
Alea menyantap rujak yang suaminya belikan dengan penuh semangat. Untung saja mood makan rujaknya belum berganti setelah ia tinggal tidur.
Alea asik memakan rujak, namun saat pandangannya menatap ke arah suaminya, ia mengerutkan keningnya bingung kala suaminya itu melamun.
"Mas." Panggil Alea, tangan gadis itu memegang wajah suaminya.
Tristan tersadar, ia memasang wajah penuh senyuman saat menatap ke arah istri tercintanya.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Alea lembut.
Tristan tidak langsung menjawab, pria itu terdiam sambil memperhatikan lamat-lamat wajah cantik istrinya.
Tristan menggenggam sebelah tangan Alea, kemudian ia cium dalam-dalam dengan penuh kasih sayang.
"Mulai besok aku nggak akan ke kantor." Ucap Tristan dengan tenang, bahkan masih tersemat di wajahnya sebuah senyuman manis.
"Tapi kenapa, Mas? Ada masalah?" Tanya Alea semakin bingung.
Tristan menggeleng, ia tidak mau Alea sampai kepikiran hanya karena masalah ini. Tristan sudah berjanji akan menjaga dengan sangat istrinya ini.
Tristan mengambil nafas panjang, ia lalu menatap ke arah pintu tatkala tiba-tiba saja ruangan itu terbuka, ternyata adalah seorang dokter yang mau memeriksa keadaan Alea.
Tristan tidak beranjak dari tempat duduknya, ia malah memperhatikan bagaimana dokter memeriksa Alea.
"Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran lagi ya, Nona. Kasihan adik bayinya nanti ikut tertekan," kata dokter lembut.
"Iya, Dok. Saya nggak akan lelah kok, lagian suami saya nggak akan biarin itu terjadi." Balas Alea lalu menatap Tristan.
"Baiklah, saya permisi ya." Dokter pun melenggang pergi meninggalkan pasiennya.
Alea kembali fokus pada suaminya, namun saat Alea hendak bertanya, Tristan malah bicara duluan.
"Nggak usah pikirkan soal ucapan aku tadi, aku cuma mau istirahat di rumah dulu dan meninggalkan kantor." Ucap Tristan menjelaskan separuhnya saja.
Alea masih belum percaya, ia kenal dengan suaminya yang tergila-gila pada pekerjaan, tidak mungkin pria itu akan pergi meninggalkan pekerjaannya dengan alasan yang tidak pasti.
__ADS_1
"Kamu yakin, Mas? Kamu nggak lagi bohongin aku kan?" tanya Alea menyipitkan matanya.
Tristan tersenyum. "Rujaknya belum habis tuh, kamu mau sesuatu lagi?" tanya Tristan guna mengalihkan pertanyaan suaminya.
Tristan benar-benar enggan Alea tahu, biarlah semua ini urusannya dan akan ia ceritakan kepada istrinya nanti. Lagipula tidak akan ada yang berubah jika Tristan melepaskan diri dari keluarga Kusuma.
Rumah utama, mobil, apartemen dan properti lain yang Tristan miliki itu murni hasil kerja kerasnya, bukan dari keluarganya.
Tristan hanya perlu meninggalkan kantor, tanpa mengembalikan apapun.
Tristan punya beberapa usaha, dan usahanya ini terpisah dengan perusahaan keluarganya. Meski kantor Tristan tidak sebesar perusahaan Kusuma, tapi cukup untuk menampung lebih dari 200 karyawan.
Ya, Tristan punya usaha retail dengan cabang di berbagai daerah, Tristan juga mempunyai usaha kulineran yang selama ini tidak pernah Alea ketahui.
Jadi, walaupun mereka bukan bagian keluarga Kusuma, Tristan tidak akan pernah membuat Alea kesusahan.
Sementara itu di tempat lain, tampak seorang gadis tengah duduk di depan pasangan suami istri aka orang tua pria yang selama beberapa hari ini ia jaga.
Firda, gadis itu menundukkan kepalanya tatkala permintaannya ditolak oleh pasangan suami istri itu.
Kepala Firda mengangguk. "Saya ingat, Om. Tapi saya hanya minta agar diperbolehkan untuk pulang dan tidak terus menginap disini." Balas Firda dengan sopan.
"Nggak bisa! Kamu mau nanti Fade kesulitan dan kamu nggak ada. Pokoknya kamu harus menjadi istri pura-pura Fade sampai putra saya bisa berjalan kembali." Putus papa Fade tanpa mau dibantah lagi.
"Hanya sampai Fade bisa berjalan, Fir. Tidak peduli kapan ingatannya akan kembali, tapi yang jelas kamu bisa pergi setelah dia bisa berjalan lagi." Tutur mamanya Fade dengan lebih lembut.
Firda tidak menyahut, ia hanya diam sambil terus menundukkan kepalanya. Tidak tahu kapan Fade akan bisa berjalan, yang jelas ia ingin segera terlepas dari Fade, Firda mau melanjutkan hidupnya yang lebih baik.
"Om, Tante!!" suara seseorang tiba-tiba, membuat mereka semua menoleh ke arah pintu.
"Zian, kamu disini. Masuklah!" pinta mama Fade lembut.
Wanita itu bangkit dari duduknya lalu memeluk keponakannya yang selisih usia 1 tahun lebih tua dari Fade.
"Apa kabar, Tante?" tanya Zian lembut.
__ADS_1
"Baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya mama Fade dan dijawab anggukkan kepala oleh Zian.
"Hai, Om." Sapa Zian lalu beralih memeluk papanya Fade.
Saat masih dengan posisi berpelukan, tiba-tiba pandangan Zian menatap sosok gadis yang asing untuknya.
"Dia siapa, Om?" tanya Zian menatap Firda.
"Dia Firda, istrinya Fade." Jawab mama Fade.
"Hanya istri pura-pura saja, dia ini yang telah membuat Fade kecelakaan, makanya dia harus bertanggung jawab." Ralat papa Fade dan menjelaskan panjang lebar.
"Tapi, apa harus menjadi istri pura-pura?" tanya Zian, ia merasa cukup iba melihat Firda yang tampak diam saja.
"Harus dong, jika tidak begitu, adikmu itu tidak akan mau melihat wajahnya." Jawab papa Fade lagi.
Zian manggut-manggut, ia lalu berjalan mendekati Firda kemudian mengulurkan tangannya di depan gadis itu.
"Hai, aku Zian. Sepupu Fade," ucap Zian dengan ramah dan penuh senyuman.
Firda membalas senyuman manis itu dengan senyuman singkat saja, ia juga membalas uluran tangan sepupunya Fade.
"Aku Firda." Balas Firda memperkenalkan diri.
Firda pun melepaskan tangannya dari Zian, dan hal itu membuat Zian tersadar bahwa ia terlalu lama memegang tangan Firda.
"Ahh maafkan aku, aku tidak sadar jika memegang terlalu lama." Ucap Zian.
Firda hendak membalas, namun suara Fade dari lantai atas membuat Firda buru-buru menghampiri pria itu.
Zian menatap kepergian Firda dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu manis menurutnya, dan suaranya terdengar lembut.
ADA ORANG BARU NIHHH🤣
Bersambung..........................
__ADS_1