
Tristan sampai di rumah keluarganya, dan ternyata disana ia telah ditunggu oleh kedua orang tua dan juga Linda, istrinya.
Tristan menghela nafas sebelum duduk di sebelah Linda. Melihat tatapan dari kedua orang tuanya membuat ia tahu bahwa ada yang tidak beres.
Tristan yakin jika Linda telah bicara sesuatu yang buruk tentangnya.
"Kenapa papa memintaku pulang cepat?" tanya Tristan langsung ke poin nya.
Papa Jaya menatap putranya dengan datar, namun menusuk. Ia bahkan meniti penampilan putranya dengan penuh selidik.
Tristan sendiri berusaha biasa saja, ia sudah terbiasa dengan tatapan tajam itu.
"Awalnya papa memintamu pulang cepat untuk bertanya tentang perceraian mu dan Linda, apa sudah dibatalkan atau belum." Jawab papa Jaya dengan suara tegasnya.
"Tapi sekarang tidak." Tambah papa Jaya.
Kening Tristan mengkerut, ia tidak tahu apa yang akan dibahas oleh kedua orang tuanya sampai harus melibatkan Linda juga disana.
Secara tiba-tiba, papa Jaya melemparkan puluhan foto ke depan wajah Tristan, dan berhasil membuat putranya itu terkejut.
Tristan memejamkan matanya sesaat, ia lalu menunduk dan mengambil salah satu foto yang berjatuhan di pantai.
Tristan terkejut, namun ia berusaha biasa saja. Pria itu lalu melirik Linda yang tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Apa ini, Tristan!" bentak mama Saras dengan emosi yang meletup-letup.
Tristan menghela nafas, ia meletakkan foto yang tadi ia ambil ke atas meja.
"Itu fotoku, Ma." Jawab Tristan dengan tenang.
Jawaban Tristan yang terkesan tenang dan santai sontak membuat Linda merasa kesal. Bukan ini yang ia harapkan, ia ingin suaminya itu ketakutan dan menyesali perbuatannya.
"Jawab yang benar!" bentak papa Jaya dengan mata terbuka lebar.
Tristan menggaruk pelipisnya sebentar, ia lalu menatap kedua orang tuanya.
"Ya, aku selingkuh." Kata Tristan dengan nada yang terdengar bangga.
"Dan kau bangga, hah? Kau bangga telah mengkhianati istrimu?" tanya mama Saras aneh.
"Papa nggak tahu dimana otak kamu, sampai-sampai kamu memilih untuk mengkhianati istrimu, Tristan." Kata papa Jaya dengan nada tidak bersahabat.
Tristan melirik Linda, ia menatap wanita itu seakan memberi kode kepada wanita tersebut bahwa Linda salah bermain-main dengannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah selingkuh jika Linda adalah wanita yang baik." Ujar Tristan dengan begitu santai.
Linda melototkan matanya, ia menatap pria itu dengan penuh rasa takut. Bahkan bulir keringat mulai muncul di keningnya.
"Maksud kamu apa! Dia wanita yang baik, mama sengaja memilihnya untuk menjadi istri kamu." Sahut mama Saras.
"Jangan melemparkan kesalahan kamu kepada orang lain, Tristan." Tegur papa Jaya.
Tristan tersenyum remeh, ia merogoh kantung jas miliknya lalu mengeluarkan ponselnya dari sana.
Tristan memutar salah satu video kemudian memberikannya kepada kedua orang tuanya itu.
Tristan sudah tidak bisa lagi menahannya, ia tidak mau jika hanya dirinya dan Alea yang salah di mata kedua orang tuanya. Mereka juga harus tahu jika Linda jauh lebih bersalah.
Mama Saras dan papa Jaya tampak saling menatap, mereka berdua terkejut melihat apa yang sedang mereka lihat sekarang.
Linda Senofita, menantu yang mereka banggakan selama ini sedang melakukan hubungan suami istri dengan pria yang jauh lebih tua darinya.
"Ma, pa. A-aku, aku bisa menjelaskan ini." Ucap Linda dengan suara terbata.
Kedua mertuanya menatap Linda dengan tatapan tidak percaya, hal itu semakin membuat Linda merasa panik dan ketakutan.
Linda bangkit dari duduknya, ia berusaha menggapai tangan ibu mertuanya, namun mama Saras menolak.
"Jangan menyentuh saya!" bentak mama Saras, enggan mendekati menantunya.
"Papa nggak nyangka kamu seperti itu, Linda. Kamu menjual diri kamu?" tanya papa Jaya dengan kepala menggeleng berulangkali.
