
Selesai makan malam, Alea dan Tristan pun pergi meninggalkan hotel. Mereka berdua akan pergi ke love anchor untuk membeli oleh-oleh khas Bali disana. Sekaligus mengajak Alea yang masih ingin pergi ke sana.
Malam ini adalah malam terakhir mereka di Bali, pasalnya besok mereka harus pulang. Tristan tadi memang menolak, tapi ia tidak akan mungkin bisa benar-benar menolak jika sang papa yang sudah memintanya.
Oleh karena itu, malam ini akan Tristan manfaatkan sebaik mungkin. Ia akan membuat malam ini menjadi indah.
Tristan meraih tangan Alea yang ada di dekat persneling, ia menggenggamnya dengan tiba-tiba, membuat Alea langsung menatapnya.
"Pak?" tanya Alea mengangkat sebelah alisnya.
"Aku ingin menggenggam tanganmu seperti ini terus, Alea." Kata Tristan tanpa menatap Tristan.
Alea tersentak, entah mengapa ia sedikit tersentuh mendengar ucapan Tristan barusan. Ucapan yang menunjukkan seakan Tristan enggan meninggalkan dirinya.
Namun beberapa saat kemudian Alea menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh jatuh hati kepada Tristan. Cukup sekali Alea berniat menghancurkan rumah tangga Tristan, tapi tidak lagi.
Alea hanya wanita simpanan, ia akan pergi saat tuannya itu bosan dengan tubuhnya. Alea tidak boleh memiliki keinginan untuk merebut Tristan dari istri sah nya.
"Sadarlah, Alea. Pria disebelah mu ini adalah pria beristri." Batin Alea menangis dalam hati.
"Alea." Panggil Tristan menatap Alea dengan dalam.
Kebetulan sedang lampu merah, sehingga Tristan bisa menatap Alea yang tiba-tiba saja melamun. Entah apa yang sedang dilamunkan wanita disebelahnya ini.
"Iya, Pak?" Sahut Alea.
"Kenapa melamun, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Tristan.
Alea menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya tengah menyakinkan dirinya bahwa ia tidak boleh memiliki perasaan terhadap Tristan.
"Tidak ada, hanya sedikit lelah." Jawab Alea berbohong, namun sedikit jujur.
Alea lelah, tentu saja. Alea lelah dengan pekerjaannya, pekerjaan sebagai simpanan Tristan. Jika saja bisa, Alea akan mengatakan bahwa dirinya bersedia untuk menjadi sekretaris saja, dan tidak ada pekerjaan lain di baliknya.
"Pak?" panggil Alea dan dibalas deheman oleh Tristan.
"Saya boleh bertanya sesuatu, tapi tolong jangan marah." Ucap Alea seraya menatap Tristan.
"Katakan saja, aku tidak akan marah." Balas Tristan dengan yakin.
Tristan kembali menjalankan mobilnya ketika lampu sudah kembali hijau, ia sudah siap mendengar pertanyaan dari Alea.
"Kapan anda bosan dengan tubuh saya?" Tanya Alea memberanikan diri.
Detik itu juga, Tristan langsung menginjak rem secara mendadak, bahkan klakson kendaraan dibelakang mereka terdengar ramai, yang menandakan jika Tristan telah melakukan kesalahan.
"Tunggu disini!" ucap Tristan lalu keluar dari mobil.
Tujuan Tristan keluar dari mobil adalah menemui orang-orang yang marah karena dirinya berhenti secara mendadak.
Walaupun ia merupakan orang yang berat untuk meminta maaf, tapi ia tetap melakukannya.
"Maafkan saya, Pak, Bu. Istri saya sedang hamil besar, jadi dia tiba-tiba meringis dan membuat saya terkejut." Ucap Tristan menjelaskan.
Tristan berbohong, tentu saja. Alea bukan istrinya, dan Alea juga tidak sedang hamil.
Orang-orang itu akhirnya mengerti, membuat Tristan akhirnya bisa melanjutkan perjalanannya lagi.
"Pak, apa baik-baik saja?" tanya Alea, namun tidak mendapatkan jawaban apapun dari bibir Tristan.
Alea ketakutan, ia benar-benar gelisah melihat Tristan yang mendiami dirinya sekarang.
Alea takut, ia takut Tristan akan mengajaknya berhubungan lagi dengan kasar.
__ADS_1
"Pak, jika pertanyaan saya sebelumnya membuat anda marah, maka maafkan saya. Anda tidak perlu menjawabnya," ucap Alea dengan bibir yang bergetar.
"Diam saja di tempatmu, Alea. Aku sedang fokus menyetir," balas Tristan.
"Pak, saya–" ucapan Alea terhenti karena Tristan bicara.
"Jangan mengajak ku bicara, jika kau tidak ingin mobil ini kecelakaan." Potong Tristan dengan suara yang dingin.
Alea buru-buru menutup mulutnya, ia memilih untuk mengalihkan pandangannya dari wajah Tristan, dan menatap jendela mobil.
Tristan melirik Alea, lalu beralih melirik kaca spion mobilnya. Ia tersenyum remeh melihat sesuatu yang sejak tadi ia nantikan.
"Pegangan, Alea." Pinta Tristan membuat Alea kebingungan.
"Apa? Maksudnya pegangan apa, Pak?" tanya Alea.
"Turuti saja apa yang aku katakan." Jawab Tristan seraya meninggikan kecepatan mobilnya.
Alea bingung, namun tetap mematuhi ucapan Tristan. Ia berpegangan pada sisi jok mobil dan memejamkan matanya.
Alea takut melihat Tristan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Tristan masih melirik mobil di belakangnya, ia tidak tahu siapa yang berani-beraninya mengikuti dirinya.
