Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Welcome baby Alkano


__ADS_3

Tengah malam, di rumah Tristan dan Alea. Terlihat seorang wanita terbangun sambil mengusap-usap perutnya yang terasa begitu sakit.


Wanita itu bahkan sampai turun dari ranjang, dan berjalan ke mana saja dengan harapan kontraksi yang ia rasakan bisa hilang.


Sayangnya nihil, sakit yang ia rasakan semakin besar. Bahkan ia sampai mencengkram pakaiannya sebagai pelampiasan.


"M-mas … mas Tristan." Alea memanggil suaminya yang masih tertidur pulas sambil memegangi perutnya.


Sayangnya Tristan tidak kunjung membuka matanya. Pria itu begitu pulas dengan tidurnya.


Alea berusaha mendekati suaminya, ia berjalan tertatih mendekati sang suami sambil memegangi apapun yang bisa ia pegang.


"Akhhhh …" Alea meringis ketika rasa sakit yang tidak tertahankan mulai ia rasakan.


Alea juga bisa merasakan sesuatu mengalir di kakinya. Ia menundukkan kepalanya dan melihat cairan bening bercampur darah keluar dari jalan lahirnya.


"MAS!!" Teriak Alea sembari menahan rasa sakit.


Kali ini teriakan Alea berhasil membuat Tristan terbangun. Pria itu terkejut melihat istrinya yang menahan sakit, lalu tubuhnya perlahan merosot ke lantai.


"Sayang!!" Pekik Tristan, kemudian buru-buru mendekati istrinya.


Tristan menyandarkan Alea ke dadanya, ia mengusap keringat yang bercucuran dari rambut, lalu turun ke wajahnya.


"Sayang, ada apa? Perut kamu sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya." Ucap Tristan buru-buru menggendong istrinya.


Tristan membawa istrinya keluar dari kamar dan berlari menuju lantai bawah. Sementara Alea tidak henti meringis kesakitan, sambil meremat pakaiannya sendiri.


"Mas, hiks … sakit, sakit banget." Ringis Alea semakin menangis sesenggukan.


Trisula membuka pintu mobilnya, ia mendudukkan sang istri dengan hati-hati, lalu disusul olehnya yang duduk di kursi kemudi.


Penjaga rumah pun langsung peka dan membuka pintu gerbang rumah Tristan yang mewah itu.


"Beritahu orang tua saya jika kami ke rumah sakit." Ucap Tristan lalu segera tancap gas meninggalkan rumah.


Trisula yang awalnya mengantuk, seketika menjadi segar. Antara panik, terkejut dan takut. Tristan takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.


"Sayang, sabar ya. Kita sudah menuju rumah sakit," ucap Tristan sambil mengusap kepala istrinya.

__ADS_1


"Hiks … sakit banget, aku nggak kuat Mas." Sahut Alea semakin mengusap perutnya yang besar.


"Ssttt, jangan bilang gitu, nanti baby nya sedih. Kamu kuat, demi anak kita sayang. Tahan ya, sebentar lagi kita sampai." Ucap Tristan lalu semakin menginjak gas agar segera sampai di rumah sakit.


Tristan belajar dari pengalamannya. Sebelumnya ia pernah melihat Alea kesakitan dan berdarah, lalu berakhir mereka kehilangan anak mereka dulu.


Tristan takut itu semua terulang, ia tidak mau kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Tristan tidak mau sampai sesuatu terjadi pada anaknya lagi.


"Hiks ….akhhhh sakit!!!" Teriak Alea penuh rasa sakit.


Tristan pun akhirnya berhasil membawa istrinya ke rumah sakit. Pria itu langsung keluar, kemudian menggendong istrinya dan membawanya masuk ke rumah sakit.


"DOKTER!! DOKTER TOLONG ISTRI SAYA!!" Teriak Tristan dengan panik.


Tidak lama kemudian seorang dokter datang. Ia memperingatkan suster membawa brankar.


Tristan merebahkan Alea diatas brankar, ia lalu ikut melangkah dan membantu mendorong brankar dimana istrinya berbaring sambil menangis kesakitan.


"Sayang, tenang oke. Kita sudah di rumah sakit, aku yakin kamu kuat. Anak kita sebentar lagi hadir." Ucap Tristan berusaha tenang meski hatinya bergetar ketakutan.


Alea tidak bicara, wanita itu hanya terus menangis sambil memegangi tangan suaminya. Sampai Tristan pun ikut masuk ke dalam ruang periksa Alea.


