Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Tanda yang sama


__ADS_3

Alea tersenyum dengan bahagia, ia juga mengusap-usap perut kakaknya yang masih rata. Ia gemas sekali, sama tidak sabar nya menanti kelahiran bayi dalam kandungannya.


"Nggak sabar kamu lahir ke dunia, tante pasti akan menjadi yang paling bahagia!" Ucap Alea.


Firda tertawa, ia beralih mengusap perut adiknya yang sudah membulat. Gemas sekali ingin mengusapnya.


"Tristan pasti suka sekali mengusap perut kamu kan, Lea?" Tanya Firda menebak.


"Heum, bagaimana kakak tahu?" Tanya Alea mengerutkan keningnya.


Firda tertawa. "Tentu saja aku tahu, aku saja ketagihan mengusap perutmu yang bulat ini." Jawab Firda.


Alea dan Firda sama-sama tertawa, sementara Aira hanya tersenyum. Aira bukan tidak dianggap, ia terdiam karena dua kakak barunya itu sudah mengandung, ia juga ingin.


Aira sadar umurnya masih belia, namun ia tidak mau menunda kehamilan. Ia mau memberikan kebahagiaan yang sama kepada suaminya.


"Ai, apa semua baik-baik saja?" Tanya Alea.


"Iya, Kak. Aku hanya sedang berpikir, makanan apa yang enak kita nikmati sekarang." Jawab Aira berbohong.


"Makanan ini." Ucap seseorang dari belakang mereka semua.


Tampak papa Yudi dan mama Nuri datang bersama seseorang dengan bingkisan di tangan orang itu.


"Mama, Papa." Firda buru-buru bangkit dan mencium punggung tangan mertuanya.


Alea melakukan hal yang sama, dan kali ini ia bingung. Biasanya mertua kakaknya itu paling enggan menerima salamnya, tapi kali ini berbeda.


"Kami dengar dari Fade, katanya Alea mau kesini. Karena itulah kami mampir dan membeli ini semua untuk kalian." Jelas mama Nuri.


Firda tersenyum manis. "Terima kasih banyak, Ma, Pa. Pasti merepotkan ya," kata Firda.


"Tidak." Cicit papa Yudi.


Ada rasa asing saat ia harus mulai menyayangi Firda. Ya, semenjak Firda dinyatakan hamil, dirinya sendiri seperti mendapatkan bisikan untuk mulai memperlakukan menantunya dengan baik.


Papa Yudi sedang belajar untuk itu.


"Lalu siapa gadis cantik ini?" Tanya mama Nuri menatap Aira.


Aira tersenyum, ia mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalkan.


"Saya Aira, Nyonya. Saya istrinya Mondy, asisten tuan Tristan." Ucap Aira memperkenalkan diri.


"Cantiknya." Puji mama Nuri dengan jujur.


Aira tersenyum malu-malu, tidak lupa ia mengucapkan terima kasih pada mertua kakaknya.


"Ma, Pa. Silahkan duduk, aku akan buatkan minum." Tutur Firda mempersilahkan.

__ADS_1


"Tidak, Fir. Kamu sedang hamil, jangan bekerja keras. Itu tugas pelayan," cegah papa Yudi.


Firda menurut saja, ia tidak akan membantah kata-kata dari mertua yang baru akhir-akhir ini mau peduli padanya.


Firda cukup bersyukur, ia berdoa semoga bayi dalam kandungannya akan semakin bisa menyatukan keluarga Fade yang sempat cekcok.


Firda lalu beralih menatap adiknya. Firda tahu Alea bingung, dan ia akan menceritakan semuanya nanti.


"Alea, Aira. Sering-seringlah kalian kesini, kasihan Firda hanya sendiri saat suaminya bekerja." Tutur mama Nuri.


"Iya, Tante." Balas Alea sopan.


Papa Yudi hanya diam saja, meski ia berusaha untuk menerima Firda, namun penilaiannya terhadap adik menantunya itu tetaplah buruk.


Alea adalah seseorang yang pernah mau merusak, atau bahkan sudah merusak rumah tangga orang lain.


Entah kapan penilaiannya berubah, yang jelas ia akan mulai belajar untuk menerima menantunya yang sedang mengandung cucunya.


Alea, Firda, Aira dan mama Nuri tampak tertawa bersama. Mereka membicarakan apa pun yang berhubungan dengan urusan wanita.


"Umur kamu masih muda, Nak. Bukan sebuah masalah jika belum hamil, apalagi kalian juga belum lama menikah kan." Ucap mama Nuri.


