Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Orang lupa sering tersesat


__ADS_3

Firda sudah bersiap-siap untuk izin setengah hari saja, ia akan pergi ke apartemen adiknya setelah Alea menelpon dan meminta dirinya untuk datang.


Ia pun pamit kepada teman-temannya, dan pergi dengan naik ojek online. Sebelumnya Alea tentu saja sudah mengirimkan lokasinya.


"Sesuai kan, neng?" tanya anak ojol itu.


Firda memakai helm nya. "Iya, Pak. Sesuai," jawab Firda manggut-manggut.


Firda pun akhirnya pergi dengan diantar ojol menuju apartemen adiknya, entah ada apa sampai-sampai Alea memintanya datang dengan cepat.


Alea juga mengatakan ada berita bagus hari ini sehingga Firda di wajibkan untuk datang. Firda tentu saja belum tahu berita apa yang adiknya miliki.


Sementara Firda pergi, Fade justru datang ke tempat kerja gadis itu. Ia ingin bicara dengan Firda sebentar dan meminta maaf pada gadis itu.


Fade sebenarnya sangat malu, namun ia juga tidak bisa terus diam. Fade harus mengakui kesalahannya pada Firda.


"Permisi, Mbak." Fade melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan restoran yang ada di sana.


"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu sopan.


"Firda kemana ya? Boleh panggil dia sebentar, soalnya ada hal penting yang ingin saya bicarakan." Pinta Fade tidak kalah sopan.


"Oh kak Firda? Baru aja pergi, tadi izin cuti setengah hari katanya." Ucap pelayan wanita itu menjelaskan.


"Cuti?" Beo Fade dengan kening mengerut.


"Iya, Mas. Katanya mau ke rumah adiknya," jawab pelayan itu lagi.


Fade manggut-manggut, ia pun memutuskan untuk pergi dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang tadi bicara padanya.


Fade masuk ke dalam mobilnya, ia tampak bingung mendengar Firda cuti ke rumah adiknya. Dulu, ketika mereka masih berhubungan, ia memang tahu jika Firda punya adik, tapi ia belum pernah melihatnya.


"Rumah adiknya, rumah adiknya itu berarti sama dengan rumahnya kan?" gumam Fade bertanya-tanya sendiri.


Fade pun memutuskan untuk pergi ke rumah Firda, semoga ia masih ingat jalannya karena sudah bertahun-tahun lalu sejak ia terakhir kali datang ke sana.


Butuh waktu 20 menit untuk Fade sampai di rumah Firda, itupun harus sedikit nyasar. Saat dirinya sampai disana, ia mengetuk pintu namun tidak ada yang membukakan pintunya.


"Mas, orangnya lagi kerja. Biasanya pulang sore," ucap salah satu tetangga Firda.


"Oh gitu, kalo adiknya kemana ya?" tanya Fade lagi.


"Oh Alea? Alea kan kerja, pulangnya seminggu sekali." Jawab ibu-ibu itu.


"Alea?" gumam Fade pelan, ia tampak tidak asing dengan nama itu.


"Oh begitu, yaudah Bu. Makasih ya, saya permisi." Fade pun pergi meninggalkan rumah Firda bersama kebingungan yang dirasakannya.


Fade menghela nafas, ia hari ini kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Firda. Fade tentu saja tidak akan menyerah, ia akan berusaha besok dan seterusnya untuk bisa bertemu dan bicara dengan gadis itu.


Sementara Firda, gadis itu baru saja sampai di alamat yang Alea kirimkan, ia sedikit bingung melihat kawasan apartemen mewah itu.


Alea tinggal disana, tentu saja. Suami Alea merupakan seorang pengusaha, pasti sangatlah murah membeli salah satu unit disana.


"Kakak!!" Firda menoleh ke asal suara ketika mendengar ada yang memanggilnya.


Firda tersenyum, ia pun bergegas menghampiri Alea yang sengaja menunggunya di lobby apartemen.

__ADS_1


"Ada apa sih, kamu sampai minta aku cuti setengah hari." Ucap Firda pada adiknya.


Alea menggandeng tangan sang kakak, ia tidak menjawab dan hanya tersenyum melihat wajah penuh tanya kakaknya.


Firda mendengus. "Ditanya malah senyum-senyum, dasar." Cibir Firda geleng-geleng kepala.


"Nanti, Kak. Aku akan memberitahumu setelah kita sampai," jelas Alea terkekeh.


Mereka sampai di lantai tujuan, Alea lalu menarik tangan kakaknya ke salah satu unit yang tentu saja itu adalah tempat tinggalnya bersama Tristan.


"Selamat datang." Sambut Alea penuh senyuman.


Firda benar-benar tercengang dengan isi tempat tinggal adiknya. Apartemen itu terlihat minimalis, namun sangat mewah.


"Sini duduk, aku akan buat minum dulu." Tutur Alea ke arah sofa yang ada disana.


"Mau aku bantu buat minumnya?" tawar Firda, namun ditolak oleh Alea.


Alea pun pergi meninggalkan Firda sendiri untuk membuat minum, sementara Firda kini sedang melihat-lihat.


Firda melihat sebuah foto yang terpampang besar di ruang tamu itu. Dalam foto tersebut, terlihat Tristan dan Alea sedang tersenyum lebar di pinggir pantai.


Firda ikut tersenyum, meskipun adiknya dianggap salah oleh masyarakat luar, Firda akan tetap membela adiknya, apalagi jika Alea merasa bahagia dengan pernikahannya.


