
Firda baru saja selesai berpakaian, ia yang harus berangkat kerja sebentar lagi lantas terkejut ketika mendengar suara gemuruh di atas langit.
Panik karena semalam ia baru mencuci, Firda lantas keluar dari rumah untuk mengangkat cuciannya semalam.
Ketika diluar rumah, Firda makin terkejut ketika melihat seorang pria sedang duduk di kap mobilnya dengan tangan terlipat di dada.
Pria itu tampak tersenyum dengan begitu manis, lalu berjalan menghampiri Firda yang masih melongo.
"Selamat pagi, Fir." Sapa Fade dengan lembut.
Firda berdecak. "Mau apa kau pagi-pagi menghalangi jalan di rumahku?" tanya Firda ketus.
"Menjemput kamu lalu mengantar bekerja." Jawab Fade.
Senyuman tidak hilang dari wajah pria itu, membuat Firda mendengus berkali-kali.
"Aku bisa jalan sendiri, kakiku masih normal!" Timpal Firda menunjuk kedua kakinya.
Fade tertawa, ia selalu suka dengan jawaban Firda. Walaupun pedas, tapi menurutnya itu sangat lucu.
"Sudah sana siap-siap, aku akan tunggu kamu disini. Sebentar lagi juga hujan," tutur Fade tanpa melanjutkan topik pembicaraan mereka sebelumnya.
"Aku akan masuk jika kau benar-benar pergi." Timpal Firda seraya melipat tangannya di dada.
Fade manggut-manggut, ia menarik kursi yang ada di depan rumah Firda lalu duduk disana.
Firda pun tidak mau kalah, ia berdiri di sana sampai Fade benar-benar pergi dari rumahnya. Namun sudah hampir 15 menit berlalu, Fade masih tenang di posisinya.
"Menyebalkan!" gerutu Firda lalu masuk ke dalam rumahnya.
Fade terkekeh, ia akan setia menunggu Firda di sana. Fade sudah bertekad untuk mengejar Firda lagi, dan ia akan memulainya dengan hal-hal kecil seperti ini.
Sementara Firda, ia buru-buru sarapan dengan nasi goreng yang sudah ia buat. Firda baru saja duduk di kursi meja makan dan siap menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya, namun gerakannya terhenti.
Firda menghela nafas, entah kenapa ia memikirkan Fade yang dapat dipastikan belum sarapan.
Firda menggigit bibirnya, ia menggebrak meja makan dengan kesal lalu keluar dari rumah.
__ADS_1
Firda benci pada dirinya yang masih saja peduli pada Fade, pria yang sudah menyakitinya.
"Fad." Panggil Firda ketus.
"Iya, Sayang?" sahut Fade dengan manis.
Firda melotot tidak suka, namun hal itu malah membuat Fade gemas dan reflek mencubit kedua pipi gadisnya.
"Kenapa?" tanya Fade.
"Kau sudah sarapan?" tanya Firda, raut wajahnya terkesan cuek bahkan enggan menatap Fade.
Fade tersenyum tipis, mendengar pertanyaan dari Firda seketika membuatnya yakin bahwa gadisnya itu masih peduli padanya.
"Belum sempat, mungkin nanti." Jawab Fade seraya melirik jam di pergelangan tangannya.
"Kau bodoh? Kau ini punya penyakit maag, dan kau masih mau menyepelekan jam makan?" tanya Firda dengan ketus dan sedikit bicara kasar.
Fade hendak menjawab, namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Firda masuk ke dalam rumah.
Firda tidak mau jika ia sampai terseret gosip oleh tetangganya karena membawa pria tampan ke rumah.
Firda mendorong Fade agar duduk di kursi meja makan, ia juga mengambil nasi goreng dan telur mata sapi untuk diberikan pada Fade.
"Untukku?" tanya Fade menunjuk dirinya.
"Untuk tetanggamu." Jawab Firda ketus dan tanpa menatap Fade.
Fade tergelak, sementara Firda sudah mulai menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Diamlah, sejak kapan kau suka tertawa begitu lebar begini." Pungkas Firda dengan wajah yang malas.
Fade tidak menjawab, pria itu kini sedang menikmati sarapan yang sedang calon istrinya buat. Eh? Nggak apa-apa kan terlalu percaya diri.
"Enak sekali, kamu memang pintar memasak sejak dulu." Puji Fade dengan jujur.
"Dan kau pintar menyakiti hati orang." Balas Firda lagi-lagi tanpa menatap Fade.
__ADS_1
Fade menghela nafas, ia benar-benar gemas dan ingin sekali mencubit kedua pipi Firda, namun ia tidak berani melakukannya sekarang.
"Jika kita menikah, bukankah pagiku akan terasa nikmat." Celetuk Fade dengan bahasa yang kurang tepat di pendengaran Firda.
"Kau benar-benar sangat mesumm." Cibir Firda geleng-geleng kepala.
Kening Fade mengkerut, apa yang ia lakukan sampai-sampai Firda mengatainya begitu. Memang ia bicara apa barusan? Fade jadi bingung sendiri.
"Maksudmu, aku kan sedang membicarakan pagi hari, kenapa kamu jadi mencibir ku begitu." Tukas Fade kebingungan.
"Pagi yang nikmat, apa maksud kalimat itu jika bukan mesumm!" jelas Firda.
Fade tertawa gemas. "pagi nikmat itu maksudnya sarapan enak dan olahraga bersama di komplek, Sayang. Kamu mikir kemana?" tanya Fade gantian menggoda Firda.
Firda menatap Fade cengo, ia lalu berdehem demi menetralkan perasaan malu di seluruh tubuhnya.
Firda bahkan menundukkan kepalanya demi menutupi wajahnya. Entah mengapa ia malah berpikir yang tidak-tidak hanya karena sebuah kalimat.
"Kau tahu? Kau itu sangat-sangat–"
"Tampan." Tambah Fade memotong ucapan Firda.
"Menyebalkan, jelek dan sangat jahat!" jelas Firda.
"Benarkah aku jelek, bukankah dulu kamu selalu memuji wajahku yang tampan, bahkan kamu sering mencium pipiku." Ucap Fade mengarang cerita di akhir kalimatnya.
"Kapan aku mencium pipimu, aku tidak–" Ucapan Firda terhenti saat Fade menggeser wajahnya hingga bibir Firda mengenai pipinya.
"Barusan, barusan kamu mencium pipiku." Ujar Fade sambil tertawa.
"Fade brengsekk!!" umpat Firda seraya menggebrak meja makan.
"I love you to, Sayang." Balas Fade melenceng. Jelas saja ia bicara begitu, tidak mungkin ia balik mengumpat gadisnya.
OM FADE BAHAYAAA😫😫
Bersambung............................
__ADS_1