Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Hanya 200 juta?


__ADS_3

Lanjut part yang sebelumnya ya …


"AIRA!!!"


Aira buru-buru melepaskan pelukan Mondy, ia menatap ke asal suara dimana ada bapaknya yang berdiri dengan ekspresi wajah marah.


Tidak lama kemudian Ayu dan ibu datang dengan membawa segelas teh untuk Mondy. Mereka berdua terkejut melihat bapak tampak marah.


"Pak, ada apa ini? Ada tamu kok malah marah-marah?" tanya ibunya Aira lembut.


Bapak tidak menjawab, ia malah mendekati Aira lalu menampar wajah gadis itu sampai Aira terjerembab ke lantai.


"PAK!!" Ibunya Aira tampak histeris.


Bukan karena ia khawatir pada Aira, melainkan ia malu pada Mondy yang sudah ia tandai sebagai calon suami Ayu.


"Apa yang anda lakukan?" Mondy ikut membuka suaranya, ia lalu menolong Aira untuk bangun.


"Kamu nggak apa-apa, Ai?" tanya Mondy lembut.


Aira menganggukkan kepalanya, ia bangkit dengan dibantu oleh Mondy yang setia memegangi bahunya.


Ayu mendekat, ia mendorong Aira menjauh dari Mondy.


"Kamu apa-apaan sih, Ai. Ingat, besok nikah! Jangan genit sama cowok lain." Bentak Ayu tanpa sadar.


"Dan anda. Anda siapa? Berani sekali anda memeluk putri saya?" tanya bapak Aira dengan nada tinggi.


Mondy berdehem pelan, ia hendak menjawab pertanyaan dari laki-laki paruh baya di depannya, namun Ayu duluan bicara.


"Bapak! Jangan bentak-bentak dia, yang salah Aira. Aku yakin dia yang genit, nggak sadar diri." Ucap Ayu tidak kalah membentak.


"Mbak, aku …" Aira yang hendak bicara lagi-lagi dibuat terdiam oleh tatapan ibunya.


Melihat itu sontak membuat Aira langsung menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap ibunya yang pasti akan menyiksanya jika membatah.


Mondy menyadari itu, ia jadi teringat ucapan penjaga warung ia ia temui tadi. Keluarga Aira memang jahat.


"Kang, ayo duduk." Tutur Ayu melembutkan suaranya.


"Jawab dulu pertanyaan bapak, Ayu. Dia siapa?" tanya bapak Aira.


Mondy menghela nafas, ia mengantongi kedua tangannya di celana bahan yang ia kenakan.


"Saya Mondy, asisten pribadi majikannya Aira." Ucap Mondy memperkenalkan diri.


Mondy memperkenalkan diri sebagai asisten dari Alea, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Masa iya dia harus bilang calon suami.


"Lalu untuk apa anda kesini?" tanya ibunya Aira.


"Saya ingin menjemput Aira, majikan saya sedang ngidam untuk bertemu dengannya." Jawab Mondy jujur.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu dulu pembantu, Ai? Atau kamu jual diri dulu?" pertanyaan itu mengucur enteng dari mulut Ayu.


Aira menggeleng. "Mbak, bagaimana mungkin mbak bicara begitu!" Sahut Aira tidak terima.


"Kamu nggak terima? Kamu memang murahan, Ai. Makanya ibu sama bapak menjodohkan kamu sama kakek-kakek." Ketus Ayu dengan tangan terlipat di dada.


"MBAK!!" Aira berteriak kencang bahkan sampai membuat semua orang terkejut.


"Sudah cukup, Mbak. Cukup sampai disini mbak hina aku! Aku menikah dengan kakek-kakek tua itu gara-gara mbak dan ibu sama bapak. Kalian yang berhutang, tapi aku yang tanggung jawab!" tambah Aira dengan nada masih tinggi.


"Apa aku marah? Apa aku menolak? Tidak! Aku mengikuti kemauan kalian." Aira kembali berteriak.


"Bagus kamu, Ai. Mentang-mentang ada yang membela, kamu jadi melawan begini?" tanya ibu Aira dengan tatapan tajam.


Aira menangis, ia menundukkan kepalanya dengan bahu yang bergetar karena tangisan.


"Dasar tukang sandiwara, pandai sekali kamu bermain peran." Sindir Ayu.


"Masuk kamar kamu, Ai. Bapak nggak izinin kamu pergi kemanapun!" ucap bapak Aira.


Ucapan bapak Aira itu sekaligus penolakan terhadap Mondy yang ingin membawa Aira demi memenuhi ngidam majikannya.


Aira menyeka air matanya, ia lalu menatap Mondy dengan kedua tangan yang menyatu.


"Maafin aku, Om. Om pergi aja, aku nggak bisa ikut." Ucap Aira dengan air mata yang masih saja keluar padahal sudah ia seka.