Ditambah lagi dengan perceraian Tristan dan Linda, hal itu sudah membuktikan padanya bahwa Tristan bukan hanya ingin mempermainkan adiknya saja.


"Aku senang jika kamu bahagia dengan pernikahan kamu, Lea." Gumam Firda dengan penuh senyuman.


Tidak lama kemudian Alea pun datang dengan dua gelas minuman. Ia juga membawa beberapa potongan kue dengan aneka rasa lalu meletakkannya di atas meja.


Firda duduk di sebelah Alea, ia mengambil minuman yang Alea buat lalu menenggaknya hingga setengah gelas.


Firda tentu tidak perlu jaim, toh dengan adiknya ini. Mungkin jika dengan orang lain, ia akan sedikit menjaga image.


"Jadi ada apa?" tanya Firda setelah selesai minum.


"Cicipi kuenya, aku sambil cerita." Tutur Alea dan Firda hanya bisa menurut.


Firda pun menikmati kue yang sudah adiknya siapkan, ia siap untuk mendengarkan adiknya cerita.


"Aku hamil, Kak." Ucap Alea tiba-tiba.


Firda terbatuk-batuk, ia meletakkan kue yang ia makan di meja lalu minum air putih yang juga Alea siapkan.


"Kamu hamil?" beo Firda seraya mengelap mulutnya.


"Iya, Kak. Aku lagi hamil, nanti kakak jadi Tante." Jawab Alea seraya mengusap perutnya.


Firda memeluk adiknya, ia sangat bahagia mendengar kabar kehamilan adiknya.


"Selamat, Lea. Ya ampun, kakak nggak nyangka kamu udah mau jadi ibu," ucap Firda dengan mata berkaca-kaca.


Alea tersenyum. "Makasih banyak, Kak." Balas Alea.


"Oh iya, hari ini suami aku lembur. Kakak mau kan temani aku sampai mas Tristan pulang?" tanya Alea menaik turunkan alisnya.


Firda menghela nafas, ia tentu saja mengangguk. Alea tidak hamil saja ia akan temani, apalagi sekarang.

__ADS_1


"Iya, lagipula mana mungkin aku meninggalkan ibu hamil ini sendirian." Jawab Firda pasrah.


Alea tersenyum lebar mendengar kesedian kakaknya untuk menemani dirinya sampai sang suami pulang.


Tristan tidak akan sampai pulang larut, mungkin jam 9 atau 10 sudah kembali.


***


Dugaan Alea salah, nyatanya suaminya itu baru pulang pada pukul 11 malam. Dan ketika Tristan sampai di apartemennya, Alea tampak sudah tertidur namun terpaksa bangun untuk menyambut Tristan.


"Kenapa bangun hmm, lagi pulas kan tadi." Ucap Tristan seraya merapikan rambut istrinya.


"Nggak apa-apa, mau bangun aja." Jelas Alea tersenyum lebar sambil mengucek matanya.


Firda yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa menghela nafas. Sudah dia kali ia melihat keromantisan adiknya bersama suaminya ini, ia hanya bisa sabar menanti jodoh.


"Lea, karena suami kamu sudah pulang, aku pulang ya?" ucap Firda seraya mengambil tas selempang miliknya.


"Tapi ini sudah malam, Kak. Menginap saja disini," kata Alea menyarankan.


"Nggak bisa, aku besok masuk pagi." Jelas Firda tersenyum lembut.


Tristan menatap Mondy. "Mondy, antar kakaknya Alea pulang ya." Ucap Tristan kepada asistennya yang untung masih ada disana.


"Eh tidak usah, aku bisa pulang sendiri." Tolak Firda menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, Kak. Biar diantar pak Mondy aja, nggak baik pulang naik angkutan umum malam-malam gini." Tutur Alea seraya memegang tangan kakaknya.


"Tidak perlu takut, Kakak ipar. Asisten saya tidak akan berbuat jahat, dia tidak menyukai perempuan." Tambah Tristan.


Mondy melototkan matanya. "Pak, apa yang anda katakan." Protes Mondy.


"Sudahlah, antar sana." Timpal Tristan sedikit terkekeh.


Akhirnya setelah dipaksa, Firda pun pulang dengan diantar oleh Mondy. Memang bahaya juga jika pulang malam-malam begini naik angkutan umum sendirian.


"Dimana rumah anda?" tanya Mondy saat keduanya sudah ada di jalan.


"Saya rasa anda masih ingat saat menjemput Alea beberapa hari lalu." Jawab Firda tanpa menatap pria itu.


Mondy menghela nafas, ia akhirnya tidak bicara lagi karena pertanyaannya malah dijawab begitu.


Mondy sendiri lupa beberapa hari lalu menjemput istri atasannya itu di rumah yang sama dengan gadis di sebelahnya ini.


"Namanya orang lupa mana ingat, malu bertanya sesat dijalan." Kata Mondy pelan, namun masih bisa didengar oleh Firda.


"Karena itulah hanya orang lupa yang suka tersesat." Sahut Firda.


Mondy menoleh sebentar, kenapa ia tidak paham dengan ucapan Firda barusan. Tidak mau ambil pusing, Mondy pun memilih untuk diam.


Mereka pun akhirnya sampai di rumah Firda, gadis itu keluar dan tidak lupa sudah berterima kasih sebelumnya.


Mondy sendiri langsung pulang setelah mengantar kakak ipar atasannya itu hingga selamat.


JANGAN LUPA KOMEN YG BANYAK BIAR AKU RAJIN UP🤗


Bersambung................................

__ADS_1


__ADS_2