Tristan membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang sudah ia reservasi sebelumnya. Restoran itu berada di pinggiran pantai.
"Ayo turun." Ajak Tristan seraya membuka seatbelt nya.
Alea hanya menurut, ia buru-buru turun dari mobil dan mengikuti langkah Tristan dibelakangnya.
Tristan berhenti, ia tiba-tiba merengkuh pinggang Alea dengan mesra, lalu mengajaknya masuk ke dalam restoran.
"Atas nama, Tuan Tristan?" tanya pelayan di restoran itu.
Pelayan restoran itu kemudian mengajak Alea dan Tristan ke luar restoran, tepatnya ke pinggir pantai dimana sudah ada meja dan dua kursi di saja.
"Silahkan." Kata pelayan itu dengan sopan.
Setelah itu, pelayan restoran pun pergi. Tristan mendekati Alea, lalu menarik kan kursi untuk wanita itu duduk.
"Terima kasih." Ucap Alea dengan senyuman manis.
"Sama-sama, Sayang." Balas Tristan mesra.
Alea lagi-lagi tersentuh, entah mengapa ia suka mendengar Tristan memanggilnya seperti itu.
Alea menyembunyikan senyumannya, ia tidak mau Tristan tahu jika dirinya malu sekarang.
"Pak, semua ini?" tanya Alea menatap sekitar tempatnya duduk.
Mereka duduk hanya berdua di tempat yang siapapun orang yang melihat pasti akan mengatakan cantik dan romantis.
"Aku menyiapkan ini untukmu, Alea." Jawab Tristan dengan jujur.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang dengan membawa dessert. Sengaja Tristan hanya meminta itu, karena mereka sudah makan tadi.
"Makanlah, rasanya manis sepertimu." Tutur Tristan dengan penuh kasih sayang.
Alea segera memakan dessert dengan bentuk kue kecil lalu ice cream di atasnya yang mulai meleleh.
Tristan bangkit dari duduknya, ia menarik tangan Alea yang tengah menikmati makanannya hingga membuat wanita itu terkejut.
Alea handak bertanya, namun Tristan sudah keburu menyatukan bibir mereka dalam tarian bibir yang memabukkan.
__ADS_1
Alea tidak menolak, ia malah mengalungkan tangannya di leher Tristan dan membalas gerakan bibir dari pria tampan di depannya ini.
Tristan pun semakin memperdalam ciumannya saat tahu bahwa Alea membalas nya, ia merengkuh pinggang ramping wanita itu dengan sangat erat.
"Emhhhh." Alea menepuk-nepuk dada Tristan saat dirinya kehabisan nafas.
Tristan terkekeh, ia mencium kening Alea dengan penuh kasih sayang.
"Tunggu disini ya." Bisik Tristan kemudian berlari ke arah pohon kelapa yang cukup besar disana.
Alea terkejut saat ada orang lain keluar dari sana dan berusaha lari dari kejaran Tristan, namun orang itu tidak berhasil kabur sehingga Tristan menangkapnya.
"Pak Tristan!!" panggil Alea khawatir.
Alea buru-buru berlari mendekati Tristan yang sedang memukuli seorang pria berbaju serba hitam.
"Siapa yang menyuruhmu, Brengsekk." Umpat Tristan dengan penuh emosi.
Alea memeluk Tristan, ia tidak mau jika Tristan menjadi pembunuh malam ini.
Orang yang Tristan pukuli sudah tidak berdaya, bahkan sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan darah.
Tristan mengambil ponsel yang ada di tangan pria itu dan melihat banyak sekali foto-foto dirinya dan Alea disana.
"Alea, kembali ke tempat dudukmu." Ucap Tristan tanpa menatap wanitanya.
"Tapi–" Alea yang hendak bertanya langsung terhenti saat Tristan menatapnya.
Alea menghela nafas, ia akhirnya kembali duduk di tempat dimana ia datang bersama Tristan tadi.
Kini hanya Tristan dan pria itu yang ada disana. Tristan tidak mau jika Alea mendengar pembicaraan mereka.
"Siapa yang menyuruhmu mengikutiku, hah?!" bentak Tristan.
T-tuan Fade." Jawab orang itu sedikit terbata.
Tristan mencengkram kerah baju pria itu, ia lalu mengajak pria itu untuk berdiri meskipun tidak mampu karena rasa sakit.
"Berapa pria sialann itu membayarmu?" tanya Tristan dengan penuh penekanan.
"JAWAB!" Bentak Tristan.
Tristan mendorong pria itu hingga kembali jatuh ke atas pasir.
"Aku akan membayarmu tiga kali lipat, tapi bongkar perselingkuhan Fade dengan Linda, kau bisa?" tanya Tristan pelan.
"M-maksud anda?" tanya pria itu bingung.
"Lakukan saja apa yang aku katakan, jika dirimu tidak mau tiada sekarang." Jawab Tristan.
"Aku akan membayarmu lebih mahal." Tambah Tristan berbisik.
Orang itu terlihat berbinar, tentu saja ia tergiur dengan tawaran dari Tristan. Bayaran yang ia terima dari Fade saja cukup besar, apalagi di kalikan 3.
"Baik, akan saya lakukan. Tapi tolong ampuni saya, dan penuhi janji anda untuk membayar saya lebih mahal." Kata pria itu sambil meringis.
Tristan mengangguk singkat, ia pun melemparkan kartu nama miliknya lalu pergi meninggalkan pria itu setelah menendang kakinya sebagai penutup.
"Sialann kau, Fade. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu," gumam Tristan dengan tangan terkepal.
BEUHHH, FADE MAIN-MAIN 😰
Bersambung...............................
__ADS_1