
Alea dilarikan ke rumah sakit usai mengalami pendarahan. Dokter mengatakan bahwa Alea tidak boleh banyak pikiran apalagi sampai tertekan. Riwayat keguguran membuat kandungan Alea menjadi lemah.
Ya, Alea saat ini sedang mengandung. Usia kandungannya baru memasuki minggu ke-empat atau kurang lebih satu bulan.
Tristan begitu bahagia mengetahui bahwa istrinya benar-benar hamil kembali, namun di sisi lain ia merasa sangat bersalah karena nyaris membahayakan calon anak mereka lagi.
Kini Tristan sudah berada di dalam kamar periksa Alea, menggenggam tangan istrinya dengan penuh senyuman dan suka cita.
"Sayang, kamu hamil lagi dan aku sangat bahagia." Ungkap Tristan.
Alea mengangguk pelan, ia juga sangat bahagia mengetahui bahwa dirinya kembali hamil. Alea janji akan menjaga kandungannya dengan baik.
"Iya, Mas. Aku juga bahagia, aku akan menjaga anak kita dengan baik." Balas Alea pelan.
Tristan bangkit dari duduknya, ia mencium puncak kepala sang istri dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Maafin aku ya, sekali lagi aku hampir buat anak kita dalam bahaya." Bisik Tristan penuh rasa sesal.
Alea mengusap rahang tegas suaminya dengan penuh kelembutan, ia hanya tersenyum tanpa mau membalas kata-kata Tristan barusan.
Suaminya tidak salah sama sekali, mereka berdua sama-sama tidak tahu bahwa saat ini dirinya sedang mengandung.
"Kamu nggak salah, Mas. Jangan minta maaf, sekarang tugas kita adalah menjaga baby dengan baik dan penuh kasih sayang." Tutur Alea sambil mengusap-usap perutnya dengan tangan Tristan.
Tristan dan Alea sama-sama melempar senyuman bahagia, mereka akan berjanji untuk menjaga anak mereka ini sampai lahir ke dunia dan membesarkan nya dengan sepenuh hati.
Ketika sedang asik merasakan kebahagiaan, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Tampak seorang pria dan seorang gadis masuk dengan tergesa-gesa.
"Nona Alea." Panggil Aira buru-buru mendekati Alea.
Alea menoleh, ia senang melihat Aira datang. Gadis itu datang pasti tahu dari Mondy tentang kondisinya saat ini.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Saya berlari dari apartemen eh maksudnya naik mobil. Saya buru-buru mau kesini untuk menemui Nona." Ucap Aira panjang lebar.
Aira terkekeh, ia cukup terhibur dengan kedatangan Aira dan melupakan kejadian yang terjadi di rumahnya pagi tadi.
Sementara Mondy, pria itu tanpa sadar tersenyum kecil mendengar ocehan bawel dari mulut Aira. Gadis itu benar-benar banyak bicara, dan setiap ucapannya mengandung lelucon bagi Mondy.
Mondy yang sedang tersenyum langsung tersadar tatkala mendengar Tristan bicara padanya.
"Mon, kirimkan saja semua pekerjaan ya. Aku tidak bisa meninggalkan Alea sendiri disini, dokter bilang dia harus dirawat sampai besok." Kata Tristan.
Mondy mengangguk sopan. "Saya sudah melakukannya, Pak. Lagipula jadwal Anda hari ini kosong, tapi lusa kita harus ke Bali." Jelas Mondy menyahut.
__ADS_1
Tristan manggut-manggut, ia akan bekerja dari jauh karena tidak mau meninggalkan Alea sendirian.
"Nona, nanti saya temani Nona disini ya." Ucap Aira dengan penuh senyuman.
"Nggak bisa, kamu nggak dengar tadi tuan bicara." Mondy menyahuti ucapan Aira dengan cepat.
Aira langsung kikuk, sementara Alea dan Tristan saling pandang sebentar. Baru kali ini mereka mendengar Mondy sampai segitu cepatnya menyahut.
Tristan memilih untuk tidak ikut campur selama asistennya itu tidak berbuat salah padanya. Mungkin Aira dan Mondy memang punya urusan.
"Sayang, aku mau rujak." Pinta Alea tiba-tiba.
Tristan menoleh. "Iya, Sayang. Aku belikan ya, kamu disini sama Aira. Sekalian aku akan ke rumah mama," balas Tristan mengangguk.
Tristan akan menuruti ngidam pertama istrinya di kehamilan kedua ini. Selain membeli rujak, Tristan juga akan pergi ke rumah orang tuanya.
Alea panik, ia memegang tangan Tristan seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Tenang, Sayang. Aku janji akan cepat kembali," tutur Tristan sambil mencium kening dan kedua pipi Alea.
