Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Bertemu dia lagi


__ADS_3

"Mondy, cepat jemput Aira sekarang!"


Perintah itu langsung Tristan berikan kepada Mondy saat Alea mengatakan ngidam untuk memeluk Aira.


Kini Mondy sudah ada di jalan, ia benar-benar tidak tahu dan tidak habis pikir dengan istri atasannya yang ngidam hal diluar nalar.


Sejujurnya ini sudah seringkali terjadi, beberapa ibu hamil akan menginginkan sesuatu seperti di peluk oleh seseorang. Tapi kenapa Alea harus ngidam memeluk Aira, yang jelas-jelas orangnya tidak ada di sana.


Mondy hanya bisa menghela nafas, ia ingin segera menjemput Aira dan membawanya ke rumah utama untuk di peluk oleh Alea, sehingga ngidam wanita itu bisa terpenuhi.


"Ada-ada saja, bagaimana bisa ngidam ingin di peluk Aira." Gumam Mondy geleng-geleng kepala.


Perjalanan Mondy bahkan belum ada setengahnya, untung saja dia berangkat pagi tadi.


Mondy juga tidak memberitahu Aira soal ini, ia yakin gadis itu akan terkejut saat dirinya sampai di sana.


Namun Mondy baru sadar, ada satu poin penting yang ia lupakan. Ya, Mondy tidak tahu dimana letak rumah Aira, ia hanya mengantar gadis itu sampai ke depan gang.


"Astaga, semoga saja rumahnya tidak jauh dari terakhir aku menurunkan nya." Gumam Mondy.


Mondy berharap saat ia bertanya kepada orang-orang disana, maka akan ada yang mengenal Aira. Setidaknya ia akan bisa cepat membawa gadis itu ke rumah utama.


Perjalanan berjam-jam berhasil ditempuh oleh Mondy. Kini pria itu sudah sampai di mana ia menurunkan Aira waktu itu.


Mondy keluar dari mobil, kebetulan sekali karena disana ada warung sehingga ia memutuskan untuk bertanya.


"Permisi." Ucap Mondy dengan sopan.


"Iya, Kang?" Sahut si mamang penjaga warung.


"Saya boleh tanya nggak, Mang? Mamang kenal sama perempuan ini nggak?" tanya Mondy seraya menunjukkan foto Aira.


Dimohon semua yang tahu jangan katakan pada Aira bahwa ia memiliki foto gadis itu. Waktu itu Mondy tidak sengaja memotret Aira yang sedang memasak di dapur apartemennya.


"Oh ini mah neng Aira, Kang. Atuh saya kenal, tetangga saya." Jawab si penjaga warung itu dengan senyuman ramah.


Mondy senang karena ternyata ia dengan mudah menemui Aira. Untung saja ada yang mengenal gadis cantik itu.


"Oh iya, rumahnya dimana ya?" tanya Mondy dengan terburu-buru.


"Akang masuk aja ke gang itu, terus ikutin jalan. Nanti ada rumah yang ada tenda, nah itu rumahnya." Jawab penjaga warung itu seraya menunjuk ke arah gang yang disebutkan.


"Tenda?" beo Mondy mengerutkan keningnya.


"Iya, Kang. Besok neng Aira nikah, makanya sekarang rumahnya udah ramai." Jawab nya memberitahu.


Senyuman di wajah Mondy mendadak hilang mendengar ucapan pria di depannya. Jantungnya bahkan berdetak tidak karuan.


"Menikah?" tanya Mondy sedikit gugup.

__ADS_1


"Iya, kasihan banget. Di paksa nikah sama kakek-kakek." Jawab penjaga warung itu lalu menghela nafas pelan.


"Neng Aira cantik, tapi jodohnya begitu. Keluarganya jahat, Kang." Tambah penjaga warung itu lagi.


Mondy menatap penuh tanya, ia semakin penasaran dengan keluarga gadis cantik itu.


"Jahat gimana maksudnya?" tanya Mondy.


"Neng Aira selalu diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri, bahkan satu kampung tahu soal ini." Jawab penjaga warung itu.


Mondy tahu bahwa pria di depannya ini tahu banyak hal, namun ia tidak enak jika harus membongkar keburukan orang lain dengan seseorang yang baru dikenalnya.


"Mang, makasih ya. Kalo gitu saya permisi mau langsung ke rumah Aira." Ucap Mondy pamit.


"Eh, Kang. Kalo saya boleh tahu, kakang teh saha?" tanya nya dengan ragu-ragu.


"Saya … saya temannya." Jawab Mondy seadanya.


Si penjaga warung nampak menatap Mondy dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu beralih menatap mobil mewah milik pria itu.