"A-aku, aku bisa jelaskan." Jawab Linda terbata-bata.
Tristan tersenyum meremehkan, ia yakin sekali bahwa Linda akan membuat alasan yang akan menyalahkan dirinya.
"Aku bisa apa, Pa? Disaat aku memiliki suami, tapi suamiku tidak pernah memberikan apa yang aku butuhkan." Kata Linda mendramatisir.
"Maksud kamu apa?" tanya Mama Saras.
Tristan tersenyum remeh, apa yang ia pikirkan ternyata benar. Linda akan membuat alasan untuk menjatuhkannya.
"Tristan tidak pernah menyentuhku, Ma, Pa. Dia tidak pernah memberiku nafkah batin!" jawab Linda dengan berderai air mata.
Papa Jaya dan mama Saras terkejut, mereka berdua menatap Tristan yang malah tertawa dengan tatapan remeh ke arah Linda.
"Bagus, sangat bagus jawaban mu." Ucap Tristan seraya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Tristan menaruh kedua tangannya di kantong celana, kemudian menatap Linda yang sedang berlutut di depan kedua orang tuanya untuk memohon ampun.
"Aku tidak pernah sudi menyentuh Linda, karena dia sudah sering dinikmati oleh banyak pria, Ma!" tambah Tristan dengan nada semakin tinggi.
"Tapi perbuatan kamu juga tidak dibenarkan, kalian berdua sama-sama bersalah." Balas Mama Saras pelan.
"Tidak, Ma. Aku tidak akan pernah berkhianat jika saja wanita yang mama pilih untuk menjadi istriku adalah wanita baik-baik." Timpal Tristan tidak terima.
Tristan tidak akan mau di salahkan, karena ia sudah berusaha untuk menerima Linda, tapi apa yang ia dapatkan.
Sebuah fakta bahwa Linda adalah wanita panggilan, bahkan saat mereka sudah menikah pun Linda masih tetap melakukan aktivitasnya itu.
"Bahkan sampai hari ini pun, wanita ini masih menjual dirinya." Tekan Tristan menunjuk wajah Linda.
"TRISTAN!!" bentak Linda seraya bangkit dan berdiri di depan Linda.
"Jika kamu sekali saja mengganggap aku ada, aku pasti sudah meninggalkan pekerjaan itu." Kata Linda tidak terima jika dirinya di salahkan.
Telak, di depan kedua mertuanya Linda telah mengakui kesalahannya tanpa sadar. Mulut wanita itu bicara bahwa dirinya memang menjual diri.
Tristan tersenyum remeh, ia memijat pelipisnya. Tristan berusaha untuk sabar dan tidak memukul wajah Linda dengan tangannya.
"Sejak awal pernikahan aku akui bahwa aku masih mencintai masa laluku, tapi aku berusaha menerima mu. Aku berusaha untuk mencintaimu, Linda." Ujar Tristan jujur.
"Tapi suami mana yang akan sudi menerima wanita yang sudah pernah disentuh banyak pria, mungkin tidak masalah jika dilakukan sebelum pernikahan saja, tapi kau melakukannya terus menerus bahkan sampai hari ini." Tambah Tristan panjang lebar.
Tristan menatap kedua orang tuanya yang sedang berusaha untuk saling menenangkan. Bahkan papa Jaya sedang mengusap bahu istrinya yang terlihat sedang memegangi dadanya.
"Bukan hanya itu, Linda bahkan masih berhubungan dengan mantan kekasihnya." Ucap Tristan dengan penuh penekanan.
Mama Saras menatap Linda, ia sangat kecewa karena telah begitu mempercayai Linda. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang ia pilih sebagai menantu bukan gadis baik-baik.
"Mama nggak nyangka, Linda. Mama sangat kecewa sama kamu!" kata mama Saras sambil memegangi dadanya.
Mama Saras meringis seraya mencengkram bajunya di bagian dada. Ia memiliki riwayat penyakit jantung akut, dan itu selalu kambuh jika mendengar sesuatu yang mengejutkan.
"Ma!!" panggil Tristan panik.
Inilah alasan Tristan selalu menahan diri untuk berkata yang sebenarnya tentang Linda, ia takut penyakit sang mama kambuh dan malah membahayakan nyawanya.
"Tristan, bawa mama kamu ke rumah sakit." Ucap papa Jaya.
Tristan segera menggendong sang mama dan membawanya keluar. Mereka harus membawa mama Saras ke rumah sakit.
__ADS_1
MATI KAU LINDA 😬😬
Bersambung...............................