
Seperti yang Tristan katakan kemarin, hari ini mereka akan pergi jalan-jalan di pantai, sebelum malam nanti pergi ke love Anchor guna mencari barang-barang yang ingin dibeli oleh Alea.
Alea dan Tristan pergi dengan mengendarai mobil dari Seminyak ke pantai Kuta. Waktu yang ditempuh tidak lama, hanya sekitar 15 menit saja.
Karena hari ini adalah hari libur, baik Alea maupun Tristan memakai pakaian yang santai.
Alea dengan dress putih selutut yang tampak cocok di tubuhnya, sementara Tristan kemeja lengan pendek putih dengan celana selutut berwarna hitam.
Penampilan keduanya begitu serasi, bahkan diyakini jika banyak yang mengira bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sedang berbulan madu.
Kaki Alea yang beralaskan heels 3cm terpaksa harus ia buka demi bisa merasakan halusnya pasir pantai Kuta.
Baru merasakan kesejukan anginnya saja Alea sudah tersenyum. Ini adalah tempat yang paling ia impikan selama ini. Bisa jalan-jalan dan merasakan kelembutan pasir pantai di daerah yang seringkali didatangi turis mancanegara.
Senyuman yang tercetak di wajah cantik Alea tentu saja membuat Tristan enggan mengalihkan pandangannya. Sejak hari dimana ia menyiksa Alea, wanita itu jarang sekali tersenyum.
Tristan mendekati Alea, ia menggandeng tangan yang menenteng heels miliknya.
"Kamu senang?" tanya Tristan tanpa menatap Alea dan memilih menatap hamparan laut yang membentang luas.
Alea mengangguk dengan semangat. "Sangat, Pak. Terima kasih sudah mengajak saya kesini," jawab Alea dengan bahagia.
Tristan menoleh, melihat senyuman yang wanita itu miliki membuat Tristan ikut terus tersenyum.
Tristan mengambil anak rambut Alea yang berterbangan karena angin, lalu menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu.
"Kamu cantik jika tersenyum, Alea." Puji Tristan dengan penuh kasih sayang.
Di setiap kalimat yang Tristan ucapkan, bisa Alea rasakan ketulusan dan kelembutan dari pria itu, namun ia berusaha untuk menyangkalnya, mengingat tentang siksaan malam itu.
"Ayo kita kesana." Ajak Tristan dan Alea hanya mengangguk.
Alea dan Tristan berjalan menyusuri pantai, tanpa peduli jarak mobil mereka yang sudah semakin jauh.
Keduanya seakan larut dengan kesejukan pantai, dan juga kebersamaan mereka berdua. Bahkan Alea tidak menolak tatkala Tristan menggandeng tangannya.
"Alea." Panggil Tristan lembut.
Alea menoleh, ia menatap Tristan dengan mata cantik, dan wajahnya yang imut itu.
"Apa pernah sekali saja kamu …" Tristan menggantung ucapannya karena bimbang.
Alea menatap Tristan bingung saat ucapan dari atasannya itu terhenti.
__ADS_1
"Pernah apa, Pak?" Tanya Alea pelan.
Tristan menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa." Jawab Tristan lalu melanjutkan langkahnya.
Alea berjalan di pasir yang basah karena terkena air, sehingga saat ombaknya berjalan ke arahnya, maka kakinya akan basah.
"Ahh sangat menyejukkan." Gumam Alea senang.
Saking senangnya Alea sampai melompat-lompat, ia tidak sadar jika sejak tadi Tristan sedang memperhatikannya.
Alea tertawa sendiri, sambil bermain air meski ia tidak bisa berenang karena kondisinya yang sedang datang tamu bulanan.
"Pak Tristan." Alea melambaikan tangannya kepada Tristan.
"Tidak, aku tidak mau main basah-basahan kecuali sama kamu di dalam kamar." Tolak Tristan dengan ucapannya yang mesumm itu.
Alea melotot, ia melempar sepatunya asal, lalu mencipratkan airnya ke wajah Tristan tanpa ia sadari bahwa dirinya telah membuat kesalahan.
"Alea." Panggil Tristan penuh penekanan.
Alea mengaga tak percaya jika ia sudah terlalu banyak menyiramkan air ke tubuh Tristan, sampai-sampai kemeja putih itu menjadi basah.
