
Aira melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah utama untuk berpamitan dengan tuan dan nonanya. Ia sudah memutuskan bahwa ia akan pulang ke kampung dan meninggalkan semuanya.
Semuanya. Cinta, harapan, air mata, tawa dan kenangan yang ia dapatkan disini terutama saat bersama Mondy. Aira akan meninggalkan semua itu.
Aira akan kembali ke kampung sebagai sosok gadis lemah seperti sebelumnya, dan kalaupun ia akan di nikahkan dengan seorang kakek-kakek, maka Aira tidak akan lari dan menolaknya lagi.
"Permisi, Tuan dan Nona." Sapa Aira dengan sopan.
Aira cukup beruntung karena Alea dan Tristan ada di ruang tamu sehingga ia tidak perlu repot-repot datang ke kamar mereka.
"Aira, kemarilah." Tutur Alea dengan penuh senyuman.
Aira lekas mendekat, ia berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari majikan nya itu.
"Apa yang membuatmu datang kesini, apalagi dengan membawa tas?" Tanya Tristan mengerutkan keningnya.
Alea melihat ke bawah, ia baru sadar jika Aira membawa tas setelah Tristan bicara barusan. Alea bangkit dari duduknya lalu mendekati Aira.
"Ai, ada apa?" Tanya Alea dengan lembut.
Aira tersenyum, ia meletakkan tas miliknya di lantai lalu memegang tangan Alea dengan ragu-ragu. Aira takut akan dimarahi karena asal menyentuh nona di rumah ini.
"Nona, saya mau pamit. Saya mau pulang ke kampung," jawab Aira dengan penuh senyuman.
"Pulang? Bukankah kamu masih punya urusan dengan pak Mondy?" Tanya Alea mengerutkan keningnya bingung.
Aira masih tersenyum, kepala gadis itu lalu menggeleng mendengar pertanyaan dari Alea.
"Tidak, Nona. Semuanya sudah selesai, makanya saya mau pulang." Jawab Aira.
Bahkan semua ini selesai sejak lama, namun ia dengan polosnya percaya jika tulang punggung Mondy benar-benar retak.
__ADS_1
Tristan ikut bangkit, ia sejak tadi hanya menjadi pendengar obrolan antara istri dan asisten rumah tangganya itu.
Tristan lalu mendekat, berdiri di sebelah Alea dengan kedua tangan yang berada di kantong celana miliknya.
"Jadi kau kesini untuk pamitan?" tanya Tristan.
"Benar, Tuan." Jawab Aira manggut-manggut.
Tristan merogoh saku belakang dicelana miliknya, ia lalu mengambil dompet dan memberikan beberapa lembar uang pada Aira.
"Ambilah, untuk peganganmu. Dan ya, Alea juga sudah menyiapkan sesuatu untukmu sebagai hadiah selama bekeja disini." Ucap Tristan.
Aira menggeleng, ia menolak pemberian majikannya itu.
"Tidak, Tuan. Saya tidak bisa menerima uang ini apalagi hadiah selama bekerja, selama ini saya kan hanya buat kerusakan saja." Tolak Aira.
Alea memegang bahu Aira. "Ambil, Ai. Mungkin kau akan butuh nanti," tutur Alea.
Alea lalu memberikannya kepada Aira. "Ambilah, aku berharap kau suka." Kata Alea.
Aira ragu, namun akhirnya ia menerima pemberian Tristan dan juga Alea. Ia sejujurnya malu, tapi mau bagaimana pun ia juga butuh.
"Kamu hati-hati ya, Ai. Aku berharap kita bisa bertemu lagi," ucap Alea dengan raut wajah sedih.
"Iya, Nona. Saya sangat berterima kasih pada tuan dan nona atas semua bantuan kalian selama saya disini." Balas Aira tidak kalah sedih.
"Saya nggak bisa balas kebaikan tuan dan nona dengan uang, jadi saya berdoa semoga kalian selalu bahagia dan nona bisa melahirkan dengan lancar." Tambah Aira dengan tulus.
Alea langsung memeluk Aira, ia mendekap tubuh gadis itu cukup erat sebagai salam perpisahan mereka.
Walaupun Aira adalah seorang asisten rumah tangga, tapi Alea tidak pernah menganggap gadis itu pembantu. Alea malah menganggap bahwa Aira adalah seorang teman, karena itulah ia akan merasa kehilangan setelah Aira pergi.
__ADS_1
Usai berpamitan, Aira pun mengambil tas yang tadi ia letakkan di lantai. Saat Aira hendak membalik badan dan pergi, Tristan tiba-tiba bicara dan mencegahnya.
"Aira, mau mau pulang sekarang?" Tanya Tristan.
"Iya, Tuan. Saya harus segera pergi karena saya bisa ketinggalan–" ucapan Aira terhenti karena Tristan kembali bicara.
"Pulanglah dengan Mondy, kebetulan dia sudah datang." Tutur Tristan.
Aira kaget, ia lantas membalik badan dan melihat sosok pria yang ia hindari sejak kemarin ada disini. Tatapan pria itu tajam dan dingin seperti biasa, serta wajah tanpa ekspresi.
"Tuan, maksudnya apa?" tanya Aira gugup.
"Kamu pulang ke kampung diantar pak Mondy, Ai. Kamu akan diantar sampai ke tempat tujuan," jawab Alea memperjelas.
Aira menggeleng, ia tidak mau jika harus diantar oleh Mondy. Perjalanan berjam-jam bersama pria itu, ia pasti akan gemetaran sepanjang jalan.
"Tidak, Tuan. Saya bisa pulang sendiri, saya sudah pesan tiket." Ucap Aira dengan wajah panik.
"Pulang dengan Mondy, dia akan menjamin dirimu selamat sampai tujuan." Sahut Tristan cuek dan tidak melihat ke arah Aira sama sekali.
"Sudahlah, Ai. Lagipula, pulang dengan pak Mondy lebih aman." Tutur Alea ikut menyahut.
Aira akhirnya pasrah, ia tidak mungkin terus melawan orang yang sudah sangat baik padanya. Aira akan pulang diantar Mondy.
Tidak tahu diperjalanan akan seperti apa, yang jelas ia akan berusaha untuk menghindari bicara dengan pria itu. Maybe.
Sementara Mondy, sejujurnya ia kaget dengan semua ini. Niatnya datang ke rumah utama adalah untuk menanyakan apakah Aira sudah pamit atau belum, sebab gadis itu pergi tanpa bicara apapun setelah sejak kemarin menghindarinya.
Saat sampai di sana, ia justru malah diminta mengantar Aira balik ke kampungnya. Sebuah perintah yang sangat tiba-tiba.
"Apa yang akan aku lakukan saat bersamanya berjam-jam." Batin Mondy tanpa merubah ekspresi wajahnya.
__ADS_1
Bersambung..........................