Mondy memperhatikan wajah Aira yang penuh air mata, dadanya ikut merasakan sakit apalagi ketika pipi kanan gadis itu merah setelah di tampar tadi.


"Maafin aku, Om." Ucap Aira lalu melangkah untuk pergi.


"Jangan, Ai. Tetaplah disini," pinta Mondy pelan.


"Lepaskan tangan anak saya, atau anda mau calon suaminya datang dan langsung menghajar anda?" tanya bapak Aira menantang.


Mondy menoleh tanpa melepaskan pegangan di pergelangan tangan Aira.


"Panggil saja, Pak. Biar saya menemuinya," jawab Mondy dengan tenang.


Aira menggeleng tegas. "Jangan, Om. Om pulang aja, jangan main-main sama pak Toro." Cegah Aira.


"Nggak apa-apa, Ai. Kamu nggak usah khawatir," balas Mondy lembut.


Ayu mengepalkan tangannya melihat Aira begitu dibela oleh pria setampan Mondy. Ia iri, ia ingin Mondy menjadi miliknya.


"Sebenarnya anda siapa, kenapa sangat membela Aira?" tanya Ayu dengan nafas yang menggebu-gebu.


"Siapapun saya, itu bukan urusan anda. Saya datang kesini untuk menjemput Aira, maka saya akan kembali harus bersama dia." Jawab Mondy cuek.


Ditengah-tengah perdebatan antara Mondy, Aira dan keluarganya. Tiba-tiba datang 3 orang laki-laki, dimana satu diantaranya adalah kakek tua.


"Ada apa ini?" tanya pria tua itu seraya masuk ke dalam rumah Aira.

__ADS_1


"Tuan Toro, selamat datang. Mari duduk," tutur bapak Aira begitu ketakutan.


Pria tua bernama Toro itu tidak menggubris, ia malah menatap Aira yang saat ini tangannya di pegang pria lain.


"Siapa kau, berani-beraninya menyentuh calon istriku?" tanya pak Toro seraya menunjuk Mondy dengan tongkatnya.


Aira memegang tangan Mondy dengan perasaan takut.


"Saya siapa itu bukan urusan anda." Jawab Mondy dengan begitu berani.


"Berani sekali kau, ingin mati disini hah!" salah satu pria kekar yang datang bersama Toro itu bicara.


Aira menggeleng, ia menarik tubuh Mondy ke belakang tubuhnya yang jelas-jelas lebih kecil.


"Jangan, Tuan. Dia tidak bersalah, dia akan pulang. Tolong jangan sakiti dia," pinta Aira.


Mondy tersenyum tipis, ia menarik Aira hingga gadis itu kembali berdiri di sebelahnya.


"Saya datang untuk menjemput Aira, dan tidak ada seorangpun yang bisa menahan saya." Ucap Mondy tegas.


"Pak Toro, habisi saja dia. Dia sudah berani memeluk Aira," ibu Aira bicara dan langsung menjadi kompor.


"Ibu!" tegur Aira dengan tatapan tidak menyangka.


"Kau salah bermain-main dengan Toro, kau tahu tidak bahwa keluarga gadis itu memiliki hutang sebanyak 200 juta?" tanya Toro dengan nada sombong.


"Hanya 200 juta?" tanya Mondy enteng.


"Saya akan berikan 500 juta. 200 juta hutang anda, dan sisanya …" Mondy menggantung ucapannya.


"Saya akan berikan kepada keluarga ini, asal kalian jangan pernah mengganggu hidup Aira lagi." Tambah Mondy pada seluruh keluarga Aira.


Aira melototkan matanya, ia menoleh ke arah Mondy yang begitu enteng saat mengucapkannya.


"Om?" tegur Aira dengan tatapan tidak menyangka.


Keluarga Aira tampak berbinar mendengar nominal yang Mondy sebutkan, terutama Ayu yang gila berbelanja.


"Baiklah, bawa saja Aira." Ucap ibunya Aira penuh senyuman.


"Sialann!!!" Pak Toro mengumpat mendengar ucapan ibunya Aira.


"Aku tidak mau, aku hanya ingin Aira menikah denganku." Ucap Toro dengan tegas.


"Tidak bisa, Pak. Kami akan membayar hutang kami sampai lunas, anda tidak bisa lagi memiliki Aira. Aira akan menikah dengan pria itu." Timpal bapaknya Aira.


Pak Toro mengerem kesal, ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Aira dan keluarganya.


"Jadi, Nak? Kapan mau pernikahannya? Besok?" tanya ibunya Aira merayu.


Mondy tidak menjawab, ia hanya diam dengan tangan yang terus memegangi pergelangan tangan Aira.

__ADS_1


OM MONDY BANYAK UANG🤣


Bersambung..........................


__ADS_2