Aira tersenyum. Pada akhirnya ia bicara tentang dirinya yang juga ingin hamil seperti Alea dan Firda.


"Iya, Tante." Balas Aira manggut-manggut.


"Cukup dua kali sehari, Ai." Bisik Firda usil.


Aira hanya tertawa, ia bahagia memiliki dia kakak sekaligus yang bisa membuatnya bahagia disaat sedih karena pikiran yang dibuatnya sendiri.


***


Karena hari sudah sore, terpaksa Aira mengajak Alea untuk pulang. Ia masih ingat akan perintah Tristan yang meminta kepadanya agar membawa Alea pulang sore hari.


Alea dan Aira pamit pada Firda dan mertuanya. Mereka juga berjanji akan main lagi lain kali.


"Ai, bukankah mertua kak Firda sudah mulai berubah. Maksudku, dia tampak lebih peduli pada kakakku." Ucap Alea tanpa menatap wanita di sebelahnya.


"Benar, Kak. Aku juga merasakan hal yang sama, dan itu hal bagus." Timpal Aira.


Alea manggut-manggut. Tentu ini adalah hal bagus, karena dengan begini maka kehidupan pernikahan kakaknya akan semakin baik.


Alea pasti akan ikut bahagia jika kakak dan adik angkatnya ini bahagia.


"Ai, kamu bahagia kan menikah dengan pak Mondy?" Tanya Alea tiba-tiba.


Aira tersenyum. Wanita mana yang tidak akan bahagia jika menikahi pria seperti Mondy. Tampan dan penyayang, namun cuek pada perempuan lain.


"Sangat, Kak. Mas Mondy sangat mencintai dan menghargai aku sebagai istrinya." Jawab Aira jujur.

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya." Ungkap Alea.


Mobil yang Alea dan Aira tumpangi pun sampai di rumah utama. Keduanya langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Di ruang tamu, tampak papa Jaya sedang berjalan-jalan pelan di sekitar sana. Papa Jaya sedang berusaha untuk benar-benar lepas dari kursi roda.


"Selamat sore, Ma, Pa." Sapa Alea sopan, tidak lupa ia mencium punggung tangan mertuanya.


"Kamu itu, ini sudah sore dan baru pulang. Cepat sana mandi, nggak baik ibu hamil mandi terlalu sore." Tegur mama Saras.


Terdengar ketus, namun itu adalah sebuah perhatian kecil yang sangat berharga bagi Alea.


"Iya, Ma." Balas Alea mengangguk patuh.


Alea lalu menatap Aira. "Ai, kamu bisa ke kamarku sambil menunggu suami mu." Ucap Alea.


"Tidak, Kak. Aku disini saja," balas Aira menolak.


Alea menganggukkan kepalanya, ia pun pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih diri usai bepergian.


Aira menatap mertua kakaknya dengan sopan. "Tuan dan Nyonya butuh sesuatu?" Tanya Aira.


"Kamu bukan pelayan di rumah ini, jadi jangan bertingkah seakan kami adalah majikanmu." Balas mama Saras.


Aira hanya bisa tersenyum simpul. Ia lalu menatap pelayan yang datang membawa segelas teh yang diyakini untuk tuan besar.


"Permisi, Tuan. Ini tehnya," ucap pelayan dengan sopan.


Pelayan itu hendak memberikan tehnya, namun tangannya licin dan membuat teh itu tersiram ke tangan papa Jaya.


"Astaga!!!" Ucap Aira terkejut dan reflek membuka cardigan dress yang ia gunakan.


Aira lalu mengelap tangan papa Jaya dengan cardigan miliknya. Kini tangan Aira terekspos karena lengan bajunya hanya sampai bahu.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya Aira, namun tidak mendapat jawaban.


Papa Jaya dan mama Saras sontak sama-sama melototkan matanya melihat sesuatu yang ada di lengan bahu Aira.


"Tanda itu …" mama Saras menggantung ucapannya.


Aira menatap tanda di tangannya. "Ah ini, ini tanda lahir saya, Nyonya." Ucap Aira menutupi tanda lahirnya.


Sementara papa Jaya masih diam dengan tatapan mata yang masih mengarah pada Aira.


Tanda itu adalah tanda yang sama dengan tanda lahir putrinya yang hilang bertahun-tahun lalu.


Papa Jaya melangkah pelan untuk pergi dari sana, ia harus melakukan sesuatu. Papa Jaya sampai di kamar dan langsung meraih ponselnya.


"Cari tahu identitas istri asisten putraku." Ucap papa Jaya lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


NGGAK BISA BERKATA-KATA 😌


Bersambung.........................


__ADS_2