"Sayang, dokter segera menangani kamu. Ada aku disini, Sayang. Lihat aku, aku akan selalu ada di samping kamu." Ucap Tristan bertubi-tubi, berusaha menyemangati sang istri.


"Pak, istri anda akan melahirkan. Pembukaannya sudah lengkap. Sepertinya istri anda sempat menahan sakit, sehingga saat di bawa kesini pembukaannya sudah lengkap." Ucap dokter panjang lebar.


"Kami akan segera mengambil tindak, Pak." Tambah dokter itu dengan terburu-buru.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok. Saya mohon, selamatkan anak dan istri saya." Pinta Tristan penuh permohonan.


Dokter menganggukkan kepalanya, dan tidak lama setelah itu proses persalinan pun dilakukan. Selama proses melahirkan, Tristan tidak pernah pergi, ia terus membisikkan kata-kata penuh semangat pada sang istri.


"Sayang, aku tahu kamu bisa. Aku di sini sama kamu," ucap Tristan dengan wajah yang tidak kalah panik.


"Ayo, Bu. Sedikit lagi. Satu, dua, tiga, dorong Bu!!" Ucap dokter mengintrupsi.


Alea pun mengejan sekuat-kuatnya, wanita itu bahkan sampai mengangkat kepalanya dan mengeratkan pegangan di tangan suaminya.


"Akhhh …" Alea bernafas lega dengan tubuh yang kembali jatuh diatas brankar.

__ADS_1


Tristan memeluk dan menciumi wajah istrinya. Ia benar-benar berterima kasih pada istrinya yang telah mau berjuang melahirkan buah cinta mereka.


Suara tangis seorang bayi membuat Tristan dan Alea sama-sama menangis haru. Mereka tidak tahu bagaimana menyampaikan kebahagiaan yang begitu besar ini.


"Sayang, terima kasih." Bisik Tristan.


Alea mengusap wajah suaminya, ia hanya tersenyum lemah seraya menganggukkan kepalanya. Jika Tristan bahagia, maka Alea jauh lebih bahagia.


***


Kabar Alea yang melahirkan sudah di dengar oleh Aira, Firda dan suami masing-masing. Meraka semua kompak berbondong-bondong ke rumah sakit untuk melihat bayi Alea dan Tristan.


Sampai di rumah sakit, mereka melihat bayi Alea dan Tristan yang diberi nama Alkano Sagara Kusuma. Ya, putra pertama sekaligus cucu pertama dalam keluarga Kusuma.


"Ya ampun, anak kamu ganteng banget, Lea." Ucap Firda yang saat ini sedang menggendong keponakannya.


"Tentu saja, lihat kakak ku kan tampan dan cantik." Sahut Aira dengan bangga.


Aira ikut melihat keponakannya. Sambil melihat, tangannya mengusap perutnya sendiri. Aira berharap anaknya juga akan tampan jika laki-laki, dan cantik jika perempuan.


Namun Aira bisa memastikan jika anaknya mirip suaminya, maka sudah pasti tampan dan cantik. Lihat saja Mondy, pria itu sangat tampan.


"Untung mirip maminya, kalo mirip papinya kan was-was." Celetuk Fade meledek.


"Kau …" Tristan menggantung ucapannya saat Alea menggelengkan kepalanya pelan.


"Saya ucapkan selamat pada kalian, Tuan dan Nona. Selamat atas kelahiran putra pertama kalian, semoga dia bisa tumbuh menjadi pria hebat seperti ayahnya." Ucap Mondy dengan sopan.


"Jangan terlalu formal, Mon. Meski aku enggan, namun kenyataannya kau adalah adik iparku." Sahut Tristan dengan senyuman tipis.


Seisi ruangan sontak tertawa mendengar ucapan Tristan. Namun di antara orang-orang itu, Alea yang tertawa sekaligus sedih.


Alea sedih karena mertuanya tidak datang. Pikirannya mulai kemana-mana, takut jika mertuanya tidak menerima kehadiran Alkano.


"Apa segitu bencinya mama sama aku, sampai-sampai nggak mau datang lihat cucu mama." Batin Alea.


Alea tidak tahu mertuanya sudah mendengar kabar tentang dirinya yang melahirkan atau belum. Namun seharusnya sudah, Alea ingat jika semalam suaminya sudah menitip pesan pada penjaga rumah.


Tidak ada alasan tidak tahu, jadi kemungkinan mama Saras memang enggan datang menengok dirinya dan Alkano.

__ADS_1


MAAF KALO ADA TYPO YA🥺


Bersambung.................................


__ADS_2