
Satu minggu sudah berlalu. Aira sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah jauh lebih baik, hanya perlu istirahat yang cukup di rumah.
Tristan dan Alea juga ada di rumah sakit untuk membantu Aira pulang, namun disini Mondy lah yang berperan lebih banyak.
"Kau yakin?" tanya Tristan pada asisten pribadinya.
Mondy baru saja mengatakan bahwa Aira akan tinggal bersamanya sampai gadis itu sembuh. Alasan apa yang Mondy buat untuk menyakinkan Alea dan Tristan yang tampak ragu?
"Yakin, Tuan. Saya tidak mau jika dia sampai kabur tanpa bertanggung jawab pada punggung saya yang telah ia buat patah." Jawab Mondy.
Alea menatap Mondy aneh. "Tapi anda terlihat baik-baik saja." Sahut Alea bingung.
"Benar, Nona. Saya sudah mengatakan itu sebelumnya, tapi–" Ucapan Aira terhenti saat dirinya merasa bahwa Mondy kini menatapnya.
"Eeee … maksud saya, benar Nona. Saya harus bertanggung jawab untuk membuat pak Mondy baik-baik saja." Ralat Aira buru-buru.
Entah kenapa Aira itu sangat ketakutan pada Mondy. Padahal jelas-jelas ia merasa ditipu disini. Mana ada orang patah tulang tapi tampak baik-baik saja.
"Pak Mondy, anda tidak akan memperbudak Aira kan nantinya. Maksud saya, jangan suruh dia beres-beres rumah ya, karena dia kan belum sembuh." Kata Alea mengingatkan.
"Tentu saja, Nona. Saya tidak akan menyuruh Aira untuk beres-beres rumah, saya akan suruh dia menggali sumur." Balas Mondy berbisik di akhir kalimatnya.
Posisi Aira yang cukup dekat dengan Mondy tentu membuatnya bisa mendengar ucapan pria itu barusan. Sontak Aira langsung melototkan matanya.
"Pak Mondy, anda–" Ucapan Aira yang hendak protes terhenti karena Mondy menepuk-nepuk punggungnya.
Aira langsung diam. Disini ia merasa seperti sedang diperintah oleh Mondy. Belum lagi dirinya sudah seperti kriminal saja sampai-sampai harus tinggal bersama pria itu sampai dirinya sembuh.
"Baiklah, jika Aira saja setuju, kami juga setuju. Ingat kata-kata istriku," ucap Tristan mengingatkan.
"Baik, Tuan." Balas Mondy sopan.
Tristan menatap istrinya, ia lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
"Kita pulang, Sayang. Aira akan aman bersama Mondy," tutur Tristan lembut.
__ADS_1
Alea manggut-manggut, ia membalas senyuman suaminya yang sangat manis dan menambah ketampanan nya.
"Duh, Tuan. Saya tidak akan aman bersamanya. Saya bisa mati jika ada dengannya." Batin Aira meringis kecil.
"Aira." Panggil Alea lembut dan ramah.
Aira mengangkat wajahnya, ia menatap wajah cantik majikannya itu dengan sopan.
"Ya, Nona?" sahut Aira tidak kalah lembut.
"Jaga dirimu baik-baik ya, katakan padaku jika kau mendapatkan kesulitan." Tutur Alea.
Kepala Aira mengangguk-angguk. "Tentu, Nona." Balas Aira.
Alea dan Tristan pun pergi meninggalkan Aira dan Mondy. Mereka mempercayakan semuanya kepada Mondy, dan semoga saja dia tidak salah.
Sepeninggalan Tristan dan Alea, Aira langsung menatap penuh permusuhan pada Mondy.
"Pak, eh maksudnya om. Sampai kapan saya duduk disini, sampai rumah sakit ini tutup?" tanya Aira mendongakkan kepalanya.
"Rumah sakit mana yang ada tutupnya?" tanya Mondy mengangkat sebelah alisnya.
"Ada, rumah sakit yang sudah bangkrut." Jawab Aira sewot.
Mondy menghela nafas, ia memijat pelipisnya. Pusing sekali meladeni bocah kecil seperti Aira ini.
"Om!" panggil Aira melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Mondy.
Mondy lagi-lagi hanya diam, namun kali ini malah membuat gerakan secara tiba-tiba, bahkan sampai membuat Aira memekik.
"Om!!!!" pekik Aira heboh saat Mondy tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.
Mondy memejamkan matanya, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali saat merasakan gendang telinganya hampir pecah.
"Kamu mau membuat gendang telinga saya pecah, hah!" ujar Mondy melototkan matanya.
__ADS_1
Aira mendelik, ia lalu memajukan wajahnya untuk melihat ke arah telinga Mondy.
"Telinga ada gendangnya ya, Om? Kaya dangdut ya?" tanya Aira usil.
Mondy memejamkan matanya, ia merasakan hembusan nafas hangat gadis itu yang mengenai lehernya.
"Aira, menjauh lah sebelum saya lempar kamu sekarang." Pinta Mondy penuh penekanan.
Aira menjauhkan wajahnya, ia menatap Mondy dengan tatapan tidak suka. Antara kesal dan emosi, semuanya campur aduk.
"Turunin aku, Om. Lagian siapa suruh sih gendong orang tiba-tiba, emang saya karung." Ujar Aira sewot.
Mondy geram, namun ia tidak bicara apapun dan langsung membawa Aira keluar dari kamar rawatnya.
Ya, Mondy memilih untuk menggendong Aira daripada gadis itu memakai kursi roda. Entah apa tujuannya, Mondy sendiri tidak tahu.
Aira yang takut jatuh lantas melingkarkan tangannya di leher Mondy, ia yang juga memiliki tubuh mungil seakan habis tenggelam di badan Mondy yang proporsional.
"Om, orang-orang lihatin kita." Cicit Aira malu-malu.
"Mereka punya mata, jadi bebas menatap apa saja." Balas Mondy singkat dan terdengar cuek.
Ya, Aira malu karena orang-orang yang berpapasan dengan mereka langsung melihat ke arahnya yang digendong pria setampan Mondy.
Namun Mondy? Pria itu tampak cuek-cuek saja, ia tidak mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Om, turunkan ya. Aku malu," bisik Aira.
"Buang rasa malumu atau kamu yang saya buang?" tanya Mondy tanpa menatap Aira.
Aira menghela nafas, ia akhirnya memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada bidang Mondy, daripada dirinya dilempar jauh oleh pria tidak berperasaan itu.
MAKIN LENGKET NGGAK SIH?
Bersambung...........................
__ADS_1