
Firda meletakkan nampan berisi sarapan yang ia buat di atas meja nakas. Gadis itu lalu duduk dipinggir ranjang, tepat di sebelah Fade.
"Selamat pagi, Fad. Aku sudah buatkan kamu sarapan, jadi kita sarapan dulu ya." Tutur Firda dengan lembut.
"Aku tidak mau, panggil mamakku." Tolak Fade dengan wajah datarnya.
Firda menghela nafas. "Papa dan mama sudah pulang, sekarang hanya ada aku dan …" ucapan Firda terhenti.
Seseorang mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam kamar yang memang pintunya tidak ditutup.
"Dan aku." Ucap Zian menyahut.
Kening Fade mengkerut. "Zian?" tanya Fade memastikan.
Zian mendekat, ia menganggukkan kepalanya lalu ikut duduk di pinggir ranjang, namun berbeda sisi dengan Firda.
"Aku datang kesini setelah mendengar kabar kecelakaanmu, bagaimana keadaanmu?" tanya Zian sambil menepuk-nepuk punggung tangan Fade.
"Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa berjalan normal." Jawab Fade diakhiri helaan nafas.
Fade lalu melirik Firda yang hanya diam saja. "Dan ingatanku hilang, aku bahkan tidak yakin pernah menikahi wanita murahan sepertinya." Tambah Fade dengan nada yang kurang bersahabat.
Zian terkejut mendengar ucapan sepupunya itu, ia lalu beralih menatap Firda yang tampak berusaha tegas. Namun gadis itu tidak bisa menyembunyikan air matanya.
"Ahh tenanglah, aku yakin ingatanmu akan segera kembali." Ucap Zian mengalihkan pembicaraan.
Sementara Firda, ia berusaha untuk menahan air matanya. Ia selalu merasa sakit setiap kali mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Fade.
"Fad, sarapan dulu setelah itu kita minum obat ya." Tutur Firda dengan lembut.
Zian masih menatap Firda. Demi Tuhan, ia kagum sekali pada Firda. Gadis itu tetap tegar dan tersenyum setelah penghinaan yang Fade lontarkan barusan.
Firda mengambil sesendok nasi, ia lalu menyodorkan nya ke depan mulut Fade.
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri. Lebih baik kau pergi dari sini, aku muak melihat wajahmu." Tolak Fade dengan ketus.
Fade lekas merebut sendok dan nampan berisi sarapan itu.
"Sebentar, biar aku membantumu." Ucap Firda lalu membantu Fade duduk.
Kali ini Fade tidak menolak, ia bahkan sesaat terdiam ketika tubuhnya dan tubuh Firda berdekatan.
__ADS_1
Secercah bayangan melintas di ingatan Fade, pria itu langsung meringis kala merasa sakit di kepalanya.
"Fad, kamu kenapa?" tanya Firda khawatir.
"Arghhh, kepalaku sakit!!" jawab Fade berteriak.
Zian bangkit dari duduknya, pria itu berlari keluar kamar Fade untuk menghubungi dokter.
"Fade, tenanglah." Tutur Firda menepuk-nepuk pipi Fade.
Makanan yang tadi ada di pangkuan Fade tumpah setengah, sehingga baju pria itu menjadi basah.
Firda mengusap pipi Fade, ia menatap lamat-lamat mata pria itu, dan Fade membalas tatapan gadis itu.
"Tenang oke, pak Zian sedang menghubungi dokter. Kamu ganti baju dulu ya, aku akan membantumu." Ucap Firda pelan.
Fade seperti terhipnotis oleh Firda, bahkan bayangan saat mereka pacaran di masa kuliah melintas begitu saja. Fade masih ingat bagaimana hubungannya dan Firda yang romantis, namun hancur dalam satu malam.
Firda tersenyum tulus, ia pun menjauhkan diri dari Fade lalu mengambil baju pria itu di dalam lemari pakaian.
"Maaf ya." Ucap Firda lalu membuka kaos yang Fade kenakan.
"Aku suamimu, apa kau harus begitu sementara dulu kau sudah biasa melihat tubuh seorang pria." Kata Fade pelan.
Firda membuka matanya, ia tidak menyahuti kata-kata Fade dan langsung membantu pria itu untuk mengenakan kaosnya.
"Kenapa, Fir. Kenapa kau harus menjadi wanita simpanan?" tanya Fade lagi saat Firda hendak beranjak.
Firda menatap Fade, ia mengangkat nampan berisi makanan yang sudah tumpah itu lalu membawanya keluar.
Firda pergi tanpa bicara apapun pada Fade.
Firda turun ke dapur, ia meletakkan nampan itu di wastafel lalu meminta pada pelayan di sana untuk membawakan makanan baru untuk Fade.
Firda tidak ke kamar Fade lagi, lagipula pria itu enggan untuk disuapi olehnya kan.
Firda duduk di meja makan, ia menundukkan kepalanya lalu menangis. Bahunya gemetar karena tangisannya, bahkan tangannya terkepal kuat untuk menahan rasa di dadanya.
Saat kepalanya masih menunduk, tiba-tiba saja ada yang menyodorkan sapu tangan kepada Firda.
Firda menoleh. "Terima kasih." Ucap Firda menerima sapu tangan itu.
__ADS_1
Firda menyeka air matanya dengan sapu tangan yang Zian berikan. Ia sejujurnya malu karena ada orang lain yang melihatnya menangis begini.
Zian menarik kursi di sebelah Firda, ia juga menuangkan segelas air mineral untuk Firda.
"Pasti berat sekali kan?" tanya Zian seraya menyodorkan air minumnya.
"Hmm?" tanya Firda mengangkat sebelah alisnya.
"Kau, pasti berat sekali menjadi dirimu yang sekarang. Kau pasti tidak tahu harus bagaimana, karena di sisi lain kau dituduh sebagai pelaku." Ucap Zian.
"Aku tidak tahu kau pelaku atau bukan, tapi aku juga tidak akan bertanya. Beban mu sudah cukup banyak, aku tidak akan menambahnya lagi." Tambah Zian begitu pengertian.
Firda tersenyum tipis." Terima kasih." Balas Firda singkat.
Zian bangkit dari duduknya. "Menangis lah jika itu bisa membuatmu lebih tenang, aku akan pergi agar kau leluasa untuk menangis." Kata Zian.
Firda terkekeh pelan, ia manggut-manggut mendengar ucapan Zian.
"Aku akan menjaga Fade, sekalian menunggu dokter." Kata Zian pamit, lalu pergi meninggalkan dapur.
Firda menghela nafas, ia memejamkan matanya sebentar lalu menghabiskan sisa minum yang tadi Zian berikan.
Sementara itu di kamar Fade, Zian sudah ada disana untuk menemani sepupunya itu.
"Fad, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Zian.
"Katakan saja." Jawab Fade.
"Firda, bagaimana bisa kau menyebutnya seperti tadi?" tanya Zian ragu.
"Dia memang wanita murahan, dia merupakan wanita panggilan." Jawab Fade dengan sedikit kesal.
Zian terdiam, entah mengapa ia tidak percaya jika gadis sebaik Firda adalah wanita panggilan. Zian ingin bertanya banyak, namun ia takut membuat kondisi Fade memburuk.
"Kenapa kau bertanya?" Tanya Fade tampak curiga.
"Tidak, hanya bertanya saja." Jawab Zian.
Fade tidak lagi menanggapi ucapan Zian, ia memilih untuk menatap televisi di kamarnya, sambil sesekali memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
Bersambung........................
__ADS_1