
Aira membuka matanya dengan tubuh yang terasa sedikit remuk. Tenaganya benar-benar terkuras semalam untuk meladeni gairahh dewasa suaminya.
Namun dibalik rasa lelahnya, ada rasa bahagia karena ia melayani Mondy sebagai seorang istri, bukan pelayan seperti pemikirannya beberapa hari lalu.
Mereka melakukan hubungan atas dasar cinta dan bukan sekedar tanggung jawab apalagi pengabdian diri karena uang.
Aira memijat tengkuknya, ia merasakan sedikit perih di lehernya karena terus di gigit oleh Mondy semalam.
"Astaga, badanku seperti habis tertimpa beton." Gumam Aira dengan mata yang kembali terpejam.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Mondy datang dengan nampan berisi makanan dan air minum di atasnya.
Pria itu tersenyum melihat bagaimana istrinya yang telah ia buat acak-acakan seperti ini. Ia lalu berjalan mendekati istri kecilnya itu.
"Morning, Sayang." Sapa Mondy lalu mencium kening istrinya hangat.
Aira membuka matanya, ia menatap Mondy lalu ikut tersenyum.
"Pagi juga, M-mas." Balas Aira sedikit ragu mengucapkan kalimat terakhirnya.
Ya, panggilan itu. Panggilan yang ia ubah dari om menjadi mas, tentu saja karena mereka sekarang sudah benar-benar menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Mondy terkekeh, ia mengecup bibir Aira gemas. "Manis sekali, aku suka panggilan itu." Kata Mondy.
Aira manggut-manggut, ia lalu menggeser tubuhnya, memberikan ruang pada Mondy untuk duduk. Tidak lupa Aira memegangi selimut agar tubuh polosnya tidak kelihatan.
"Aku sudah buatin kamu sarapan, dan juga susu." Tutur Mondy seraya meletakkan nampan berisi sarapan itu diatas ranjang.
"Susu?" beo Aira kebingungan, pasalnya selama ini Mondy tidak pernah memberinya susu.
"Iya, Sayang. Susu buat nambah stamina kamu, semalam kan udah aku kuras." Jawab Mondy diakhir senyuman lebar, bahkan sampai menunjukkan deretan giginya.
Aira berdecak, ia mencubit perut Mondy yang masih saja membahas masalah semalam. Tidak tahu saja pria itu bahwa ia sangat malu.
"Mas, udah deh. Nggak usah bahas masalah semalam." Tegur Aira malu-malu.
Mondy semakin tergelak, ia mengambil sandwich yang ia buat lalu menyuapi istrinya.
"Terima kasih." Ucap Aira lalu menggigit sandwich yang sudah suaminya buat.
Mondy memakan roti yang sama dengan Aira. Tidak masalah satu gigitan, toh mereka juga sudah satu keringat.
"Oh iya, Sayang. Hari ini nona Firda mengundang kita pergi ke rumahnya untuk makan malam, ada nona Alea juga." Ucap Mondy memberitahu.
"Wahh benarkah, ayo datang." Ajak Aira dengan semangat.
Mondy manggut-manggut, ia mengusap kepala istrinya. "Iya, kita datang. Sebelum itu, habiskan sarapan ini lalu mandi. Kita pergi," tutur Mondy.
__ADS_1
"Pergi, mau kemana lagi?" tanya Aira mengerutkan keningnya.
"Aku dapat perintah tuan Tristan ke Bogor, jadi aku mau ajak kamu. Tidak lama kok, kita akan langsung ke rumah nona Firda setelah dari sana." Jawab Mondy.
"Hah, kenapa tiba-tiba!! Aku belum mandi." Aira panik, ia langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Mondy menatap istrinya sambil geleng-geleng kepala, ini masih jam 7 pagi tapi Aira sudah seperti sangat terlambat.
Hanya ke Bogor dan itu dekat, tidak perlu buru-buru. Ia bisa kembali saat jam makan malam nanti, ia yakin sekali.
Sementara itu di tempat lain, terlihat Alea sedang berjemur di bawah sinar matahari pagi yang sangat menghangatkan tubuh.
Alea tentu tidak sendiri, melainkan bersama suaminya juga.
"Mas, kamu pengen buru-buru dia lahir nggak sih?" tanya Alea sembari mengusap perutnya.
"Nggak." Jawab Tristan dan langsung mendapat lirikan pedas dari istrinya.
"Dengerin dulu, kamu udah natap sinis aja. Nggak itu maksudnya nggak salah lagi." Ucap Tristan buru-buru.
