
Seperti yang Tristan katakan waktu itu, ia tidak akan kembali ke kantor dan mulai bekerja dari rumah untuk mengembangkan bisnisnya.
Dalam pekerjaan ini, Mondy tentu masih menjadi asisten pribadi Tristan dan membantunya dalam mengerjakan sesuatu nantinya.
Seperti saat ini, Mondy datang ke rumah utama untuk menemani atasannya itu bertemu klien yang akan bekerja sama dengan nya. Rencananya Tristan akan mengembangkan minimarket miliknya di pusat kota menjadi sebuah supermarket yang sudah pasti lebih besar.
Melihat perkembangan penjualan yang semakin tinggi setiap bulannya, Tristan meyakini bahwa usahanya akan semakin maju jika di kembangkan menjadi supermarket. Tentu dengan bantuan dari para konsumen juga.
Lagipula usaha retail Tristan memiliki daya saing yang tidak kalah kuat, dan dianggap mampu menyamai target pasar.
Tristan bersungguh-sungguh dalam usahanya saat ini, ia tidak mau jika istrinya sampai kesusahan jika ia bermalas-malasan.
"Sayang, ini kopinya, dan ini teh nya ya pak Mondy." Tutur Alea meletakkan dua jenis minuman yang berbeda itu di meja.
"Terima kasih banyak, Nona. Saya pasti merepotkan," kata Mondy sopan.
"Tidak sama sekali." Balas Alea menggeleng pelan.
Alea ikut duduk bersama suaminya dan juga Mondy, ia cukup serius memperhatikan apa yang tengah dibahas oleh Tristan saat ini.
"Kamu sebenarnya mau bikin apa, Mas?" tanya Alea kepo.
Tristan menoleh, ia tersenyum sambil mengusap-usap wajah cantik istrinya.
"Tebak dong." Bukannya menjawab, Tristan malah mengajak istrinya untuk main tebak menebak.
Alea menekuk wajahnya, ia memilih untuk pergi daripada main tebak-tebakan dengan Tristan.
"Hei, mau kemana?" tanya Tristan memegang tangan sang istri.
"Aku nggak mau tebak-tebakan sama kamu, mending aku ngerujak sama bibi di dapur." Jawab Alea lalu menjulurkan lidahnya meledek.
Tristan terkekeh, ia akhirnya membiarkan istrinya itu pergi memenuhi ngidamnya. Memang sejak dinyatakan hamil, Alea sangat suka rujak.
Tristan pun kembali bicara, namun ia menyipitkan matanya kala melihat Mondy sedang melamun sambil memperhatikan Alea.
Kalian jangan lupa bahwa Mondy pernah menaruh rasa pada Alea, dan tentu saja Tristan tidak tahu itu. Jika Tristan sampai tahu, maka dipastikan wajah pria itu akan babak belur.
"Mon, kau memperhatikan istriku?" tanya Tristan dengan suara tenang, namun percayalah bahwa itu mengandung banyak ancaman.
Mondy tersadar, ia menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari bosnya itu.
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Saya hanya bingung mengapa nona Alea akhir-akhir ini suka makan rujak." Jawab Mondy.
Jawaban yang tidak nyambung? Tentu saja, karena tubuh Mondy ada di rumah utama, tapi pikirannya ada ditempat lain.
"Konyol sekali, kau tahu bahwa istriku sedang hamil kan. Jadi tidak aneh jika dia suka makan rujak akhir-akhir ini." Sahut Tristan geleng-geleng kepala.
"Saya lupa, Tuan. Maaf sudah lancang memperhatikan nona Alea." Kata Mondy menunduk sopan.
Tristan hanya manggut-manggut, tentu ia tidak akan marah pada Mondy. Pria itu sudah bekerja bertahun-tahun dengannya, jadi ia sangat percaya.
Tidak tahu saja Tristan jika dulu Mondy sempat ingin merebut Alea. Tapi itu dulu, sebelum Alea terlihat bahagia.
Namun puncak hilangnya rasa suka Mondy pada Alea adalah sejak kehadiran Aira. Ya, Mondy akui jika kehadiran Alea membuat perasaan salah itu hilang dari dirinya.
Dan ini juga alasan mengapa Mondy tadi sempat memperhatikan Alea, ia hanya ingin tahu bahwa dirinya sudah benar-benar melupakan Alea atau belum, dan ternyata sudah. Kini hati Mondy justru berkelana ke Aira, ya hati dan pikiran itu tertuju pada gadis bernama Aira.
"Kau melamun lagi, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Tristan mengerutkan keningnya.
