Terpaksa Menjadi Pelakor

Terpaksa Menjadi Pelakor
Perlakuan manis Mondy


__ADS_3

Mondy kembali ke apartemen saat jam menunjukkan pukul 12 malam. Ia baru menyelesaikan urusannya dengan kedua orang tua Linda di markas, makanya baru kembali.


Mondy meninggalkan Aira bukan karena dirinya marah, melainkan karena pekerjaannya.


Saat sampai di apartemen, Mondy tidak melihat tanda-tanda Aira masih bangun. Tentu saja, istri kecilnya itu pasti sudah tidur.


"Pasti Aira sudah tidur." Gumam Mondy.


Mondy melangkah ke kamar, ia membuka pintu pelan-pelan agar tidak membuat istrinya terbangun. Benar dugaannya, Aira sudah tidur dengan posisi membelakanginya saat ini.


Mondy tersenyum, ia meletakkan ponsel dan kunci mobil di atas meja, lalu dirinya melangkah mendekati istrinya.


Mondy berlutut di sebelah ranjang, menatap wajah cantik Aira di tengah lampu kamar yang temaram.


Wajahnya yang putih alami, disertai bibir tipis menggoda dan bulu mata yang cukup lentik. Jangan lupa hidungnya yang sedikit mancung.


Mondy membayangkan, akan secantik apa anaknya dan Aira kelak. Pasti persis seperti ibunya.


"Kamu cantik sekali, Ai. Saya sangat mencintai kamu, saya akan lakukan apapun agar kamu percaya." Bisik Mondy lalu mencium kening Aira.


Mondy tersenyum lagi, ia mengusap-usap kepala Aira kemudian bangkit dari posisinya.


Mondy pun mengambil baju di dalam lemari, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Mondy hanya bersih-bersih sebentar, lalu lekas memakai pakaiannya dan keluar. Mondy ikut naik ke atas ranjang, lalu memeluk tubuh mungil Aira dengan erat.


"Malam, Aira." Ucap Mondy berbisik mesra.


Aira membuka matanya saat merasakan nafas Mondy yang sudah teratur. Ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Dada Aira terasa sesak mendengar ungkapan hati Mondy tadi.


Aira berusaha untuk menahan gemuruh di dadanya, ia ingin sekali percaya bahwa Mondy mencintainya. Tapi kata-kata kakak dan orang tuanya masih terngiang di kepalanya.


"Kamu hanya di beli olehnya, Ai. Dia tidak akan mungkin jatuh cinta padamu. Kau hanya seorang pelayan untuknya."


Diumur Aira yang masih muda, pikirannya pun belum dewasa. Ia masih dibilang remaja yang baru beranjak untuk dewasa.


Usianya baru 19 tahun, dan dia sudah harus berpikir dewasa. Belum, Aira belum bisa, ia masih membawa-bawa perasaan saat melakukan apapun. Aira masih labil dan polos.


"Jika om benar-benar mencintaiku, maka aku jauh lebih mencintai om." Lirih Aira lalu kembali memejamkan matanya.


Keesokan harinya, Mondy bangun duluan. Pria itu langsung sibuk di dapur dengan tujuan membuatkan sarapan pagi untuk istrinya.

__ADS_1


Mondy hanya membuat nasi goreng dan telur mata sapi, namun ia memberikan sedikit hiasan yang cukup romantis diatas makanan sederhana itu.


Mondy menggunakan tomat yang ia potong-potong lalu ia bolongi tengahnya membentuk huruf demi huruf.


Ia membuat kalimat 'sorry' dengan maksud meminta maaf pada istrinya. Mondy menyesal semalam telah membentak Aira, ia tidak pernah berniat untuk melakukan nya.


Selesai dengan nasi goreng, Mondy lalu membuatkan jus apel sebagai pendamping nasi goreng buatannya.


"Semoga kamu suka, Ai." Gumam Mondy penuh senyuman.


Tidak lama kemudian Aira datang dengan penampilan yang sudah rapi. Wanita itu berjalan mendekati dapur, lalu melempar senyuman tipis.


"Selamat pagi, Om." Sapa Aira sedikit canggung.