Aira langsung mengalihkan pandangannya, dan tepat sekali matanya itu bertabrakan dengan sorot tajam Mondy.
Aira tersenyum, sementara Mondy malah memutar bola matanya jengah dengan ekspresi wajah aneh.
Mondy dan Tristan pun akhirnya pergi, meninggalkan Alea bersama Aira sementara. Sejujurnya Alea bisa saja menghubungi kakaknya, tapi ia tidak mau membuat Firda semakin repot.
"Ai, aku boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Alea ragu-ragu.
Aira mengangguk cepat. "Boleh, ada apa Nona?" Tanya Aira sopan.
"Kamu sama pak Mondy itu punya masalah apa?" tanya Alea.
"Kalo kamu nggak mau jawab nggak apa-apa, Ai. Aku nggak akan maksa kok," tambah Alea.
Aira tersenyum. "Jadi gini, Nona. Dulu tuh saya nggak sengaja jatuhin om Mondy sampai tulang punggungnya retak katanya, saya pusing banget soalnya dia minta tanggung jawab." Jelas Aira dengan polos. Wajahnya menekuk diakhir kata.
"Saya nggak mau di laporin ke polisi, makanya tetap disini sampai om Mondy sembuh." Tambah Aira.
Alea menahan tawa, bisa-bisanya ada yang lebih polos dari dia. Ia saja yang mudah dikelabui oleh Tristan rasanya sudah polos sekali, tapi ada yang lebih polos.
Alea manggut-manggut, ia tidak akan memberitahu apapun kepada Aira. Mungkin saja Mondy punya suatu rencana pada gadis itu, contoh nya rencana menikah.
"Sabar ya, Ai. Kalo tulang retak itu lama biasanya bisa sembuh, kamu harus kuat-kuat disini." Tutur Alea berpura-pura prihatin, padahal ia ingin sekali tertawa melihat kepolosan Aira.
__ADS_1
Alea yakin jika dirinya cerita pada Tristan, maka suaminya itu akan tertawa terbahak-bahak.
***
Tristan sampai di rumah orang tuanya, ia datang dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu. Ada emosi, namun berusaha untuk ia redam.
"Tristan, kamu kesini?" Tanya mama Saras yang baru saja menuruni anak tangga.
Tidak lama kemudian papa Jaya datang juga, ia tampak masih marah kepada putranya yang lebih membela wanita lain daripada orang tuanya sendiri.
"Mau apa kamu kesini?" tanya papa Jaya.
"Papa dan mama tahu, kalian hampir menghilangkan nyawa calon anakku!" jawab Tristan dengan nada tinggi.
"Tristan, terus saja kamu kurang ajar. Kamu mau jadi anak durhaka hah!" bentak mama Saras.
"Aku tidak akan begini jika kalian bisa menghormati Alea seperti Alea menghormati kalian." Balas Tristan tegas.
Tristan melangkah mendekati kedua orang tuanya yang masih menatapnya dengan penuh amarah.
"Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi kalian memaksaku untuk melakukannya." Ucap Tristan pelan.
"Jangan pernah menganggapku sebagai putra kalian jika kalian tidak bisa menerima kehadiran Alea, dan mengakuinya sebagai menantu keluarga ini." Tambah Tristan dengan penuh penekanan.
"TRISTAN!!" tegur papa Jaya semakin tinggi nada bicaranya.
"Kamu sadar dengan ucapanmu barusan?" tanya papa Jaya.
"Aku sangat sadar, Pa. Demi keselamatan dan kenyamanan Alea, aku melakukan ini semua. Aku tidak mau dia sampai stress dan berakibat pada kandungannya." Jawab Tristan dengan yakin.
"Tristan, mama nggak nyangka kamu begini. Hanya karena kamu mencintai wanita itu, kamu sampai rela memutus tali persaudaraan?" tanya mama Saras dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Lalu mama bagaimana, hanya karena Alea tidak punya orang tua, kalian menilainya sebagai perempuan tidak baik. Dia perempuan baik-baik, Ma. Dia tidak seperti pemikiran kalian!" Sahut Tristan dengan mata berkaca-kaca.
Tristan mengepalkan tangannya, ia hendak pergi namun kembali menatap kedua orang tuanya yang tampak benar-benar kecewa.
"Jika papa mau mengusirku dari perusahaan maka silahkan saja, karena aku tidak akan datang ke kantor mulai besok." Kata Tristan pelan lalu segera pergi.
"Tristan … Nak!!" panggil mama Saras, namun tidak dihiraukan oleh Tristan.
TRISTAN PASTI PUNYA ALASAN PASTI MELAKUKAN ITU :'(
Bersambung...............................
__ADS_1