Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Pembuktian cinta


__ADS_3

Mondy memutuskan untuk mengajak Aira ke mall terlebih dahulu sebelum mengajaknya ke tempat yang sudah ia rencanakan untuk mereka datangi. Semoga kalian masih ingat tentang Mondy yang belum membeli cincin kawin untuknya sendiri.


Mondy dengan setia menggandeng tangan istrinya, ia tidak mau jika Aira sampai hilang katanya.


"Om, kita ngapain ke tempat ini?" tanya Aira seraya celingak-celinguk.


"Membeli sesuatu, jika kamu mau membeli sesuatu juga. Katakan saja ya, Ai." Tutur Mondy dengan lembut.


Aira menoleh, menatap wajah Mondy yang kini melemparkan senyuman padanya. Aira membalas senyuman itu dengan tidak kalah manis.


"Aku lupa bilang sama kamu, waktu itu ada orang yang mengira jika aku belum menikah karena aku tidak pakai cincin, makanya aku mau beli." Jelas Mondy lagi setelahnya.


Aira manggut-manggut, ia juga sempat berpikir mengapa Mondy tidak memakai cincin sepertinya.


"Aku pikir om memang nggak mau orang lain tahu jika om sudah menikah." Balas Aira pelan.


Mondy mendengarnya, ia lantas menarik tangan Aira lalu ia kecup punggung tangan yang tersemat cincin kawin di jari manisnya.


"Aku sudah mengatakan bahwa aku mencintai kamu, Ai. Jadi mana mungkin aku akan begitu. Aku malah bangga sudah menikah dengan gadis yang aku cintai." Kata Mondy lalu menatap lurus.


Mondy menarik tangan istrinya masuk ke salah satu toko emas dengan merek terbaik.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" seorang pelayan toko langsung menghampiri Mondy.


"Berikan cincin pernikahan yang terbaik." Pinta Mondy langsung.


"Baik, silahkan duduk dulu Tuan." Kata pelayan itu lalu kemudian pergi.


Mondy pun mengajak istrinya untuk duduk di sofa yang ada di sana. Ia akan menunggu sampai pelayan toko membawakan cincin kawin yang terbaik.


Mondy menoleh saat tidak mendengar suara Aira sama sekali, dan saat itulah ia sadar jika Aira tengah memperhatikan salah satu kalung yang terpajang di sana.


"Sayang." Panggil Mondy pelan.


Aira tersadar dan langsung menoleh. "Eumm, iya?" sahut Aira.


"Kamu mau sesuatu?" tanya Mondy menawarkan.


Sengaja Mondy bertanya, ia ingin tahu apakah Aira akan mengatakan keinginannya atau tidak padanya.


"Nggak kok, Om. Aku nggak mau apa-apa," jawab Aira berbohong.


Mondy menghela nafas, benar dugaannya bahwa Aira tidak akan mudah meminta padanya, padahal Mondy siap jika Aira poroti.


Tidak lama kemudian pelayan datang membawa beberapa model cincin pernikahan. Terlihat bagus semua, sampai-sampai Mondy sulit memilih.


"Menurut kamu yang mana, Sayang?" tanya Mondy meminta usulan dari istri kecilnya.


Aira tampak melihat-lihat, ia juga sepertinya kesulitan untuk memilih cincin mana yang paling bagus diantara yang bagus.


"Ini, Om. Sederhana, tapi aku suka." Ucap Aira menunjuk salah satu model cincin.


"Baiklah, bungkus langsung ya mbak." Tutur Mondy memberikan kartu miliknya.


Pelayan itupun mengambil satu pasang cincin kawin untuk dibungkus, hal itu tentu saja membuat Aira kebingungan.


"Kenapa dua-duanya, bukannya om hanya beli satu?" Tanya Aira heran.


Mondy terkekeh kecil. "Nggak, Sayang. Aku beli untuk kamu juga," jawab Mondy.


Aira lalu menunjukkan jari manisnya. "Lalu cincin ini?" tanya Aira.