"Pagi, Sayang." Balas Mondy tidak kalah tersenyum.


Aira menatap Mondy dengan tatapan terkejut mendengar Mondy memanggilnya dengan sayang. Pertama kali Mondy memanggilnya sayang adalah saat mereka berhubungan malam itu.


"Aku harus memesak, Om. Om kenapa didapur, butuh sesuatu?" tanya Aira lembut.


Mondy menggeleng. "Nggak, Sayang. Sini duduk, aku udah buatin kamu sarapan spesial." Jawab Mondy seraya menarik tangan istrinya.


Lagi, Aira mendengar ada yang berbeda hari ini. Mondy menggunakan kata aku, dan bukan saya.


Mondy tersenyum, ia lalu mencium kening Aira tanpa permisi.


"Bisa mengubah panggilan kamu?" tanya Mondy balik.


Aira menatap Mondy dengan perasaan campur aduk, antara gugup dan malu. Panggilannya diubah, menjadi apa?


Aira bingung sehingga ia memilih untuk tidak menjawab. Aira mengambil sendok untuk mencicipi nasi goreng buatan suaminya.


Mondy menatap Aira penuh harapan, ia sangat berharap Aira akan menyukai makanan buatannya.


"Tidak enak ya?" tanya Mondy sedih saat melihat Aira terdiam.


Aira menggeleng, lalu ia tersenyum. "Sangat enak, om pintar masak ternyata." Jawab Aira dengan jujur.


"Benarkah?" tanya Mondy penuh semangat.


Aira memberikan anggukkan kepala sebagai jawaban, lalu ia kembali menikmati sarapannya.

__ADS_1


"Om mau?" tawar Aira menyodorkan sesendok nasi goreng ke depan mulut Mondy.


Mondy membuka mulutnya, menerima suapan dari istri kecilnya yang cantik ini.


"Hmm, enak." Ucap Mondy mengakui jika masakannya enak.


Aira kembali menyantap nasi goreng itu, lalu menyuapi Mondy. Pasangan suami istri itu makan sepiring berdua.


"Ai, hari ini aku libur. Bagaimana jika kita jalan-jalan?" usul Mondy.


Aira yang sedang mencuci piring dan merapikan kekacauan yang suaminya buat menyahut dengan kedua bahu yang diangkat.


"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Aira tanpa menatap suaminya.


"Kemanapun, terserah kamu." Jawab Mondy.


"Katakan padaku, tempat mana yang sedang ingin kamu kunjungi." Tambah Mondy dengan penuh semangat.


"Aku? Tidak tahu. Aku belum terlalu hafal dengan kota ini," kata Aira yang masih asik bermain air di wastafel padahal cucian piringnya telah selesai.


Mondy berjalan mendekati Aira, ia lalu memeluk tubuh mungil istrinya itu dari belakang. Dagunya ia jatuhkan di bahu istrinya, dengan tangan yang semakin erat melingkar.


"Ai, katakan saja kemana yang kamu mau. Disini atau diluar kota, aku ingin mengajakmu ke tempat yang paling kamu inginkan." Bisik Mondy dengan begitu mesra.


Aira memejamkan matanya, ia bahkan sesekali menggerakkan kepalanya sebagai respon bahwa ia geli dengan nafas Mondy di lehernya.


"A-aku, aku tidak tahu." Uap Aira dengan sedikit terbata karena menahan geli.


Mondy tersenyum, ia mencium bahu Aira sebentar lalu melepaskan pelukannya.


"Baiklah, aku yang akan menentukan kemana kita akan pergi. Hanya kali ini, lain kali kamu yang harus menentukannya." Ucap Mondy pada sang istri.


Aira membalik badan, ia menahan Mondy lalu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan mengganti pakaianku dulu." Balas Aira hendak pergi, namun Mondy malah menarik tangannya.


Aira memejamkan matanya saat Mondy mencium bibirnya. Singkat, tapi sangat berkesan dan berhasil membuat jantungnya bergetar.


"Morning kiss, Sayang." Ucap Mondy dengan suara pelan.


OM MONDY ISTIGHFAR 😭😭

__ADS_1


Bersambung............................


__ADS_2