
Mondy menatap atasannya dengan tatapan melongo tatkala melihat bagaimana penampilan Tristan saat ini.
Baik Mondy, maupun Aira nyaris tertawa terbahak-bahak melihat Tristan sedang memasak dengan kostum yang Mondy beli dengan susah payahnya.
Mondy tidak menyangka jika perintah yang Tristan berikan untuk membeli kostum akan digunakan seperti ini.
"Aira, haha lihatkan. Suamiku sangat lucu dengan pakaian itu." Celetuk Alea sambil mengusap-usap perutnya.
Aira hanya manggut-manggut, tak kuasa untuk sekedar menyahut ya, ia takut Tristan akan tersinggung.
"Eh, Ai. Lehermu kenapa?" tanya Alea menunjuk leher Aira yang marah-marah.
Aira yang tadi ingin tertawa, kini berubah tegang. Bahkan Mondy yang mendengar pertanyaan Alea langsung menoleh ke arah dua wanita itu.
"Hah, oh ini … eum saya alergi, Nona." jawab Aira berbohong.
Aira tidak tahu harus menjawab apa, ia takut karena Mondy sendiri belum mengakuinya sebagai istri pada Tristan dan Alea.
Kening Alea mengkerut, tatapannya terlihat curiga dan kurang percaya akan jawaban yang Aira berikan.
Sebagai orang yang sudah menikah, tentu Alea tahu jelas alasan kenapa leher gadis itu bisa merah-merah.
"Kau apakah dia, Mon?" bukan Alea yang bertanya, melainkan Tristan.
Pria itu bertanya sambil menata nasi goreng buatannya di atas piring. Ia sejak tadi mendengarkan pembicaraan istrinya, termasuk saat Alea mengatakan soal leher Aira.
Mondy yang ditanya tampak biasa saja, ia berdehem lalu mengantongi kedua tangannya di saku celana.
"Om Mondy, eh maksud saya. Dia tidak melakukan apapun pada saya, Tuan." Aira menjawab dengan nada ketakutan.
Alea memegang bahu gadis muda yang cantik itu. "Ai, jika Mondy salah katakan saja. Kamu tidak perlu takut," tutur Alea lembut.
Tristan membuka apron yang dikenakan olehnya, lalu ia berjalan mendekati sang istri sambil membawa nasi goreng buatannya.
"Kita bicarakan soal ini nanti, sekarang makanlah dulu." Tutur Tristan pada istrinya dengan sangat lembut.
Alea tersenyum penuh arti, ia menghargai usaha suaminya dengan menurut. Ia akan makan dulu dan bicara soal Mondy nanti.
Sementara Aira terlihat khawatir, ia takut Mondy akan marah. Aira lupa untuk menutupi tanda di lehernya, Mondy juga kenapa tidak bilang saat mereka keluar tadi.
Aira meremat dress yang digunakannya, ia melirik ke arah Mondy yang masih memasang wajah biasa-biasa saja.
"Bagaimana, enak?" tanya Tristan sambil mengusap puncak kepala istrinya.
"Banget, terima kasih mas." Jawab Alea dengan jujur.
Tristan tersenyum senang, ia menunduk dan langsung memberikan kecupan di kening Alea, tanpa mau peduli pada Aira dan Mondy yang masih ada di sana.
Selesai Alea makan, mereka semua punya pergi ke ruang tamu untuk bicara masalah Mondy dan Aira.
"Jadi, Mon. Jujur padaku apa yang telah kau lakukan?" tanya Tristan memulai pembicaraan.
"Begini, Tuan–" ucapan Mondy terhenti karena sebuah suara yang begitu lantang.
"TRISTAN!!!!" teriak seorang wanita dengan penuh amarah.
Wanita itu datang bersama pria yang sedikit berusaha untuk menenangkan wanita yang masih asik berteriak.
__ADS_1
Nafas wanita itu terlihat menggebu-gebu dengan wajah mereka penuh emosi.
Tristan menghela nafas, ia sangat mengenal siapa wanita yang berani-beraninya masuk ke dalam rumahnya.
Tristan melirik Mondy, ia memberikan kode pada asistennya itu untuk mengurus dua manusia tidak berguna itu.
"Berhenti berteriak, Nyonya." Ucap Mondy dengan suara tenang dan datar.
"Diam kau! Kau hanya asisten tidak berguna, aku ingin bicara dengan Tristan." Balas wanita itu yang tak lain adalah ibunya Linda.
Mondy menatap malas dua orang itu. Anaknya sudah tiada, tapi orang tuanya masih saja berbuat kerusuhan.
"Pergi, Nyonya. Saya bisa bersikap kasar jika anda tidak mau menurut." Ucap Mondy dengan tenang.
Ibu Linda itu mendorong Mondy, namun tidak sampai membuat Mondy goyah.
"Mondy, biarkan dia bicara." Kata Tristan setelah malas mendengar geraman-geraman aneh dari wanita tua itu.
Tristan memijat pelipisnya, ia melirik Alea yang terlihat bingung saat ini.
"Tuan dan Nyonya, ada apa kalian ke rumah saya?" tanya Tristan dengan suara yang terdengar tidak bersahabat.
"Kembalikan putri kami." Ayah Linda akhirnya bicara setelah sejak tadi diam.
"Kau membunuhnya kan, kau membuat putriku tiada kan!!" sarkas ibu Linda dengan suara begitu lantang.
Tristan menghela nafas, ia terlihat sangat tenang begitupula dengan Mondy. Keduanya sudah tahu ini semua akan terjadi, jadi mereka biasa saja.
