Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Mondy panik


__ADS_3

Selesai makan malam, Alea mengajak suaminya untuk ke kamar dan tidur, namun Tristan menolak dengan alasan ia masih memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan.


Meskipun Alea berusaha untuk menahan suaminya, tapi tidak membuat Tristan ikut ke kamar. Alea takut Tristan akan mengecek cctv dan melihat kejadian tadi pagi.


Kini Alea sedang mondar-mandir di kamar, ia benar-benar takut sekali Tristan akan tahu semuanya.


"Kalo mas Tristan tahu, pasti dia akan marah sekali. Bagaimana ini." Ucap Alea gusar.


Alea hendak membuka pintu kamar, namun gerakannya keduluan oleh Tristan sehingga kepala wanita itu terbentur pintu.


"Aww …" ringis Alea pelan, ringisan yang lebih tepatnya adalah reaksi terkejut.


"Astaga, Sayang!!!" Tristan memekik kaget lalu segera memeluk istrinya.


Tristan menangkup wajah cantik Alea, ia mengusap-usap kening istrinya yang baru saja terhantuk pintu.


"Sayang, sakit banget ya?" tanya Tristan lembut.


Alea menatap wajah Tristan, ini kesempatan bagus untuknya mencegah Tristan pergi.


Alea memasang wajah penuh kesakitan. "Iya, huhu … kepala aku pusing, Mas." Jawab Alea berpura-pura.


Tristan panik, ia lantas menggendong tubuh Alea lalu membawanya untuk berbaring diatas ranjang.


"Mas, hiks … mau tidur sambil dipeluk." Pinta Alea dengan kedua tangan terangkat ke atas.


"Tapi aku belum selesai, Sayang." Ucap Tristan membuat Alea menekuk wajahnya.


Alea mencoba berpikir, cara apalagi yang akan ia gunakan untuk mencegah Tristan kembali ke ruang kerja.


"Mas, katanya mau jatah. Ayo kita olahraga malam!" ajak Alea dengan penuh semangat.


Kening Tristan mengkerut mendengar ucapan istrinya yang malah mengajak, padahal jelas-jelas tadi Alea menolak keras.


"Bukannya tadi kamu nggak mau, kenapa sekarang tiba-tiba?" tanya Tristan seraya ikut naik ke atas ranjang.


Alea menyusuri wajah dan dada bidang Tristan dengan jari telunjuknya, hal itu benar-benar membuat Tristan panas dingin.

__ADS_1


"Sayang …." geraman mulai terdengar dari mulut Tristan tatkala jari lentik istrinya semakin merayap ke dalam kaos yang ia gunakan.


"Mas, aku pengen." Bisik Alea lalu mencium leher Tristan bahkan berani mencetak tanda.


"Sayang, kalo ini cuma peralihan supaya aku nggak cek cctv, maka kamu salah." Kata Tristan dengan mata terpejam.


Alea menjauhkan wajahnya dari leher suaminya, ia menatap pria itu penuh pertanyaan.


"Maksud kamu?" tanya Alea.


Tristan tersenyum tipis, ia lalu mendekatkan wajahnya ke leher Alea dan memberikan kecupan basah yang memabukkan.


"Ahh … Mas, maksud kamu apa?" tanya Alea berusaha menahan godaan suaminya.


"Aku tahu bahwa yang membuat kamu terluka adalah mamaku kan." Jawab Tristan dengan tenang.


Alea terkejut bukan main, ia menangkup wajah Tristan lalu mengusap-usap rahang tegas pria itu dengan lembut.


"Mas, mungkin mama nggak sengaja melakukannya. Tolong jangan marah ya," pinta Alea ketakutan.


Tristan tersenyum tenang, ia menggelengkan kepalanya mendengar permintaan dari istri cantiknya ini.


"Nggak bisa, Sayang. Besok kita datang ke rumah papa dan mama ya. Aku nggak suka ada yang menyakiti kamu," balas Tristan menolak.


"Tapi …" Ucapan Alea terhenti karena Tristan kembali memberikan kecupan di lehernya yang jenjang.


"Tidak ada tapi, sekarang ayo olahraga seperti kata kamu." Ajak Tristan berbisik dengan nada menggoda.


Alea akhirnya pasrah, ia melayani suaminya dengan sangat baik dan sepenuh hati. Alea berharap bahwa kegiatan mereka sekarang akan bisa mengurangi rasa marah Tristan terhadap ibunya.


"Ahh …" Alea mendesahhh panjang tatkala merasakan gerakan suaminya semakin kencang.


Tristan sendiri seperti tidak sadar bahwa ia telah bergerak melebihi kecepatan yang seharusnya, sampai-sampai tubuh Alea terguncang.


"M-mas, pelan. Perut aku kram," cicit Alea dengan mata terpejam.


Tristan seakan tuli, pria itu tetap bergerak konstan tanpa mempedulikan kata-kata Alea yang memintanya untuk memelankan tempo permainan.

__ADS_1


Sementara itu di apartemen Alea dan Tristan dulu, tampak seorang pria dan gadis tengah makan malam bersama. Kondisi gadis itu sudah berangsur membaik setelah di rawat di rumah sakit dan di rumah.


"Om, pelayan itu bagaimana sekarang?" tanya Aira seraya terus memotong apel diatas pangkuannya.


Saat ini mereka sedang duduk santai di depan televisi. Keduanya terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang santai usai makan malam bersama.


"Nasibnya sama seperti bosnya." Jawab Mondy singkat.


Kening Aira mengkerut, ia tidak mengerti kata-kata Mondy barusan.


"Tidak perlu dipikirkan, saya nggak juga nggak mau menjelaskan ke kamu." Ujar Mondy dengan cepat.


Aira menekuk wajahnya, ia menatap pria itu dengan perasaan kesal. Apel yang ia potong sudah habis di makan Mondy sejak tadi.


"Om!! Apelnya habis, aku kapan makan nya." Ucap Aira dengan kesal.


Mondy tersenyum miring, ia lalu mengambil pisau dan buah apel dari tangan Alea untuk bergantian memotong.


"Sini gantian." Kata Mondy pelan.


Aira menolak, ia mengambil kembali pisau dan apel dari tangan Mondy. Gerakannya yang cepat tanpa sadar membuatnya menggores jari Mondy sampai berdarah.


"Astaga, Om!!" Aira meletakkan pisau dan piring ke atas meja, lalu dengan cepat ia mengambil jari Mondy, dan setelah nya memasukkan ke dalam mulutnya.


Mondy melotot melihat jarinya berada di dalam mulut Aira, jakun nya tampak naik turun merasakan bibir dan lidah lembut gadis itu.


"Tidak perlu, saya bisa mengobatinya." Ketus Mondy buru-buru menarik jarinya dari dalam mulut Aira.


Mondy pun beranjak dari tempatnya, ia harus segera pergi ke kamar sebelum sesuatu dalam dirinya semakin bangkit, dan menyebabkan hal yang tidak seharusnya terjadi.


"Sial sial sial." Umpat Mondy berkali-kali seraya masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Aira, gadis itu tampak mengerutkan keningnya heran tatkala melihat Mondy langsung beranjak dari tempatnya.


"Apa om Mondy jijik ya sama mulut aku." Gumam Aira bertanya-tanya.


Aira menggaruk kepalanya, ia jadi tidak enak pada Mondy karena sembarangan bertindak tadi.

__ADS_1


NENG AIRA, KAMU KEPOLOSAN 😌


Bersambung...........................


__ADS_2