Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Gagal dipecat


__ADS_3

Alea baru saja sampai di kantor, ia menggunakan bus angkutan umum seperti biasa menuju kantor. Tidak memerlukan waktu yang lama, sebab jarak apartemen ke kantor cukup dekat.


Kenapa nggak jalan kaki aja? Jauh kalo jalan kaki, kalo naik bus enak.


Alea yang baru saja melangkah masuk dari lobby langsung dijegat oleh bu Maisa, HRD di kantor Tristan.


"Kamu sudah berhari-hari nggak masuk, ini juga bukan pertama kalinya kamu begini. Kamu kira ini kantor siapa?" tanya bu Maisa dengan tidak bersahabat.


Alea menunduk, ia mengaku salah dengan tanggungjawab nya, apalagi ia tidak izin kepada HRD.


"Maafkan saya, Bu. Saya sakit, dan saya tidak sempat untuk meminta izin." Kata Alea dengan sopan.


Bu Maisa menatap Alea dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.


"Memangnya kamu koma, sampai-sampai nggak bisa izin sama saya hah?!" sarkas Bu Maisa dengan nada tinggi.


Alea menggeleng pelan, saat ini sudah banyak karyawan Tristan yang memperhatikan dirinya yang sedang dimarahi oleh staf HRD.


"Saya benar-benar minta maaf, Bu. Saya rela gaji saya di potong, demi mempertanggung jawabkan perbuatan saya." Ucap Alea dengan yakin.


"Potong gaji saja tidak cukup, yang pantas didapatkan oleh karyawan malas dan selalu seenaknya seperti kamu adalah sudah pemecatan!" pungkas Bu Maisa dengan nada semakin tinggi.


Alea menundukkan kepalanya lagi, ia benar-benar diam dan tidak bicara apapun. Alea juga tidak berusaha untuk memohon agar dirinya tidak di pecat.


Bukan tanpa alasan Alea tidak melakukan itu, namun setelah dipikir-pikir, ada baiknya ia berhenti dari pekerjaannya sebagai sekretaris Tristan, dengan begitu kontak diantara mereka tidak akan sesering ini.


Alea mengangkat wajahnya, ia menatap bu Maisa lalu tersenyum.


"Baik, saya siap untuk dipec–" ucapan Alea terhenti oleh seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Tristan dengan tegas.


Pada karyawan tampak kocar-kacir, mereka semua tentu saja ketakutan jika sudah ada Tristan yang turun tangan.


Karyawan yang sebelumnya berkumpul, kini memilih untuk naik ke lift dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.


Tristan menatap Alea dengan tajam, hal itu membuat bu Maisa tampak kesenangan karena berpikir bahwa Tristan sepemikiran dengannya.


"Pak, karyawan ini selalu semena-mena. Saya sudah menyiapkan surat pemecatan untuknya," ucap bu Maisa seraya menunjukkan surat yang ada di tangannya.


Tristan menatap surat yang ada di tangan HRD nya, ia lalu mengambil surat itu dengan gerakan cepat.


Dipikir Tristan akan langsung memberikannya kepada Alea, nyatanya Tristan malah merobek kertas berisi surat pemecatan itu menjadi tidak berbentuk.


Bu Maisa tercengang, begitupula dengan Alea. Ia yang tadi sudah pasrah di pecat agar tidak terlalu dekat dengan Tristan, nyatanya tidak bisa.

__ADS_1


"Alea sudah izin kepada saya, jadi kamu tidak bisa memecatnya!" Ujar Tristan tegas.


Tristan berlalu meninggalkan Alea, dan tentu saja Mondy mengekor di belakang atasannya itu.


Alea menatap kepergian Mondy dengan nanar, ia hendak menyusul, namun tangannya dipegang oleh bu Maisa.


"Alea, kau melanjutkan rencana itu seorang diri?" tebak bu Maisa.


Alea segera menepis tangan HRD itu, ia menatap tajam wanita di hadapannya ini.


"Saya tidak tahu apa maksud kata-kata anda, ingat saja satu hal, bahwa saya memegang kartu anda." Balas Alea dengan berani.


Alea segera berlari, ia harus sampai di meja kerjanya sebelum Mondy datang nanti dan membawakan beberapa berkas yang harus ia selesaikan.


Sementara bu Maisa, wanita itu terlihat sangat terkejut dengan reaksi yang Alea berikan. Tentu saja, ia mengenal Alea sebagai gadis polos dan mudah di perintah.