"Jangan dilepas, bukankah masih tersisa sembilan jari. Bagaimana jika kita isi semua?" tanya Mondy menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Aira tertawa, ia bahkan sampai memukul bahu Mondy tanpa sadar.


"Om ini ada-ada saja, om mau aku dibilang toko emas berjalan." Celetuk Aira masih tertawa.


Mondy tersenyum senang, ia bahagia sekali melihat Aira tertawa-tawa. Sudah lama Mondy tidak melihatnya.


"Sayang, tunggu disini ya." Tutur Mondy lalu bangkit dari duduknya.


Aira hanya mengangguk, membiarkan suaminya pergi bicara pada pelayan toko emas. Entah apa tujuannya, Aira tidak akan bertanya, kecuali Mondy sendiri yang memberitahu.


Tidak lama kemudian Mondy pun datang dengan dua paperbag di tangannya. Ia lalu menghampiri istrinya lagi.


"Sayang, ayo pergi." Ajak Mondy mengulurkan tangannya.


Aira mengangguk, ia kembali mengikuti kemana Mondy akan membawanya. Ternyata Mondy mengajak Aira ke salah satu toko pakaian.


"Om, kita mau apa?" tanya Aira menahan tangan Mondy.


"Beli baju buat kamu, Ai. Pilih yang kamu suka," jawab Mondy dengan enteng.


Aira kebingungan, namun ia menurut saja saat Mondy kembali menarik tangannya untuk memilih bajunya.


Aira memilih beberapa baju meski ia sebenarnya ragu. Ingin rasanya Aira melihat label harga, namun Mondy melarangnya.


"Tidak perlu dilihat, cukup lihat yang mana kamu suka." Ucap Mondy pada istrinya.


Aira tidak berani membantah, ia pun mengambil tiga baju yang menurutnya bagus.


"Hanya itu?" tanya Mondy dan Aira menjawab dengan anggukan kepala.


Mondy pun lekas membayarnya, ia memberikan kartu miliknya lagi sebagai alat pembayaran.


"Om, kita pulang saja. Aku rasa kita sudah banyak menghabiskan uang hari ini." Ajak Aira setelah mereka membayar.


Setelah dari toko pakaian, kini Mondy mengajak istrinya ke salon. Entah apa yang Mondy mau, yang jelas ia bicara pada petugas di salon itu.


"Om, aku mau di bawa kemana?" tanya Aira saat dirinya di persilahkan masuk oleh pekerja di salon.


"Nggak apa-apa, Sayang. Ikut saja, aku akan menunggu disini." Tutur Mondy lembut.


Aira akhirnya pasrah di bawa oleh pekerja di salon itu.


***


Puas berjalan-jalan di mall, kini Mondy mengajak istrinya untuk dinner. Ya, tidak terasa sama sekali bukan jika malam sudah datang.


Mondy menunggu Aira hampir 3 jam saat di salon tadi, namun Mondy cukup puas dengan hasilnya. Kini Aira terlihat sangat cantik, dan menggoda.


Mondy sesekali melirik Aira, istrinya itu mengenakan dress berwarna putih dengan panjang selutut yang membentuk badan.


Rambut panjangnya di curlly dan wajahnya sedikit diberi sentuhan makeup sehingga membuatnya terlihat cantik dan menggemaskan.


"Kenapa, Om?" tanya Aira saat dirinya sadar bahwa Mondy sejak tadi meliriknya.


"Kamu semakin cantik, Ai. Sangat cantik," jawab Mondy jujur.


Aira tersenyum malu-malu, namun demi menutupi rasa malunya itu ia memilih untuk menatap jendela.


Aira yang betah menatap jalanan tiba-tiba dibuat terkejut saat tangannya dipegang oleh suaminya.


"Apa jalanan lebih menarik dari suamimu?" tanya Mondy mengangkat kedua alisnya.


Aira menggeleng. "Bukan itu, Om. Aku …" Aira bingung harus menjawab apa, rasanya tidak mungkin ia menjawab karena malu jika terus bertatapan dengan suaminya.