"Iya deh, Kang. Hati-hati ya," katanya sopan.


Mondy pun segera pergi, ia mengendarai mobilnya masuk ke dalam gang yang diberitahukan penjaga warung tadi.


Sambil terus menyusuri jalan, Mondy menatap ke kanan dan kiri untuk memperhatikan bagaimana kampung halaman gadis yang sudah berhasil membuat harinya berwarna.


Karena terlalu fokus menatap sekitar, Mondy sampai tidak sadar ada seseorang yang ingin menyeberang. Ia pun akhirnya menabrak gadis itu hingga jatuh bersama barang bawaannya.


Gadis itu bangun lalu menunjuk wajah Mondy, mulutnya tampak ingin mengucapkan sesuatu, namun terhenti saat menatap wajah Mondy.


"Maafkan saya, apa anda terluka?" tanya Mondy khawatir.


Gadis itu tersenyum. "Nggak terluka sih, tapi kaki aku sakit." Jawab gadis itu, Ayu.


Ya, gadis yang Mondy tabrak adalah Ayu, kakaknya Aira.


"Begitu ya, baiklah saya antar anda ya. Anda mau kemana?" tanya Mondy sopan.


"Mau pulang, tadi abis dari pasar eh malah di tabrak." Jawab Ayu dengan anda selembut mungkin.


Mondy manggut-manggut. "Baik, mari saya antar pulang." Ajak Mondy.


Ayu tentu saja tidak menolak, ia lantas masuk ke dalam mobil mewah milik Mondy dengan penuh semangat.


Jiwa kampungnya meronta-ronta saat melihat bagaimana mobil mewah itu ia duduki sekarang. Ayu jadi membayangi bagaimana jika dirinya menikahi pria kaya dan tampan seperti ini.


"Akang bukan orang sini ya?" tanya Ayu basa-basi.


"Hmm, saya sedang mencari seseorang." Jawab Mondy singkat.

__ADS_1


"Wahh, siapa kang? Pasti orang penting ya, sampai-sampai akang rela mobil mewah ini masuk ke kampung." Celetuk Ayu.


Mondy tidak langsung menjawab, ia melirik sebentar gadis di sebelahnya yang tampak senyum-senyum sambil merapikan rambutnya.


"Dimana rumah anda?" tanya Mondy tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Ayu.


"Lurus we, Kang. Nanti aku kasih tahu," jawab Ayu dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya.


Mondy bergidik, entah mengapa ia ingin gadis di sebelahnya ini segera turun. Ia juga kan harus menemui Aira secepatnya.


"Nah, stop kang. Ini rumah aku udah sampai," ucap Ayu meminta Mondy berhenti.


Bahkan tangan Ayu dengan lancang memegang tangan Mondy yang memegang perseneling.


"Maaf, Nona. Tolong jangan sembarangan menyentuh orang." Tegur Mondy dingin.


Mondy pun menatap lurus, ia mengerutkan keningnya melihat sebuah rumah yang di depannya ada tenda.


"Kang, mampir dulu yuk. Nanti aku buatin minum, sebagai tanda terima kasih." Ajak Ayu.


Mondy hendak menolak, tapi Ayu sudah keluar dari mobil lalu menjentikkan jarinya meminta Mondy untuk keluar.


Mondy pun akhirnya keluar, ia juga penasaran apakah ini rumah Aira atau bukan. Apa ada tetangga Aira yang akan menikah juga makanya ada tenda.


Mondy mengikuti langkah Ayu saja, ia terus memperhatikan rumah dan dekorasi sederhana untuk pernikahan.


"Lho Ayu, kamu bawa siapa itu? Meni kasep pisan." Ucap ibunya Ayu berbisik.


"Nggak tahu, Bu. Semoga aja bisa jadi calon mantu ibu," balas Ayu tidak kalah berbisik.


Ayu menatap Mondy. "Kang, silahkan duduk. Sebentar saya buatin minum," tutur Ayu.


Mondy pun pasrah saja, ia duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu.


"Bu, itu mobil siapa di dep–" ucapan orang itu terhenti saat melihat siapa yang ada di rumahnya.


"Om Mondy!!" pekik Aira terkejut.


Mondy bangkit dari duduknya, ia mendekati Aira lalu tanpa sadar langsung mendekap tubuh mungil gadis itu.


"O-om." Cicit Aira gugup.


"Ai, apa kabar?" tanya Mondy dengan masih memeluk Aira.


Mata Aira berkaca-kaca, tanpa sadar gadis itu membalas pelukan Mondy dengan tidak kalah erat.


"Aku baik, Om." Jawab Aira lirih.


"AIRA!!!"

__ADS_1


WADUHH KACAU.....


Bersambung...........................


__ADS_2