Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Enggan mengakui


__ADS_3

Setelah dirawat selama 2 hari di rumah sakit, akhirnya Alea dan putranya diperbolehkan untuk pulang. Tristan tentu yang menyetir mobilnya sendiri, sebab Mondy ia suruh handle pekerjaan di kantor.


Selama perjalanan, Alea hanya menatap putranya. Entah itu mengusap pipi, atau bahkan menciumnya dengan gemas.


Bayi mungil dalam gendongannya adalah anaknya dan Tristan, ia yang mengandung selama 9 bulan, jadi wajar saja jika Alkano lebih banyak mirip dengannya.


"Sayang, mau mampir beli sesuatu?" Tanya Tristan menawarkan.


"Nggak, Mas. Aku kan nggak boleh makan sembarangan, jadi mau beli apa-apa rasanya takut." Jawab Alea menolak.


"Iya, dokter kasih saran kamu makan banyak buah dan sayur kan." Sahut Tristan tersenyum sembari mengusap rambut panjang istrinya.


Alea manggut-manggut, ia lalu menunduk dan mencium kedua pipi Alkano yang asik tertidur setelah puas minum susu.


"Sekarang susu aku di bagi-bagi sama Alkano ya, nggak full punyaku." Celetuk Tristan.


Tatapan pria itu tampak jahil, membuat Alea rasanya sulit untuk marah-marah. Alhasil Alea hanya tertawa.


"Awhhh …" Alea tiba-tiba meringis merasakan sakit di bagian bawahnya yang dijahit. Rasanya sedikit ngilu saat ia tertawa.


"Kenapa, Sayang? Yang mana yang sakit??" Tanya Tristan khawatir.


Alea menggeleng. "Nggak apa-apa, Mas. Cuma ngilu karena ketawa," jawab Alea.


Tristan mencubit gemas pipi sang istri. "Lagian sih kalo ketawa pakai tenaga, Mami." Ucap Tristan.


Alea memegangi pipinya, ia tidak menyahut dan hanya menekuk wajahnya saja.


Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka bertiga sampai di rumah utama. Terlihat Aira dan papa Jaya sudah menunggu kedatangan mereka.


"Mama benar-benar tidak mau melihatku dan cucunya." Batin Alea kembali sedih.


Tristan memegang pinggang istrinya, lalu mengajaknya untuk segera masuk ke dalam rumah. Sebelum itu, tentu ada bincang sedikit antara opa dan cucunya.

__ADS_1


"Cucu opa yang tampan sudah pulang, ayo kita masuk …" ucap papa Jaya dengan nada seperti orang menyanyi.


Alea terkekeh, ia membiarkan Aira menggendong putranya sebab wanita itu sudah merengek-rengek ingin menggendong keponakannya.


"Ponakan onty yang ganteng, ya ampun bobok terus nih." Celetuk Aira lalu mengajaknya masuk diikuti papa Jaya.


Alea tersenyum, begitu pula dengan Tristan yang langsung merangkul bahu istrinya.


"Masuk yuk, kamu harus istirahat. Selama di rumah sakit kan begadang terus," ajak Tristan.


Alea tersenyum tipis, ia menganggukkan kepalanya lalu melangkah bersama suaminya ke dalam rumah.


Saat Alea masuk, tepat sekali mama Saras yang datang ke ruang tamu. Alea menatap ibu mertuanya dan melempar senyuman, namun mama Saras hanya diam saja.


"Ma." Ucap Alea pelan, lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya.


Tristan melakukan hal yang sama, meski ia sedikit terganggu akan sikap ibunya pada Alea. Tidak datang ke rumah sakit, dan sekarang tidak menyambut sama sekali.


"Tristan, kamu pasti lelah. Istirahat lah, Nak." Tutur mama Saras pada putranya.


"Aku sama sekali tidak lelah, Ma. Alea yang lelah setelah berjuang melahirkan cucu keluarga ini." Sahut Tristan, lalu menarik tangan istrinya menjauh dari mama Saras.


Tristan menatap adiknya yang masih asik menggendong baby Alkano, ia lalu berjalan dan mendekati Aira.


"Ai, titip Alkano ya. Jika dia menangis atau haus, antar ke kamar ya." Tutur Tristan.


"Baiklah, Kak." Sahut Aira mengangguk paham.


Usai mengatakan itu, Tristan pun menarik tangan istrinya untuk pergi ke kamar mereka. Selama 2 hari tidur Alea kurang teratur dan sekarang waktunya istirahat.


"Kamu tidur ya, aku sambil kerjain pekerjaan kantor sedikit." Tutur Tristan seraya menyelimuti tubuh istrinya.


"Iya, Mas. Aku tidur sebentar ya," kata Alea dan dibalas senyuman oleh Tristan.

__ADS_1


Alea pun memejamkan matanya, karena sesungguhnya ia memang mengantuk sekali.


Sementara itu di ruang tamu, Aira dan papa Jaya begitu asik menatap wajah Alkano. Bahkan karena berisik, Alkano sampai terbangun, namun untungnya tidak menangis.


"Mirip kak Alea ya, jadi ganteng banget." Ucap Aira menusuk pelan pipi keponakannya.


"Ada miripnya juga sama Tristan, tatapannya tajam tapi lucu." Sahut papa Jaya.


Mama Saras yang ada di sana hanya melirik saja, ia tidak dihiraukan sama sekali karena suami dan putrinya sibuk pada Alkano.


Mama Saras berdehem, membuat Aira dan papa Jaya menatapnya.


"Kenapa, Ma?" Tanya papa Jaya pada istrinya.


"Tidak apa-apa, tenggorokan mama terasa sedikit kering." Jawab mama Saras berbohong.


Aira tersenyum, ia bangkit dari duduknya lalu duduk di sebelah mama Saras.


"Ma, lihat deh. Anak kak Alea dan kak Tristan lucu ya." Ucap Aira dengan penuh semangat.


Mama Saras meliriknya. "Namanya bayi pasti lucu." Sahut mama Saras.


"Coba mama gendong nih." Tutur Aira lalu memberikan Alkano untuk digendong oleh mama Saras.


Mama Saras tidak sempat untuk menolak, alhasil ia kini menggendong cucu pertama keluarganya.


Mama Saras yang awalnya ingin marah seketika terdiam dan tersenyum tipis. Bayi dalam gendongannya bukan hanya lucu, tetapi tampan.


"Lucu kan, Ma?" Tanya papa Jaya.


Mama Saras tersadar. "Iya, lucu dan tampan karena mirip Tristan." Jawab mama Saras sedikit ketus.


Papa Jaya dan Aira hanya geleng-geleng kepala melihat sikap mama Saras yang gengsi untuk sekedar mengakui. Meski begitu, mereka semua tahu bahwa sebenarnya mama Saras pun setuju jika Alkano mirip dengan Alea.

__ADS_1


MAAF YA UDAH LAMA NGGAK UPDATE 😖


Bersambung...............................


__ADS_2