Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Ngidam mami Lea


__ADS_3

Pagi yang cerah sudah menyapa pasangan suami istri yang baru saja melewati malam indah bersama. Sang pria terlihat sudah selesai mandi dan berpakaian, sementara si wanita masih duduk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh sampai ke leher.


Mondy membalik badan, menatap istri kecilnya yang terlihat kasih mengantuk, namun terpaksa harus ia bangunkan karena sudah lewat jam sarapan.


"Ai, bangun dan mandi ya. Kita sarapan diluar saja," ucap Mondy kepada istrinya.


Aira membuka matanya, ia menatap Mondy yang sudah rapi lalu menganggukkan kepalanya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Aira yang semalam Mondy nikmati habis-habisan.


Aira turun dari ranjang, ia menarik selimut agar tetap menggulung tubuhnya. Namun baru saja berdiri, Aira merasa sangat lemas, seakan kakinya tidak memiliki kekuatan untuk berdiri.


Melihat Aira yang kesulitan, tentu membuat Mondy sigap menggendong wanita itu.


"Om?" Tegur Aira dengan suara pelan.


"Maaf ya, Ai. Gara-gara saya kamu seperti ini," ucap Mondy seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Aira tidak membalas, ia hanya diam sambil melingkarkan tangannya di leher Mondy karena takut terjatuh. Mondy mengajak Aira ke dalam kamar mandi, dan ia turunkan tubuh istrinya itu di atas kloset duduk yang tertutup.


"Setelah selesai, panggil saya ya? Atau kamu mau mandi bareng?" tanya Mondy dengan tatapannya yang usil.


Aira tersenyum tipis. "Om masih mau?" tanya Aira.


Mondy tersentak, ia menatap istri kecilnya itu dengan tatapan tak menyangka. Jadi Aira menganggap ucapannya serius, padahal ia sedang bercanda.


"Jika om masih mau, lakukan saja. Aku tidak akan menolak," ucap Aira lagi.


Tidak terdengar keraguan dalam ucapan Aira. Wanita itu seakan pasrah jika Mondy kembali mau mengajaknya olahraga pagi.


"Ai, saya hanya bercanda." Ujar Mondy menjelaskan.


"Oh, yaudah. Aku pikir om masih mau," balas Aira dengan suara yang pelan.


"Om keluar ya." Pinta Aira dengan suara yang masih pelan.


Mondy mengangguk, ia pun segera keluar dari kamar sebelum benar-benar mengeksekusi istri kecilnya itu.

__ADS_1


Sampai diluar, Mondy mengusap-usap dadanya dengan gerakan pelan. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah hanya karena memikirkan kejadian semalam yang bisa saja terulang lagi pagi ini.


"Istri kecilku yang menggemaskan." Gumam Mondy dengan senyuman lebar.


Mondy melirik ke arah kasur, ia merasa bangga telah menjadi yang pertama bagi Aira. Mondy berdoa, semoga dirinya juga yang menjadi pria terakhir. Dengan kata lain, pernikahan mereka bertahan sampai maut memisahkan.


Mondy memilih untuk memeriksa sisa pekerjaan yang Tristan berikan sambil menunggu istrinya selesai mandi.


Saat Mondy masih memegang gawainya, tiba-tiba ponselnya mendapatkan panggilan dari Tristan.


"Iya, Tuan." Ucap Mondy memulai pembicaraan.


"Mon, tolong carikan kostum kelinci."


"Kelinci? Untuk apa, Tuan?" tanya Mondy tampak kebingungan.


"Bawakan saja, aku akan menjelaskannya nanti."


Mondy pun menutup panggilannya, ia tidak tahu mengapa atasannya itu meminta ia mencari kostum kelinci.


Sementara itu di rumah Tristan dan Alea, terlihat wanita hamil yang sedang duduk sambil menekuk wajahnya. Pagi ini ia marah dengan suaminya yang masih belum mewujudkan ngidamnya.


Tristan berusaha membujuk istrinya, namun Alea tetap marah dan tidak mau bicara.


"Sabar ya, Sayang. Aku udah telepon Mondy untuk beli kostum nya." Ucap Tristan dengan posisi berlutut di depan Alea.


"Mas lama, aku kan udah laper." Sahut Alea sewot dan sedikit manja.


Tristan dibuat pusing, ia tidak tahu kenapa ngidam Alea itu macam-macam dan selalu sedikit aneh.


Seperti pagi ini, Alea merengek ingin makan nasi goreng buatannya. Tapi dengan catatan Tristan harus memasak dengan menggunakan kostum kelinci.


Benar-benar aneh kan? Tapi Tristan tidak kuasa untuk menolak permintaan istri tersayangnya ini.


"Papi nggak sayang sama mami dan baby." Ucap Alea dengan wajah menekuk.

__ADS_1


"Eh, sayang dong. Aku sayang banget sama kalian, tapi sabar ya. Aku baru telepon Mondy barusan." Sahut Tristan dengan lembut dan penuh kesabaran.


"Maunya sekarang, kalo kamu nggak bisa kasih yaudah ganti aja ngidamnya." Kata Alea dengan suara yang begitu lembut.


Tristan tersenyum senang. "Boleh, kamu mau apa?" tanya Tristan dengan penuh semangat.


"Mau foto sama tetangga sebelah." Jawab Alea dengan wajah berbinar.


Tristan melotot. "Nggak! Enak aja." Sahut Tristan menolak.


Mana mungkin Tristan akan membiarkan Alea foto dengan tetangga sebelah rumahnya yang merupakan seorang pengacara tampan dan masih lajang.


Alea tertawa melihat wajah suaminya yang terlihat tidak suka. Ia juga hanya bercanda, mana mungkin Alea berani mengundang amarah Tristan.


"Bercanda." Ucap Alea lalu menjulurkan lidahnya meledek.


Tristan mengerem, ia menegakkan tubuhnya namun masih pada posisi yang berlutut. Pria itu lalu menangkup wajah cantik istrinya, dan memberikan kecupan di seluruh wajah Alea tanpa ada yang terlewat.


Alea hanya tertawa menerima perlakuan dari sang suami. Suaminya ini benar-benar menggemaskan jika marah. Alea sangat mencintai Tristan, dan ia bahagia hidup bersama suaminya.


Namun meski Alea merasa bahagia hidup dengan Tristan, tak dapat Alea tepis jika dalam hatinya ia ingin di sayang oleh mertuanya juga.


Sayangnya, sampai hari ini kedua orang tua Tristan belum mau menerima dirinya, bahkan Alea tidak tahu kapan ia bisa mendapatkan kasih sayang dari mertua seperti menantu di luar sana.


"Hei, kok melamun?" tanya Tristan menyadarkan Alea.


Alea tersenyum. "Lagi bayangin kamu masak pakai kostum kelinci, pasti imut." Jawab Alea.


Tristan terkekeh, ia menarik Alea ke dalam pelukannya dan ia dekap erat tubuh yang kini sedang mengandung buah hati mereka.


"Cinta banyak-banyak sama mami Lea." Ungkap Tristan dengan sungguh-sungguh.


BUMIL LUCUK BANGET NGIDAMNYA 😫


Bersambung.................................

__ADS_1


__ADS_2