendak memungut pakaiannya terhenti saat Tristan mengangkat tubuhnya dan merebahkannya di atas ranjang.
"P-pak." Ucap Alea terbata.
"Kita belum pernah tidur berdua disini, mari lakukan sekarang." Ajak Tristan seraya merebahkan diri di sebelah Alea.
"Tapi pakaian saya?" Tanya Alea menunjuk ke arah bajunya yang berserakan di lantai.
"Lupakan saja." Jawab Tristan seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Tristan menarik tubuh mungil Alea ke dalam dekapannya. Ia memeluk Alea dengan sangat erat, bahkan sesekali mencium kening wanita itu.
"Tidurlah, hari esok menunggu kita." Bisik Tristan seraya mengusap punggung wanitanya.
Alea merasa sedikit tenang, ia pun akhirnya tertidur dalam dekapan Tristan karena sudah sangat kelelahan.
WAHH BESOK MAU NGAPAIN YAAA?
__ADS_1
Bersambung.............................