"Tidak biasanya kau begini, Mon. Apa kau sedang memikirkan gadis itu?" tanya Tristan lagi.
Mondy menggeleng. "Saya tidak memikirkan Aira, Tuan. Saya hanya–" jawaban Mondy terhenti saat sadar akan ucapannya.
"Aku tidak menyebut Aira atau siapapun disini, lalu kenapa kau menyebut Aira. Kau menyukai gadis itu?" tebak Tristan.
Tristan semakin menyipit curiga, entah mengapa sulit sekali untuk percaya pada asistennya itu kali ini. Namun Tristan tidak akan memaksa, ia akan menunggu bagaimana nantinya.
Jujur, jika Mondy memang menyukai Aira maka ia akan senang. Usia Mondy sudah pantas untuk menikah, dia juga pria yang mapan sehingga akan mampu untuk menghidupi anak orang.
Sementara itu ditempat lain, di rumah Fade. Tampak Firda sedang berusaha untuk membantu Fade berjalan.
Pria itu memberanikan diri atas semangat dari gadis yang ia cintai. Fade bertekad untuk bisa kembali berjalan, setelah itu menikahi Firda.
"Ayo, Fad. Aku yakin kamu bisa," ucap Firda penuh semangat.
Fade memegangi sebelah kakinya yang sakit, namun ia berusaha untuk menggerakkannya sedikit demi sedikit.
"Nah, ayo lagi." Ucap Firda lagi.
Fade pun tersenyum, ia senang melihat wajah sumringah Firda yang kini memintanya untuk terus berjalan.
Firda terus mundur, bahkan ia tidak sadar jika di belakang ada Zian yang juga ikut memperhatikan Fade berjalan.
__ADS_1
Saat Firda semakin mundur, ia akhirnya terhenti karena menabrak Zian. Bahkan kakinya tanpa sengaja menginjak kaki Zian.
"Astaga, maaf maaf." Ucap Firda menutup mulutnya sendiri.
Mendengar suara Firda, Fade lantas menatap gadis itu dan sepupunya.
"Sakit ya, aku tidak melihatmu. Tolong maafkan aku ya." Ucap Firda lagi tidak enak.
Zian tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Fir. Bukan hal yang serius sampai kau harus terus meminta maaf." Kata Zian.
Firda membalas senyuman itu, lalu ia menoleh menatap Fade yang tengah memperhatikannya.
"Fad, apa kamu lelah?" tanya Firda seraya berjalan mendekati Fade.
Fade tersadar, ia menganggukkan kepalanya sambil terus memperhatikan Zian sesekali.
"Ayo kita masuk, kamu belum sarapan kan." Ajak Firda lalu memapah Fade untuk duduk di kursi rodanya.
"Aku tidak mau duduk di kursi itu, aku mau jalan saja." Ujar Fade tiba-tiba.
"Oh begitu, baiklah. Ayo aku bantu," Firda membantu Fade untuk berjalan, ia tidak keberatan sama sekali dan justru senang.
Sambil berjalan, tatapan Fade tidak terlepas dari Zian yang masih memasang senyuman sambil menatap Firda. Bahkan sepupunya itu seakan tidak sadar bahwa ia sedang memperhatikannya.
"Setiap hari kamu harus belajar jalan ya, Fad. Aku yakin dalam waktu dekat kamu bisa berjalan normal lagi." Kata Firda seraya terus berjalan pelan ke dalam rumah.
Sampai di depan pintu, Firda menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang dimana Zian berada.
"Pak Zian, ayo masuk. Kau juga belum sarapan kan," ajak Firda.
"Iya, Fir." Balas Zian manggut-manggut.
Fade semakin mengerutkan keningnya, ia menatap Zian dengan penuh rasa curiga. Ia kenal sepupunya itu, Zian tidak mudah untuk tersenyum pada orang, tapi dengan Firda tampak sangat akrab.
Bahkan panggilannya seakan mereka berdua adalah teman dekat. Fade cemburu!
"Apa mungkin Zian menyukai Firda?" Batin Fade seraya memperhatikan wajah Firda.
Mungkin saja bisa, karena Firda adalah gadis yang baik. Bukan hal aneh ketika ada pria yang menyukai Firda, gadis itu cantik dan tulus, jadi wajar jika banyak yang menyukainya.
Maka dari itu, Fade sangat bersyukur karena Firda menyukai dirinya. Sosok pria yang bisa di katakan sangat jahat dulu, tapi gadis itu masih tetap mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
"Fir, ayo menikah."
Bersambung.................................