"P-pak, saya minta maaf. Saya cuci kemeja anda nanti ya, tapi maafkan saya." Kata Alea bertubi-tubi.
"Pak, ini ditempat umum, apa anda tidak takut dihukum karena menyiksa seorang wanita." Kata Alea seraya terus mundur.
"Kenapa memangnya? Tidak ada yang tahu jika kita bukan pasangan menikah, aku bisa menyiksamu dengan kenikmatan di sini." Pungkas Tristan lagi dengan mulutnya yang kotor itu.
Alea semakin melotot, ia menunduk dan mengambil sedikit air di telapak tangannya lalu menyipratkan lagi air itu ke wajah Tristan.
"ALEA!!" teriak Tristan dengan nafas menggebu-gebu.
Alea menggigit bibirnya, ia yang tidak punya cara lain langsung saja memilih untuk berlari menjauhi Tristan yang sudah berapi-api.
"Alea, mau kemana kamu?!" teriak Tristan terus mengejar Alea yang berlari.
Alea tertawa, ia sesekali membalik badannya untuk sekedar melihat Tristan yang kini sedang berusaha untuk menangkapnya.
"Saya minta maaf tapi anda tidak mau, ya sudah saya lari saja." Kata Alea tidak kalah berteriak.
Tristan menarik nafas dalam-dalam, ia lalu mempercepat larinya sehingga membuat Alea semakin panik akan ditangkap oleh atasan sekaligus pria yang menjadikannya simpanan.
"Akhhh." Alea yang masih berusaha untuk lari dari Tristan tiba-tiba terjatuh ketika merasakan sesuatu menusuk kakinya.
__ADS_1
Tristan yang melihat Alea terjatuh malah tertawa dengan puasnya, bahkan tangannya sampai memegangi perutnya.
"Hahaha, kualat kamu Azzalea!" cetus Tristan masih terus tertawa.
Tawa yang Tristan tunjukkan pada Alea sekarang ini sebelumnya tidak pernah dilihat oleh orang lain, termasuk kedua orang tuanya. Alea yang pertama, wanita itu yang pertama kali membuat Tristan bisa tertawa dengan lepasnya.
Alea berusaha untuk bangkit sambil meringis, namun baru saja hendak berdiri ia sudah hampir terjatuh lagi jika Tristan tidak sigap menahan tubuhnya.
Tristan menghentikan tawanya, ia menatap wajah Alea yang kesakitan.
"Alea, apa sesakit itu?" tanya Tristan dengan khawatir.
"Kaki saya sakit, Pak. Sepertinya saya menginjak sesuatu," jawab Alea sambil menahan sakit.
Tristan mendudukkan Alea di batang pohon yang tumbang, ia lalu berlutut di depan wanita simpanannya itu.
"Coba aku lihat." Tristan melihat telapak kaki Alea yang berdarah, namun tidak terlalu banyak.
"Astaga, kamu menginjak apa ini, Alea!" kejut Tristan.
"Saya tidak tahu, tapi sakit sekali." Balas Alea tanpa sadar mencengkram bahu Tristan kuat.
Tristan bangkit, ia membersihkan pasir pantai yang menempel di kedua telapak tangannya.
"Kita kembali ke hotel, kakimu harus diobati." Ucap Tristan lembut.
"Tapi saya tidak bisa jalan, Pak. Kaki saya sakit sekali," cetus Alea sambil memegangi pergelangan kakinya yang ikut cenat-cenut.
"Siapa yang menyuruhmu jalan." Sahut Tristan kemudian kembali berlutut di depan Alea.
"Anda sedang apa?" tanya Alea heran.
"Naik, aku gendong kamu." Jawab Tristan menepuk bahunya sendiri.
Alea ragu, namun saat ini kakinya benar-benar sakit. Jangankan untuk berjalan, berdiri saja rasanya sakit.
"Saya naik, nggak apa-apa Pak?" Tanya Alea ragu-ragu.
"Cepat, bukannya sudah biasa kamu diatas saja." Jawab Tristan kembali dengan pikiran dan mulut kotornya.
"Dasar T-rex mesumm."
KAYANYA KOK SERU YAAA🤣
__ADS_1
Bersambung...........................