__ADS_1


Mondy tertawa melihat istrinya kesulitan untuk menjawab, ia pun mencium punggung tangan itu lalu membelokkan stir mobilnya dengan satu tangan.


"Lupakan saja, kita sudah sampai. Ayo," ajak Mondy kepada istrinya.


Aira mengangguk, ia pun keluar menyusul suaminya. Aira yang peka, langsung menggandeng tangan Mondy.


Mondy tersenyum melihat kepekaan Aira. "Kamu itu lucu, Ai. Tahu nggak?" tanya Mondy seraya mengajak istrinya masuk ke dalam restoran.


"Lucu? Aku bukan boneka, Om." Jawab Aira dengan polos.


Mondy terkekeh, ia gemas dan langsung mendaratkan bibirnya di pipi mulus istrinya.


"Om, nanti dilihat orang." Bisik Aira melirik ke arah sekitar.


Mondy tidak menjawab, ia lalu mendatangi salah satu pelayan restoran guna menanyakan meja yang sudah ia reservasi sebelumnya.


"Meja atas nama pak Mondy?" Tanya pelayan restoran itu.


"Benar." Jawab Mondy menganggukkan kepalanya.


Mondy pun mengajak Aira ke lantai atas, tepatnya di outdoor. Ia sudah menyiapkan sesuatu yang manis di sana untuk istrinya.


Sampai di lantai atas, Aira dibuat tercengang melihat sebuah meja dengan lilin di atas meja dan sedikit taburan bunga.


"Om?" tanya Aira.


Mondy tidak menyahut, ia menarik tangan istrinya lembut untuk duduk di sana. Ia tarik kursi, lalu ia tuntun Aira untuk duduk di susul oleh nya yang duduk di kursi depan Aira.


"Om yang menyiapkan semua ini?" tanya Aira.


Mondy mengangguk. "Ya, aku menyiapkannya untuk istriku yang paling cantik." Jawab Mondy.


Aira tersenyum penuh arti, ia lalu mengambil sesuatu dari saku jasnya, kemudian berlutut.


Aira yang melihat itu tentu saja kebingungan. "Om mau apa?" tanya Aira.


Mondy membuka kotak cincin, lalu menyodorkan di depan Aira. "Ai, mau menikah denganku?" tanya Mondy dengan penuh harapan.


"Apa? Tapi kita sudah menikah." Jawab Aira.


"Benar, tapi aku kembali melamar kamu. Aku mau menikahi kamu lagi, Ai. Atas dasar cinta." Jelas Mondy.


Aira meneteskan air matanya, ia tidak langsung menjawab dan malah menangis.


"Sayang." Mondy bangkit dari duduknya lalu memeluk tubuh mungil istrinya.


"Hiks … kenapa om harus melakukan ini semua." Lirih Aira dengan tubuh yang masih dipeluk Mondy.


"Agar kamu tahu, Ai. Aku menikahi kamu karena cinta, aku nggak mau kamu terus-menerus berpikir bahwa aku membeli kamu." Jawab Mondy dengan jujur.


Aira kembali menangis, ia tidak menyangka jika Mondy akan menyiapkan ini semua. Baru kemarin ia meluapkan isi hatinya, dan sekarang Mondy langsung menunjukkan cintanya.


"Ai, Will you marry me?" tanya Mondy lagi.


Aira menyeka air matanya, ia menatap Mondy dengan kepala yang mendongak. Ia lalu menganggukkan kepalanya.


"Aku mau." Jawab Aira pelan.


Mondy tersenyum, ia lalu menunduk dan mencium bibir istrinya. Tidak peduli jika semua ini terkesan buru-buru, yang jelas Mondy tidak tahan jika harus berlama-lama melihat Aira menganggap dirinya sebagai pelayan.


Mondy mencintai Aira, dan ia mau dunia tahu tentang perasaan nya. Gadis kecil yang sedang ia cium ini adalah istrinya, cintanya dan miliknya.


MBAK AIRA, TUKER POSISI AYO!!!

__ADS_1


Bersambung...................................


__ADS_2