"Putri kalian? Bahkan saya tidak pernah berurusan lagi dengan wanita murahan itu." Ucap Tristan.
"Putri kalian adalah seorang wanita bayaran, dan kalian mendukung pekerjaannya itu kan. Siapa tahu salah satu pelanggannya telah menculik, lalu membuangnya entah kemana." Tambah Tristan.
"Silahkan, tidak ada bukti yang mengarah kepada saya." Balas Tristan.
Ibu Linda lalu menatap Alea. "Dan kau, dasar wanita murahan. Aku berdoa semoga kau dan anakmu tiada." Ucap ibu Linda dengan menggebu-gebu.
Alea memeluk perutnya, ia terlihat ketakutan dan itu membuat Tristan sigap memeluk istrinya.
Mondy memanggil penjaga rumah untuk bantu mengusir kedua orang tua Linda yang membuat rusuh dan berani menyumpahi nyonya rumah ini.
Namun saat hendak di seret keluar, ibu Linda mengambil vas bunga yang ada di sana lalu melemparkannya ke arah Mondy.
"Om!!" teriak Aira buru-buru mendekati suaminya itu.
Aira berhasil menyelamatkan Mondy, namun bahunya sedikit terkena sampai vas itu mendarat ke lantai dan pecah.
"Ai, apa yang kamu lakukan?" tanya Mondy kaget.
Mondy memegang bahu istri kecilnya, ia memeriksa apakah dia terluka atau tidak. Syukurlah tidak terluka parah.
"Sakit kan, Ai?" tanya Mondy pelan.
Aira menggeleng. "Nggak kok, ini jauh lebih baik daripada vas itu mendarat di kepala om." Jawab Aira lembut.
Mondy memegang wajah istrinya sebentar, ia lalu bangkit dan menghampiri wanita gila yang hampir membuatnya terluka.
"Bawa mereka ke markas, saya akan mengurusnya." Ucap Mondy pada dua pria berbadan besar anak buah Tristan.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Balas pria itu.
"Tidak! Lepaskan aku. TRISTAN, aku bersumpah kau akan kehilangan semua kebahagiaanmu!!" teriak ibu Linda sebelum akhirnya dibawa keluar dari rumah.
Setelah kedua orang tua Linda di bawa pergi, keheningan menyerang. Alea masih memeluk tubuh suaminya dengan perasaan takut.
"Aku takut mereka akan melukai anakku lagi." Cicit Alea dengan suara bergetar.
"Nggak akan, Sayang. Ada aku, mereka akan aku urus." Sahut Tristan lembut.
Sementara itu Mondy, ia memegang kedua bahu Aira dan membantunya untuk berdiri.
"Saya akan obati luka kamu ya, pasti sakit sekali. Vas itu cukup keras, Ai." Ucap Mondy terlihat khawatir.
"Mon, urusan kita belum selesai." Ucap Tristan yang mendengar suara asistennya itu bicara dengan Aira.
Mondy menatap Tristan, kini Alea pun tampak ikut pemasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Aira.
"Ai, jika kamu takut pada Mondy, kemarilah." Ucap Alea lembut dan penuh pengertian.
Mondy menghela nafas, tangannya masih setia merangkul bahu istri kecilnya.
"Tuan, Nyonya. Aira ini istri saya, saya menikahinya secara sah." Ucap Mondy dengan begitu enteng dan tenang.
"APA!!" pekik Alea melototkan matanya.
Alea terkejut, namun Tristan terlihat biasa saja. Ia malah hanya berdehem.
"Jadi ini alasanmu lama membawa Aira kemari, kau menikahinya. Apa kau mencintainya makanya berani untuk menikahinya?" tanya Tristan.
Mondy hendak berucap, namun sudah keduluan oleh Aira.
"Tidak, Tuan. Om Mondy menikahi saya hanya karena dia telah memberikan banyak uang kepada keluarga saya." Jawab Aira dengan cepat.
"S-saya, saya telah dijual oleh keluarga saya dan dibeli oleh om Mondy." Tambah Aira dengan suara yang sedikit sesak.
Jawaban Aira kali ini membuat ketiga orang itu syok, terutama Mondy. Ia kaget mendengar penuturan istrinya barusan.
"Ai, apa yang kamu katakan?" tanya Mondy terkejut.
Aira menggeleng, ia hanya tidak mau mendengar Mondy secara langsung mengatakannya karena itu rasanya pasti akan jauh lebih sakit. Sebab itulah Aira duluan yang menjawab.
"Ai, apa benar keluargamu menjualmu?" tanya Alea berjalan mendekati Aira.
"Benar, Nona. Awalnya saya di jodohkan dengan laki-laki tua karena hutang keluarga saya, tapi om Mondy menolong dengan memberikan uang lebih banyak kepada keluarga saya." Jawab Aira menjelaskan.
Alea langsung menarik Aira ke dalam pelukannya. Ia tidak menyangka jika masih ada orang yang lebih menyedihkan daripada dirinya.
"Sabar ya, Ai. Kau jangan khawatir, aku siap menolongmu kapan saja." Bisik Alea dengan tulus.
Aira hanya tersenyum sambil membalas pelukan nona mudanya itu.
Sementara Mondy memperhatikan Alea dengan penuh tanya, ia masih belum mengerti kenapa Alea bicara demikian.
"Apa yang kamu katakan, Ai." Batin Mondy bertanya-tanya.
NAH KAN, BARU TAHU KAMU OM BAGAIMANA AIRA MENGANGGAP DIRINYA BARANG YANG KAMU BELI 😕
__ADS_1
Bersambung..................................