Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Dimana yang sakit?


__ADS_3

Alea pulang dengan dijemput oleh suaminya. Saat Tristan datang, seketika Alea menjadi takut, ia takut Tristan akan mengetahui perlakuan mama Saras padanya.


Bukan apa-apa, Alea hanya tidak mau jika hubungan ibu dan anak itu semakin merenggang karena dirinya.


"Sayang, mau mampir beli sesuatu?" tanya Tristan lembut.


Alea menoleh, ia menggelengkan kepalanya. "Nggak, Mas. Aku nggak mau apa-apa, cuma mau pulang dan istirahat." Jawab Alea.


Tristan memegang kepala istrinya, ia lalu mengusap-usap rambut Alea dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah, Nyonya Sagara Kusuma. Kita pulang dan istirahat ya," tutur Tristan.


Alea hanya membalasnya dengan senyuman saja. Ia tidak terlalu banyak bicara, entah mengapa kepalanya tiba-tiba saja berdenyut.


"Bagaimana keadaan Fade?" tanya Tristan sekedar mengisi waktu sampai mereka tiba di rumah.


"Begitulah, Mas. Aku bahkan cukup tersinggung mendengar ucapannya yang menjatuhkan kakakku." Jawab Alea diakhiri helaan nafas panjang.


Tristan memegang punggung tangan istrinya, ia lalu membawa tangan itu untuk ia cium.


"Aku tahu perasaan kamu bagaimana, tapi aku juga tahu bagaimana Fade mencintai kakak kamu." Ucap Tristan tanpa menatap istrinya.


"Maksud kamu?" tanya Alea tidak mengerti.


"Ingat saat kamu dan kakakmu diculik? Aku dan Fade bekerja sama untuk menemukan kalian. Saat itu aku melihat bagaimana dia begitu khawatir, sama seperti aku." Jawab Tristan menjelaskan.


Alea mendengarkannya dengan seksama, meskipun ucapan Tristan mungkin benar, tapi tetap saja Alea tidak bisa menerima begitu saja bila ada yang menghina kakaknya.


Iya, Alea tahu Fade sedang hilang ingatan, tapi apa mulut pria itu tidak bisa di saring sedikit sebelum mengatakan yang tidak-tidak tentang kakaknya.


"Mungkin kamu benar, Mas. Tapi apa kamu tahu? Aku ingin sekali melempar wajah Fade dengan apa saja setiap pria itu bicara buruk tentang kakakku!!" ujar Firda dengan suara yang lantang, campuran antara kesal dan gregetan.


Tristan tertawa, ia merasa gemas melihat wajah istrinya sekarang. Alea terlihat sedang menahan emosi.


"Sabar, Sayang. Jangan emosi gitu, muka kamu jadi makin cantik." Tutur Tristan dibarengi dengan gombalan.


Alea menoleh, ia menyipitkan matanya dengan tatapan penuh selidik.


"Nggak usah gombal deh, nanti ujung-ujungnya minta jatah!" ketus Alea seraya melipat tangannya di dada.


Tristan makin tertawa, ternyata istrinya itu sudah sangat mengenal tabiatnya yang nafsuan. Tapi percayalah bahwa Tristan seperti ini hanya kepada Alea, istrinya.


"Tahu aja sih, Sayang. Nanti malam ya, jatah aku?" tanya Tristan sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Apaan, nggak. Kan kemarin baru minta, masa minta lagi." Jawab Alea sedikit merengek.


Tristan menekan klakson saat mobilnya sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Setelah gerbang dibuka, barulah Tristan masuk.


"Sayang, gimana?" tanya Tristan.


"Apanya gimana sih, nggak mau ah. Kamu kan kalo main berjam-jam, pinggang aku mau patah." Jawab Alea sewot.


Alea keluar dari mobil duluan, ia langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan suaminya begitu saja.


Saat sudah sampai di ruang tamu, Alea berhenti karena entah mengapa ia jadi kasihan pada suaminya.


Baru pulang bekerja, sudah Alea marahin. Alea jadi merasa bersalah.


Tidak lama kemudian Tristan datang dengan membawa tas kerja miliknya, ia terkejut melihat istrinya masih ada disana, ia kira Alea sudah masuk ke dalam kamar.