"Apa pak Fade melanjutkan rencana nya, tapi aku rasa tidak mungkin." Batin bu Maisa pusing sendiri.


Kembali lagi ke Alea, wanita itu sudah duduk di tempat kerjanya. Ia mulai menyalakan komputernya dan siap untuk memulai pekerjaannya setelah beberapa hari ia tinggal karena sakit.


Alea memasang wajah penuh senyuman, bukan karena ia sedang bahagia, melainkan ia sedang berkaca diri dan ingin menyemangati dirinya sendiri.


"Alea, semangat!" ucap Alea kepada dirinya.


Ada juga beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Alea sebagai sekretaris CEO.


"Astaga, banyak juga." Gumam Alea pelan.


Alea pun segera mengerjakan pekerjaannya, ia menandatangani beberapa kertas sesuai dengan tanda yang ada disana.


Ia juga merekap surat yang masuk dan mencatatnya ke dalam buku agenda sebelum dirinya memeriksa nanti.


Disaat Alea sedang asik bekerja, tiba-tiba saja ponselnya mendapatkan sebuah panggilan video dari kakaknya, Firda.


Alea segera mengangkatnya, ia tersenyum lebar ketika melihat wajah cantik kakak sekaligus keluarga satu-satunya yang ia punya.


"Kakak!!" Panggil Alea pelan.


"Hai, sudah di kantor?"


"Sudah, lihat kan. Aku sedang mengurus banyak berkas disini," jawab Alea seraya mengarahkan kamera kearah pekerjaannya yang menumpuk.


Firda tertawa melihat itu semua, kasihan sekali adiknya harus berurusan dengan tumpukan kertas.


"Kakak sedang dimana?" tanya Alea bingung.

__ADS_1


Firda mengarahkan kameranya belakang, sehingga Alea bisa melihat apa yang ada dihadapan kakaknya, dan dimana Firda berada saat ini.


"Kakak bekerja?!" tanya Alea terkejut.


Firda kembali mengarahkan kameranya ke wajahnya sendiri.


"Iya, aku memutuskan untuk kembali bekerja dan membantu kamu mencari uang. Aku tidak bisa terus diam dirumah."


"Ck, kakak! Aku bisa mencari uang, dan gajiku cukup untuk kita berdua, lagipula kakak kan masih harus istirahat." Sahut Alea sedikit kesal.


"Sudahlah, lagipula pekerjaanku ini tidak melelahkan. Hanya mengantar makanan dan minuman saja."


"Tetap saja, Kak. Sudahlah, aku akan menyusul mu kesana!" kata Alea, namun dicegah oleh suara Firda.


"Jangan! Apa kau mau dipecat!" Cegah Firda sekaligus menegur adiknya.


Mendengar kata dipecat, seketika membuat Alea teringat pada kejadian di lobby tadi. Tristan merobek surat pemecatan dirinya, pria itu menolak jika dia di pecat.


"Alea." Panggil seseorang seraya mengetuk meja kerja Alea.


Mendengar suara orang lain, Firda buru-buru mematikan sambungan telepon mereka. Firda tidak mau jika adiknya mendapatkan masalah karena dirinya.


Alea bangkit dari duduknya, ia menatap Mondy dengan sopan.


"Iya, Pak." Sahut Alea lembut.


Tristan ingin sekali tersenyum manis hanya di depan Alea, namun ia tidak mau membuat wanita itu merasa aneh padanya.


"Kau dipanggil pak Tristan ke ruangannya, jangan lupa bawa semua agenda kerjanya." Ucap Mondy kemudian berlalu masuk kembali ke dalam ruangan Tristan.


Alea menghela nafas, ia tidak tahu mengapa Tristan tiba-tiba memanggilnya, namun karena membawa berkas juga, maka ia pun yakin bahwa Tristan hanya ingin membicarakan pekerjaan.


Alea mengetuk pintu sekali, setelah itu dirinya masuk dan mendekati Tristan.


"Jadwal anda, Pak." Ucap Alea dengan sopan, melupakan masalahnya di apartemen tadi.


"Siapkan dua tiket ke Bali." Kata Tristan tanpa menjelaskan detailnya.


"Bali?" beo Alea bingung.


"Kau akan ikut denganku ke Bali untuk perjalanan bisnis, sebab Mondy masih banyak yang harus ia kerjakan disini." Jelas Tristan sesingkat itu.


KOMEN POSITIFNYA DITUNGGU 🖤


Bersambung..................................

__ADS_1


__ADS_2