Alea menggertak giginya. "Nggak jelas, sebal aku." Ketus Alea lalu memukul lengan Tristan sedikit kencang.
Tristan terkekeh, ia mengusap lengannya yang habis kena pukul Alea.
"Makin hari tenaga kamu makin besar deh." Ucap Tristan seraya mencolek dagu istrinya.
Alea kembali memukuli Tristan, bahkan ia menggigit bahu pria itu dengan gemas.
"Aduh, sakit sayang. Gigit disini aja," pinta Tristan menunjuk lehernya.
Bukannya menuruti perintah suaminya, Alea malah mencekik Tristan namun tidak dengan tenaga. Hanya tangannya saja yang menempel.
Ditengah-tengah pertengkaran kecil suami istri itu, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka.
"Oh begitu caramu berlaku pada suami?" ucap seseorang dengan tatapan tidak suka mengarah pada Alea.
Alea dan Tristan lantas menoleh, mereka terkejut melihat mama Saras datang dan melihat aksi Alea yang sedang mencekik suaminya.
Alea dan Tristan sama-sama bangkit dari duduknya. Alea terlihat panik, sementara Tristan santai saja.
"Nyonya, ini tidak seperti yang anda pikirkan." Ucap Alea menjelaskan.
"Kamu berniat membunuh anak saya, iya kan?" sarkas mama Saras dengan mata yang melotot.
Alea menggeleng, ia hendak bicara namun Tristan sudah duluan bicara.
"Jaga mulut anda, istri saya tidak mungkin melakukan itu." Timpal Tristan terdengar tidak suka.
__ADS_1
Mama Saras menatap putranya. "Tristan, kamu ini udah diguna-guna sama dia, sadar nggak sih. Dia bukan wanita baik-baik." Ucap mama Saras kesal.
"Jika kedatangan anda hanya ingin mengganggu ketenangan hidup saya dan keluarga saya, lebih baik anda pergi." Usir Tristan tanpa ragu.
Mama Saras menatap putranya syok. "Kamu mengusir mama demi dia, Tristan?" tanya mama Saras tidak menyangka.
"Dia itu istri saya, dia bukan orang lain." Balas Tristan dengan dingin.
"Dan mama ini ibu kamu, dia hanya istri tapi mama orang yang melahirkan kamu." Ucap mama Saras terdengar kecewa.
"Silahkan pergi dari rumah saya, Nyonya." Usir Tristan dengan suara yang begitu rendah.
Mama Saras menolak. "Nggak, Tristan. Mama datang kesini ingin minta kamu untuk kembali ke kantor." Ucap mama Saras.
"Maaf, saya tidak tertarik." Balas Tristan menolak langsung.
"Tristan, papa sedang sakit. Perusahaan butuh kamu, atau kita akan bangkrut." Ucap mama Saras lagi memohon.
Tristan terhenyak, bahkan Alea yang sejak tadi menunduk sontak mengangkat wajahnya. Wanita hamil itu menoleh, menatap suaminya.
"Saya tetap tidak mau, jadi silahkan pergi." Usir Tristan lagi.
"Mas." Bisik Alea lembut.
Tristan menoleh. "Nggak, Sayang. Aku nggak mau kembali ke kantor." Tolak Tristan lagi.
"Mas, tapi papa kamu sedang sakit." Ucap Alea lagi mencoba untuk membujuk suaminya.
Tristan tidak menjawab, ia menatap sang mama dengan tatapan dingin dan datar.
"Lebih baik anda pergi, mau berapa kali pun anda meminta saya kembali ke kantor, saya pasti akan selalu menolak." Ucap Mondy lalu masuk ke dalam rumahnya.
Alea menatap ibu suaminya dengan tatapan tidak enak.
"Nyonya, saya akan berusaha membujuk Tristan untuk kembali ke kantor." Ucap Alea dengan lembut dan sopan.
Mama Saras menatap sinis istri putranya. "Tidak perlu berpura-pura, saya tidak akan tersentuh." Ketus mama Saras, lalu pergi meninggalkan rumah putranya.
Alea menatap kepergian mama Saras dengan nanar, ia selalu merasa sedih setiap kali mendengar nada ketus dari wanita yang seharusnya ia panggil mama.
Sebagai seorang wanita dan seorang istri, tentu saja ia mau di sayang oleh mertuanya. Alea ingin sekali bisa memasak dengan mama Saras, selayaknya menantu dan mertua.
"Hiks … sabar, Lea." Lirih Alea pada dirinya sendiri.
MBAK LEA, PELUK JAUH 🤗
Bersambung.............................
__ADS_1