"Mas …" Alea merengek lalu memeluk suaminya.


"Kenapa hmm, tadi bukannya marah?" tanya Tristan sambil tertawa.


Tristan merangkul bahu istrinya, ia lalu mengajak Alea untuk ke kamar. Mereka berdua harus segera bersih-bersih.


"Nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini aku merasa emosiku naik turun, Mas. Maafin aku ya, tadi udah marah-marah sama kamu." Ucap Alea mendongakkan kepalanya.


"Iya, Sayang. Nggak apa-apa kok, mungkin kamu mau datang tamu bulanan." Balas Tristan mengangguk paham.


Alea dan Tristan pun masuk ke dalam kamar mereka. Alea tampak melongo usai mendengar suaminya bicara.


"Kamu tadi ngomong apa? Tamu bulanan?" tanya Alea.


Tristan melempar tas kerja miliknya di sofa, ia lalu memegang kedua lengan istrinya dan sedikit menggenggamnya.


"Awww …" Alea tiba-tiba meringis, namun sesaat kemudian ia tertawa.


"Mas, kamu mandi duluan gih. Eumm … aku akan siapin kamu baju," tutur Alea mengalihkan pembicaraan.


"Dimana yang sakit?" bukannya menyahut ucapan istrinya, Tristan malah bertanya.


"Ha? Maksud kamu?" tanya Alea berpura-pura tidak mengerti.


"Dimana yang sakit, Sayang?" tanya Tristan mengulangi pertanyaannya.


"Sakit apa, Mas. Aku nggak sakit apa-apa kok," jawab Alea sedikit gugup.

__ADS_1


Tristan membuka kancing tangan blouse yang Alea kenakan, lalu menggulung nya sampai lebam di tangan Alea terlihat.


Tristan terkejut bukan main, ia kaget melihat luka lebam yang berwarna keunguan di tangan istrinya.


"Sayang, ini kenapa?" tanya Tristan.


"Aku jatuh, Mas. Ya, aku jatuh di kamar mandi tadi," jawab Alea gelagapan.


Tristan menyipitkan matanya, ia tidak percaya karena sekalipun Alea jatuh, lukanya pasti tidak akan tanggung. Mungkin bisa ada di bahu atau siku, tapi ini? Ini ada di lengan bahu.


"Jangan bohong, Sayang. Kamu tahu kan aku nggak suka di bohongin." Pinta Tristan lembut, namun terkesan tegas.


"Aku nggak boh–" Ucapan Alea terhenti karena Tristan kembali bicara.


"Kamu mau aku tanya ke pelayan di rumah?" tanya Tristan pelan, namun masih tegas.


"Jangan, Mas!" Jawab Alea dengan cepat.


Alea tidak mau jika para pelayan kena marah Tristan, ini adalah masalahnya maka para pelayan tidak perlu ikut terlibat.


"Aku benar-benar jatuh, Mas. Kenapa kamu nggak percaya?" tanya Alea sedih.


Tristan menangkup wajah cantik istrinya, ia lalu menarik Alea untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Aku obatin ya." Kata Tristan.


Tristan melepaskan pelukannya, ia lalu mengajak Alea untuk duduk di sofa. Ia juga mengambil kotak p3k yang ada di laci meja.


"Kenapa nggak di obatin, atau kamu panggil dokter?" tanya Tristan seraya mengoleskan salep ke luka Alea.


Alea mencium pipi Tristan. Ternyata bukan hanya Tristan yang pandai memanfaatkan situasi, tapi Alea juga.


Alea melakukan itu tentu saja guna mengalihkan rasa kesal Tristan.


"Kurang." Ucap Tristan menunjuk pipi kanannya.


Alea tertawa, ia segera mencium pipi kanan suaminya lalu diakhiri dengan kecupan ringan di bibir.


"Istriku yang pintar memanfaatkan situasi." Bisik Tristan seraya mencium kening Alea.


Meskipun Tristan sekarang terlihat sudah percaya, dalam hatinya ia masih bertanya-tanya. Tristan tahu bahwa istrinya berbohong, makanya ia akan bertanya pada pelayan dan mengecek cctv rumah.


WADUHH, TRISTAN BISA MURKA NIH😌

__ADS_1


Bersambung.............................


__ADS_2